Minggu, 19 Maret 2017

makalah filosofi tentang hakikat pendidikan

FILOSOFI TENTANG HAKIKAT PENDIDIKAN
       I.            PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Ditengah arus kemajuan zaman yang sedemikian pesat, tak pelak lagi pendidikan menjadi suatu keharusan agar seseorang dapat bertahan dan mempertahankan eksistensinya ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Bagi sebuah negara, pendidikan juga merupakan salah satu komponen penting yang ikut menentukan maju dan mundurnya suatu bangsa. Sehingga setiap negara termasuk Indonesia meletakkan pendidikan dalam skala prioritas pembangunan.
Indonesia termasuk dalam kategori negara berkembang yang pendidikannya masih rendah di bandingkan dengan negara yang lain. Untuk memajukan kehidupan bangsa haruslah warganya berpendidikan tinggi. Sebab, dengan pendidikan tujuan bernegara dapat terwujud, yakni mensejahterakan warga negaranya. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai hakikat pendidikan di masyarakat, hakikat pengembangan kurikulum pendidikan, hakikat tujuan pendidikan berbasis fitrah manusia dan hakikat pengembangan metode pendidikan.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana hakikat pendidikan di masyarakat
2)      Bagaimana hakikat pengembangan kurikulum pendidikan
3)      Bagaimana hakikat tujuan pendidikan berbasis fitrah manusia
4)      Bagaimana hakikat pengembangan metode pendidikan





