HADITS HASAN DAN PEMBAGIANNYA
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hadits dalam pandangan umat Islam
diyakini sebagai sumber pokok ajaran Islam sesudah Al-Qur’an. Dalam tataran
aplikasinya, hadits dapat dijadikan hujjah keagamaan dalam kehidupan dan
menempati posisi yang sangat penting dalam kajian keislaman. Secara struktural hadits
merupakan sumber ajaran Islam setelah
Al-Qur’an yang bersifat global, artinya
jika kita tidak menemukan penjelasan tentang berbagai problematika kehidupan di
dalam Al-Qur’an, maka kita harus dan wajib merujuk pada hadits. Oleh karena
itu, hadits merupakan hal terpenting dan memiliki kewenangan dalam menetapkan sesuatu. Namun
demikian hadits memiliki peranan dalam menjelaskan setiap ayat-ayat Al-Qur’an
yang turun baik yang bersifat Muhkamat maupun Mutasabihat.
Sehingga hadits ini sangat perlu untuk dijadikan sebagai sandaran umat Islam
dalam menguasai inti-inti ajaran Islam.
Dalam kondisi
faktualnya terdapat hadits-hadits
yang dalam periwayatannya yang
telah memenuhi syarat-syarat tertentu untuk diterimanya sebagai sebuah hadits. Dalam segi kualitasnya, hadits terbagi menjadi tiga
yaitu, hadits shahih, hadits hasan dan hadits dha’if, kualitas keshahihan
suatu hadits merupakan hal yang sangat penting, terutama hadits-hadits yang
bertentangan dengan hadits, atau dalil lain yang lebih kuat. Dalam hal ini,
maka kajian makalah ini diperlukan untuk mengetahui apakah pengertian
hadits hasan, kriteria hadits
hasan, pembagian hadits hasan dan
contoh-contohnya. Oleh karena itu
dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai hadits hasan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai
berikut:
1)
Apa pengertian hadits
hasan dan kriterianya.
2)
Apa saja macam-macam
hadits hasan dan penjelasannya.
3)
Bagaimana kehujjahan hadits hasan sebagai landasan hokum.
4)
Apa makna
istilah hadits hasan shahih dalam kitab
tirmidzi.
5)
Apa saja kitab-kitab yang memuat hadits hasan.
C.
Tujuan
1) Mengetahui pengertian
hadits hasan dan kriterianya.
2) Mengerti macam-macam hadits hasan dan penjelasannya.
3) Memahami kehujjahan hadits hasan sebagai landasan hokum.
4) Mengerti istilah hadits hasan shahih dalam kitab tirmidzi.
5) Mengetahui kitab-kitab yang memuat hadits hasan.
II. PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hadits Hasan
Secara
bahasa kata Hasan (حسن) merupakan Shifah Musyabbahah dari kata al-Husn (اْلحُسْنُ) yang
bermakna al-Jamâl (الجمال): kecantikan, keindahan, Sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu.[1] Sedangkan
secara istilah, hadits hasan didefinisikan secara beragam oleh ahli
Hadits, sebagai berikut :
1. Menurut
Ibnu Hajar al-Asqalani
وَخبرالأحاد بنقل عدل تام الضبط متصل السند غير معلل ولا شا ذ
Khobar ahad
yang dinukil oleh orang yang adil, kurang sempurna hafalannya,
bersambung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz.
2. Menurut Imam at-Tirmidzi
كل حديث يروى لا يكو ن فى إسنا ده من يّتّهم
با لكذب ولا يكو ن الحديث شا دّا
و يروى
من غير وجه نحو ذالك
Tiap-tiap
hadits yang pada sanadnya tidak terdapat perawi yang tertuduh dusta, pada
matannya tidak terdapat keganjalan, dan hadits itu diriwayatkan tidak
hanya dengan satu jalan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan dengannya
3. Menurut
At-Thibi
مسند من قرب من درجة الثقة أو مرسل ثقة وروي كلا هما من غير وجه وسلم
من
شدو ذٍ
ا ولا علة .
