Senin, 20 Maret 2017

INTELEGENSIA

INTELEGENSIA
       I.            PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Intelegensi merupakan salah satu konsep yang dipelajari dalam psikologi umum. Pada hakekatnya, semua orang sudah merasa memahami makna intelegensi. Sebagian orang berpendapat bahwa intelegensi merupakan hal yang penting dalam berbagai aspek kehidupan.
Intelegensi erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Banyak problem–problem manusia yang berhubungan dengan intelegensi. Dalam dunia pendidikan, intelegensi merupakan hal yang sangat berkaitan. Seolah–olah intelegensi merupakan penentu keberhasilan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan, dan merupakan suatu penentu keberhasilan dalam semua bidang kehidupan. Untuk mengetahui tentang apa itu intelegensi, akan dijelaskan lebih lanjut dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)      Apa definisi intelegensi?
2)      Apa saja teori intelegensi?
3)      Apa saja faktor yang mempengaruhi intelegensi?
4)      Bagaimana mengukur kemampuan intelegensi?

C.    Tujuan Penulisan
1)      Untuk mengetahui definisi intelegensi.
2)      Untuk memahami teori intelegensi.
3)      Untuk memahami faktor yang mempengaruhi intelegensi.
4)      Untuk memahami cara pengukuran intelegensi.

    II.            PEMBAHASAN
A.    Definisi Intelegensia
Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “inteligensia“. Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran.
Lewis Madison Terman pada tahun 1916 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak. H. H. Goddard pada tahun 1946 mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang. V.A.C. Henmon mengatakan bahwa inteligensi terdiri atas dua faktor, yaitu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengetahuan yang telah diperoleh. Baldwin pada tahun 1901 mendefinisikan inteligensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami. Edward Lee Thorndike (1874-1949) pada tahun 1913 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.[1]
Intelegensi merupakan potensi bawaan yang sering dikaitkan dengan berhasil tidaknya anak belajar disekolah. Dengan kata lain, intelegensi dianggap sebagai faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya anak disekolah.[2] Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.

B.     Teori-teori intelegensi
Prof. Dr. H. Djaali dalam bukunya Psikologi Pendidikan[3] mengatakan bahwa teori intelegensi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1.      Teori Uni Faktor
Wilhelm Stern beranggapan intelegensi adalah kapasitas atau kemampuan umum. Kapasitas umum tersebut tumbuh akibat pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.
2.         Teori Two Faktor
Charles Spearman mendeskripsikan struktur intelegensi yang terdiri dari General Ability (G) dan Specific Ability (S).
3.        Teori Multi Faktor
E.L. Thorndike berpendapat, bahwa intelegensi adalah bentuk hubungan neural antara stimulus dengan respons. Hubungan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
       4.        Teori Struktur Intelegensi                                         
Teori ini disampaikan oleh Guilford. Menurut Guilford, struktur kemampuan intelektual seseorang memiliki 150 kemampuan dan memiliki tiga paramater, yaitu operasi, produk, dan konten.
5.         Teori Primary Ability
Thurstone membagi intelegensi menjadi kemampuan primer yang terdiri atas kemampuan numerical/matematis, verbal atau bahasa, abstraksi, berupa visualisasi atau berpikir, membuat keputusan, induktif maupun deduktif, mengenal atau mengamati, dan mengingat.
6.         Teori Sampling
Menurut teori ini, intelegensia merupakan berbagai kemampuan sampel. Hal ini dikarenakan pandangan Godfrey H. Thomson yang memandang dunia sebagai kumpulan-kumpulan pengalaman.
7.        Entity Theory
Intelegensi dianggap sebagai suatu kesatuan yang tetap dan tidak berubah-ubah.
8.        Incremental Theory
Teori ini menganggap, setiap individu mempunyai potensi untuk cerdas, dan kecerdasan tersebut bisa ditingkatkan melalui proses belajar.
9.          Teori Multiple Intelegensi
Teori multiple intelegensi ini disampaikan oleh Gardner. Menurut Gardner intelegensi manusia memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestatik fisika, sosial interpersonal, dan intrapersonal. Setiap dimensi tersebut memiliki kompetensi yang eksistensinya berdiri sendiri dalam sistem neuron. Artinya tidak terbatas pada yang bersifat intelektual.

C.     Faktor Yang Mempengaruhi Inteligensi
Seperti yang kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda. Hal ini seperti yang disebutkan diatas ada pandangan yang menekankan pada bawaan (pandangan kualitatif) dan ada yang menekankan pada proses belajar (pandangan kuantitatif) sehingga dengan adanya perbedaan pandangan tersebut dapat diketahui bahwa intelegensi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut, diantaranya adalah:
1.      Faktor Pembawaan
Faktor pembawaan merupakan faktor pertama yang berperan didalam intelegensi. Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, didalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar, dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.
2.        Faktor lingkungan
Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).
3.       Faktor inteIigensi dan IQ
Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas intelegensi tergantung perkembangan organik otak.

4.      Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Faktor minat ini mengarahkan perbuatan kepada sesuatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luas, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
5.      Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Disini dapat dibedakan antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan disekolah dan pembentukan yang tidak sengaja, misalnya pengaruh alam disekitarnya.

6.      Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila anak-anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika dikelas empat SD, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan umur
7.      Faktor Kebebasan
Faktor kebebasan artinya manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Disamping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
D.       Pengukuran Intelegensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binnet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari Tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio
(perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford_Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas Tes Binet-Simon atau Tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Spearman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (General factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut teori faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Selain menunjukan IQ keseluruhan, skala Weshsler juga menunjukan IQ verbal dan IQ kinerja. IQ verbal didasarkan pada 6 sub skala verbal, IQ kinerja didasarkan pada 5 sub skala kinerja. Ini membuat peneliti bisa melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area intelegensi murid yang berbeda-beda (Woolger 2001).[4]


 III.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa intelegensi adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta tingkat produktifitas dan kreatifitas dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.
Teori-teori mengenai intelegensi, yakni; teori uni faktor, teori two faktor, teori multi faktor, teori struktur intelegensi, teori primary ability, teori sampling, entity theory, incremental theory, dan teori multiple intelegensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi yaitu; faktor pembawaan, faktor lingkungan, faktor intelegensi dan IQ, faktor minat dan pembawaan yang khas, faktor pembentukan, faktor kematangan, dan faktor kebebasan.
            Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes lainnya yang banyak dipakai untuk menilai intelegensi murid dinamakan skala weshsler yang dikembangkan oleh David Wechsler.

B.     Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca  demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.




DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar. Jakarta:Rineka Cipta, 2011.
Djaali, Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007.
Santrock, John, W., Psikologi Pendidikan, cet-4. Jakarta: Kencana, 2011








[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm. 135
[3]Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm.72-74

[4]John, W. Santrock, Psikologi Pendidikan, cet-4, (Jakarta: Kencana,  2011), hlm. 136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...