    II.            PEMBAHASAN
A.    Hakikat Pendidikan di Masyarakat
Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial, dan kultural. Pada skala mikro, pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas, seperti antara sahabat, antara suami dan istri dalam keluarga dan lain sebagainya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang potensinya dan perangkat pembawaannya lebih baik dan lengkap.
Pada skala makro, pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah dan lain sebagainya. Dalam skala makro, masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial, yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro, perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsur dengan baik dan bersam-sama.
Pendidikan merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, cipta, rasa maupun karsanya, agar potensi tersebut menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan organis, harmonis, dinamis guna mencapai tujuan hidup manusia. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalahpendidikan.[1]
Beberapa aliran filsafat pendidikan,yaitu:
1.         Filsafat pendidikan progresivisme
2.         Filsafat pendidikan esensialisme
3.         Filsafat pendidikan perenialisme
Perkembangan kependidikan dewasa ini telah membuka arah baru pendidikan kemasyarakatan yang berbasis pada karakter manusia dan masyarakat itu sendiri. Akan tetapi sepanjang sejarah paham mengenai pendidikan dimasyarakat tidak lepas dari beberapa pemetaan aliran paradigma pendidikan dari Giroux dan Aronowitz yang terbagi pada tiga aliran yaitu konservatif, liberal, dan kritis.
1.    Paham Konservatif
Bagi kaum konservatif, ketidak sejajaran masyarakat merupakan suatu keharusan hukum alam, suatu hal yang mustahil dihindari, serta seakan-akan sudah menjadi ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Dalam perjalanan selanjutnya, paradigma ini cenderung lebih menyalahkan subjeknya. Bagi kaum konsevatif, mereka yang menderita karena kesalahan mereka sendiri. Hal ini karna banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu.
2.    Paham Liberalistik
Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dengan struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender di tengah masyarakat luas, bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal, yaitu structural functionalisme justru dimaksudkan sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.
3.    Paham Radikalistik
Pendidikan bagi paham ini merupakan arena perjuangan politik dalam perspektif kritis-radikalistik. Urusan pendidikan adalah melakukan refleseksi  kritis dari the dominant ideology ke arah transformasi sosial. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk menciptakan sistem sosial baru yang lebih adil. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Pendidikan yang berdasarkan pada prinsip demokrasi pancasila mengajarkan prinsip-prinsip yaitu: 1) persamaan, 2) keseimbangan antara hak dan kewajiban, 3) kebebasan yang bertanggung jawab, 4) kebebasan berkumpul dan berserikat, 5) kebebasan mengeluarkan pendapat, 6) kemanusiaan-keadilan, 7) cita-cita nasional. Oleh karena itu, sistem pendidikan nasional menjamin pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan efesiensi manajemen pendidkan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan zaman.[2]
B.     Hakikat Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan pendidikan atau pengajaran dan hasil pendidikan yang harus dicapai oleh anak didik, kegiatan belajar mengajar, pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum itu sendiri. Setiap kurikulum memiliki beberapa prinsip berikut:
1.      Kurikulum senantiasa bertautan dengan nilai pendidikan yang dianut
2.      Bersifat holistik, integral, dan universal
3.      Keseimbangan
4.      Marke table
5.      Pengembangan bakat dan minat anak didik
6.      Mudah diterapkan dalam kehidupan
Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan diarahkan sepenuhnya pada tujuan pendidikan. Oleh karena itu, semua komponen kurikulumnya harus berbasis visi dan misi lembaga pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, agar berfungsi sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Kurikulum harus mengandung tat nilai yang intrinsik dan ekstrinsik dalam merealisasikan tujuan pendidikan.
Pada hakikatnya, fungsi kurikulum pendidikan adalah:
1.      Sistem hidup yang menjadi tuntunan masyarakat sebagai anak didik
2.      Alat dan bekal hidup di dunia
3.      Metode dan strategi menjalani kehidupan duniawi
4.      Sistem evaluasi diri, pengawasan dari dalam menghadapi kehidupan.
Hakikat kurikulum pendidikan memilikiciri-ciri khusus yaitu:
1.    Dalam kurikulum terdapat tujuan utama
2.    Kurikulum harus disesuaikan dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki keyakinan pada Tuhan
3.    Kurikulum yang disajikan merupakan hasil pengujian materi dengan landasan karakter budaya lokal dan kebangsaan yang utuh
4.    Mengarahkan minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan intelek anak didik serta keterampilan yang akan diterapakan dalam kehidupan konkret
5.    Tidak ada kedaluwarsa kurikulum karena ciri khas yang baik senantiasa relevan dengan perkembangan zaman, bahkan menjadi filter kemajuan IPTEK dalam penerapannya dikehidupan masyarakat.[3]
Dalam filsafat pendidikan, hakikat kurikulum adalah pola pembentukan karakter anak didik. Para pendidik akan menyampaikan mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang dianut. Apabila kurikulumnya berbasis kompetensi, anak didik harus dikembangkan kecerdasannya agar memiliki kemampuan bersaing satu sama lainnya ketika menerapkan kurikulum dalam proses belajar mengajar.
C.    Hakikat Tujuan Pendidikan berbasis Fitrah Manusia