Hadits musnad
(muttasil dan marfu’) yang sanad-sanadnya mendekati derajat tsiqah. Atau hadits
mursal yang sanad-sanadnya tsiqah, tetapi pada keduanya ada perawi lain, dan hadits
itu terhindar dari syadz (kejanggalan) dan illat (kekacauan).[2]
Dengan kata
lain hadits hasan adalah :
هو ما ا تصل
سنده بنقل العدل الذى قلَّ ضبطه و خلا من الشّذوذ والعلة
Hadits hasan adalah
hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil, kurang sedikit
ke-dhabit-annya, tidak ada keganjilan (syadz) dan tidak ada illat.[3]
Atas dasar
pengertian hadits hasan tersebut, maka kriteria
hadits hasan itu ada lima macam, yaitu:
1. Muttasil sanadnya
2. Rawinya adil
3. Rawinya dhabith
Kedhabitan rawi
disini tingkatannya dibawah kedhabitan rawi hadits shahih, yakni kurang
sempurna kedhabitannya.
4. Tidak temasuk hadits syadz
5. Tidak terdapat illat (cacat).[4]
Istilah hadits hasan
di kalangan ulama mutaqaddimin (terdahulu) tidaklah dikenal. Di kalangan
mereka, hadits hanya terbagi menjadi dua: Shahih dan dha’if. Ini dibuktikan
dengan karya tulis para ulama terdahulu, dimana mereka menamakan kitabnya
dengan nama Ash-Shahih, akan tetapi di dalamnya mereka menyebutkan hadits yang
hasan. Misalnya Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, walaupun keduanya disifati
dengan nama ‘shahih’, akan tetapi kenyataannya di dalam keduanya terdapat tidak
sedikit hadits-hadits yang hasan. Orang yang pertama kali memperkenalkan bahwa hadits terbagi atas pembagian
sahih , hasan dan dha’if adalah abu Isa At- Tirmidzi dan pembagian ini tidak
dikenal dari seorang pun pada masa-masa sebelumnya. Adapun sebelum masa
at-Tirmidzi dikalangan ulama hadits pembagian tiga kualitas hadits ini tidak
dikenal oleh mereka hanya membagi hadits itu menjadi sahih dan dhaif (Majmu
Fatawa Syaikh Al-Islam Ibnu TaimiyahXVII: 23 & 25).
Anggapan bahwa
Imam At-Tirmidzi adalah orang paling pertama yang memperkenalkan istilah
hadits Hasan yang diusung oleh Imam
Ibnu Taimiyyah ini, diikuti pula oleh muridnya, Al-Hafid Syamsyuddin
Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi di dalam kitabnya, Al-Muqidhah fi
Ilmi Musthalah Al-Hadits dan sebagian besar ulama besar hadits. Namun pendapat Imam Ibnu Taimiyyah ini ditolak oleh Abdul Fatah Abu Guddah pada Tahqiq-nya dalam kitab Al-Muqidhah fi Ilmi Musthalah Al-Hadits ia berkata:”Dan yang benar, sesungguhnya penggunaan istilah Hasan sudah ada dandikenal sebelum masa Imam At-Tirmidzi dalam waktu yang lama”.(Al-Muqiidhah fi Ilmi Musthalah Al-Hadits, 1982: 27).[5]
Ibnu Taimiyyah ini, diikuti pula oleh muridnya, Al-Hafid Syamsyuddin
Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi di dalam kitabnya, Al-Muqidhah fi
Ilmi Musthalah Al-Hadits dan sebagian besar ulama besar hadits. Namun pendapat Imam Ibnu Taimiyyah ini ditolak oleh Abdul Fatah Abu Guddah pada Tahqiq-nya dalam kitab Al-Muqidhah fi Ilmi Musthalah Al-Hadits ia berkata:”Dan yang benar, sesungguhnya penggunaan istilah Hasan sudah ada dandikenal sebelum masa Imam At-Tirmidzi dalam waktu yang lama”.(Al-Muqiidhah fi Ilmi Musthalah Al-Hadits, 1982: 27).[5]
Pendapat Abdul
Fatah Abu Guddah dalam mengkritisi pendapat Imam Ibnu Taimiyyah tadi, masih
bisa dikatakan berupa sebuah hipotesis yang harus dibuktikan untuk
menjadi sebuah kesimpulan, dengan mencari bukti-bukti yang sekiranya layak
dijadikan landasan pendapat tersebut. Dalam hal ini Ibnu Shalah juga
memberikan komentar, yang pada akhirnya bisa dijadikan sebagai sebuah landasan
dan sekaligus memperkuat pendapat Abdul Fatah Abu Gudah. Bahwa ditemukan istilah Hasan pada beberapa tempat yang
berbeda dari perbincangan sebagian guru-gurunya (Imam At-Tirmidzi) dan
generasi sebelumnya seperti Ahmad
bin Hanbal, Al-Bukhari, dan selain keduanya. (Muqaddimah
Ibnu Shalah fi Ulum Al Hadits,:1 18).[6]
مقدمة بن الصلاح في مصطلح الحديث - (1 / 18)
كتاب أبي عيسى الترمذي رحمه الله أص ل في معرفة الحديث الحسن وهوالذى
نوه
باسمه وأكثر من ذكره في جامعه ويوجد في متفرقات من كلام بعض
مشايخه
والطبقةالتى قبله كاحمد بن حنبل والبخاري وغيرها
Berdasarkan
keterangan dari Ibnu Sholah diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa
pemakaian istilah hasan dalam mengklasifikasikan suatu hadits berdasarkan
kualitasnya, sudah dilakukan oleh guru-guru imam turmudzi dan generasi
sebelumnya walaupun tidak memasyarakat. Dengan demikian terbantahlah pendapat imam Ibnu Taimiyah yang
mengatakan bahwa Imam
Tirmidzi sebagai orang yang memperkenalkan istilah hadits hasan.
B. Macam-Macam
Hadits Hasan
1.
Hadits Hasan Li Dzatihii
Hadits hasan li dzatihii adalah hadits yang
telah memenuhi segala persyaratan hadits hasan secara utuh.[7]
Sebuah hadits dikategorikan sebagai hasan li dzatihi karena jalur
periwayatannya hanya melalui satu jalur periwayatan saja. Sementara hadits hasan pada umumnya, ada kemungkinan melalui jalur
riwayat yang lebih dari satu. Atau didukung dengan riwayat yang lainnya. Bila
hadits hasan ini jumlah jalur riwayatnya hanya satu, maka hadits hasan itu
disebut dengan hadits hasan li dzatihi. Tetapi jika jumlahnya banyak,
maka ia akan saling menguatkan dan akan naik derajatnya menjadi hadits
shahih li ghairihi.[8]
Contoh hadits
hasan lidzatihii :
Diriwayatkan
oleh At-Tirmizi, dia berkata: telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah
bercerita kepada kami Ja’far bin Sulaiman Ad-Dhab’I, dari Abi Imran Al-Jauni,
dari Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata,” Aku telah mendengar
ayahku berkata dihadapan musuh, Rasulullah bersabda, :
حدثنا قتيبة حدثنا جعفر بن سليما ن
الضبعيٌّ عن ابي عمران الجو نيّ عن ابي بكر
بن ابي
موسى الا شعرىّ قال سمعت أبي بحضر ة العد وِّ يقول قال رسول الله
صلى
الله عليه وسلم إنّ ابواب الجنّة تحت ظلال السيوف
“......dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ari, (berkata), saya
mendengar ayahku ketika berada dihadapan musuh berkata, Rasulullah saw.
Bersabda: ‘sesungguhnya pintu-pintu surga berada dibawah bayang-bayang
pedang’.”(HR. al-Tirmidzi)
Empat perawi
hadits tersebut adalah tsiqoh kecuali Ja’far bin Sulaiman ad-Dhab’I, sehingga
hadits ini sebagai hadits hasan.[9]
2.