Fitrah artinya bersih tanpa dosa dan noda, baik dalam akal maupun nafsunya. Dengan fitrahnya manusia dapat mengembangkan kekuatan jiwanya untuk mengetahui dan mengenal lebih dekat Tuhan yang telah menciptakannya. Dalam dirinya baik melalui kekuatan jiwa maupun akalnya, manusia memiliki keinginan yang sifatnya absolut. Keinginan yang bersifat berubah-ubah atau relatif merupakan keinginan fisikal semata. Rasa suka manusia terhadap jenis materiil sangat tergantung pada kebiasaan-kebiasaannya. Berbeda dengan keinginan yang berasal dari dorongan fitrah alamiah manusia tidak mungkin dapat meninggalkannya.
Dengan demikian secara filosofis konsep fitrah manusia adalah sebagai berikut:
1.      Manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT lahir dalam keadaan fitrah, terbebas dari segala bentuk dosa.
2.      Kebutuhan fitrah manusia tidak akan dapat diubah oleh siapapun
3.      Perubahan yang dipaksakan terhadap kebutuhan fitrah manusia tidak akan langgeng
4.      Ilmu pengetahuan merupakan salah satu kebutuhan fitrah manusia karena dengan ilmu pengetahuan, secara sadar atau tidak manusia memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memperhatikan kehidupannya.
5.      Sesuai dengan kesuciannya dalam struktur manusia, Allah SWT telah memberi seperangkat kemampuan dasar yang memilih kecenderungan berkembang.[4]
Komponen-komponen tersebut bersifat dinamis dan responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan yang dimaksud menurut H.M. Arifin adalah 1) Bakat, 2) Insting, 3) Dorongan nafsu, 4) Watak, dan 5) Intuisi.
Pengembangan pendidikan yang berbasis pada fitrah adalah pendidikan yang mengembangkan bahan ajar sebagai berikut:[5]
1.    Pengembangan pendidikan ketuhanan
2.    Pengembangan pendidikan sosial
3.    Pengembangan pendidikan kealaman
4.    Pengembangan pendidikan ekonomi
5.    Pengembangan pendidikan tingkah laku
6.    Pengmbangan pendidikan kebudayaan.
Dalam pengenbangan pendidikan yang dikaitkan dengan anak didik perlu diperhatikan aspek-aspek yang penting dikembangkan dari peserta didik yaitu:
1.    Aspek pedagogis
2.    Aspek sosiologis
3.    Aspek filosofis
4.    Aspek kultural
5.    Aspek religiusitas
6.    Aspek pertumbuhan anak
Setiap jenjang pendidikan yang dilalui oleh peserta didik berkaitan dengan pengembangan dan keterampilan peserta didik. Oleh karena itu, semua lembaga pendidikan harus berupaya mengembangkan kurikulumnya untuk membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan teoritis dan praktis.[6]
D.  Hakikat Pengembangan Metode Pendidikan
Pengembangan metode pendidikan berhubungan dengan alat-alat pendidikan yang sngat penting digunakan dalam pendidikan. Diantaranya adalah
1.         Pendidik
2.         Lembaga pendidikan
3.         Sarana dan prasarana pendidikan
4.         Perpustakaan
5.         Kecakapan atau kompetensi pendidik
6.         Metodologi pendidikan dan pendekatan yang digunakan
7.         Manajemen pendidikan
8.         Administrasi dan supervisi pendidikan
9.         Strategi pembelajaran
10.     Evaluasi pendidikan dan belajar.
Metode pendidikan juga merupakan bagian dari alat-alat pendidikan karena merupakan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam metode pendidikan terdapat upaya menuntun dan membimbing anak didik kearah terwujudya kepribadian anak didik. Dalam menggunakan alat-alat pendidikan pendidik harus berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1.    Memudahkan dan menyedikitkan beban
2.    Berangsur-angsur demi terbentuknya pemahaman anak didik
3.    Menggembirakan dan tidak menimbulkan rasa takut
4.    Menyamakan persepsi tentang kebenaran
5.    Mengembangkan perbedaan pendapat sebagai rahmat Tuhan
6.    Penelitian yang menyakinkan[7]
            Metode pendidikan harus terus dikembangkan agar tujuan pendidikan mudah dicapai. Pengembangan pendidikan secara teoritis dilakukan dengan cara-cara berikut:
1.    Metode pendidikan demokratis
2.    Pendidikan dengan hati nurani
3.    Pendidikan dengan pendekatan rasioanal
4.    Pendidikan dengan pendekatan empiris
5.    Pendidikan dengan pendekatan naturalistik
Perkembangan metode pendidikan berkaitan dengan pengembangan strategi pembelajaran karena dalam strategi pembelajaran diterapkan berbagai teknik mengajar.[8] Dalam uraian mengenai pengembangan pendidikan perspektif filsafat pendidikan ini dapat dikembangkan oleh setiap masyarakat yang peduli sepanjang tujuan pendidikan itu dapat diterapkan dalam kehidupan tanpa mengenal batas waktu. Harapan tersebut bergantung pada kemauan dan kebenarian masyarakat untuk mendukung pengembangan metode pendidikan.
 III.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Sebagai sebuah proses, pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan eratsatu sama lain, mulai dari tujuan, pendidik, peserta didik, metode hingga evaluasi yang membentuk suatu sistem yang disebut pendidikan. Pendidikan tidak akan berjalan jika tidak memiliki tujuan, pendidik, dan peserta didik, tujuan pendidikan kemungkinan besar tidak akan tercapai sesuai keinginan jika ia tidak memiliki metode yang tepat, evaluasi dibutuhkan untuk menentukan apakah pendidikan telah berhasil atau justru gagal.

B.     Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.












DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Salahuddin, Anas, Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2011.
Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.



[1] Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 226.
[2] Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 234.

[3] Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) 139.
[4] Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 241.
[5] Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) 144.
[6] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009) 122.
[7] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2009) 127.
[8] Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 246.

1 komentar:

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...