Hadits Hasan Li Gahirihi
Hadits hasan li
ghairihi adalah hadits dhaif yang bukan dikarenakan perawinya
pelupa, banyak salah dan orang fasik, yang mempunyai mutabi’ dan syahid.[10] hadits yang dhaif dikuatkan dengan beberapa jalan, dan
sebab kedhaifannya bukan karena kefasikan perawi (yang keluar dari jalan
kebenaran) atau kedustaannya.
Seperti satu
hadits yang dalam sanadnya ada perawi yang mastur (tidak diketahui keadaannya),
atau rawi yang kurang kuat hafalannya, atau rawi yang tercampur hafalannya
karena tuanya, atau rawi yang pernah keliru dalam meriwayatkan, lalu dikuatkan
dengan jalan lain yang sebanding dengannya, atau yang lebih kuat
darinya. Hadits ini derjatnya lebih rendah dari pada hasan lidzatihii dan
dapat dijadikan hujjah.[11]
Contoh hadits hasan li ghairihi
Seperti hadits
yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dan dia menilainya hasan, dari riwayat
Syu’bah dari ‘Asim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah dari
ayahnya, berbunyi sebagai berikut:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ ، قَال
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ ، عَنْ
أَبِيهِ
: أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ . فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ :" أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ
وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ ؟" قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ : فَأَجَازَهُ
.(رواه الترمذي)
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalur Syu’bah dari
‘ashim bin ‘Ubaidillah,dari Abdillah bin Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya
bahwasanya seorang perempuandari bani Fazarah menikah dengan mahar
sepasang sandal…”
Al-Turmudzi mengomentari bahwa hadits itu terdapat riwayat-riwayat
lain, yaitu dari Umar, Abu Hurairah, Aisyah dan Abu Hadrad. Dalam hal ini
Al-Turmudzi menilai hadits tersebut hasan, karena meskipun ‘Asim dalam sanad
hadits yang diriwayatkannya itu dhaif karena jelek hafalannya, hadits ini
didukung oleh adanya riwayat-riwayat lain.[12]
C.
Kehujjahan Hadits Hasan
Hadits hasan sama seperti hadits shahih dalam pemakaiannya
sebagai hujjah, walaupun kekuatannya lebih rendah dibawah hadits
shahih. Hanya saja, jika terjadi pertentangan antara hadits shahih dengan
hadits hasan, maka harus mendahulukan hadits shahih, karena tingkat kualitas
hadits hasan berada dibawah hadits shahih. Hal ini merupakan konsekuensi logis
dari dimensi kesempurnaan kedhabitan rawi-rawi hadits hasan, yang tidak
seoptimal kesempurnaan kedhabithan rawi-rawi hadits shahih.[13]
D.
Penjelasan Istilah Hadits Hasan Shahih
Dalam kitabnya, Imam
Tirmidzi membagi hadits menjadi shahih, hasan dan dha’if. Mengenai
istilah hadits hasan, para ulama berbeda pendapat dalam memaknainya,
karena memang beliau tidak memberi definisi yang pasti, terlebih beliau
menyandingkan istilah yang beraneka ragam. Sebagaimana yang kita lihat dalam
kitabnya, terdapat istilah hadits hasan sahih, hasan gharib,
dan hadits hasan sahih gharib. Berikut pendapat-pendapat para ulama’:
1. Hadits hasan
shahih, pernyataan ini mempunyai tiga kemungkinan makna:
a.
Hadits ini adalah hadits hasan lidzatih yang
naik menjadi hadits shahih lighairih, karena mempunyai banyak sanad hasan yang saling menguatkan
satu sama lain.
b. Sebuah
hadits, sebagian bernilai hasan dan sebagian lagi
bernilai shahih, karena memliki banyak sanad.
c. Sebuah hadits yang sanad atau sebagian rawinya
diperselisihkan, sebagian ulama memandangnya hasan tetapi sebagian
lagi memandang shahih.
Berikut adalah salah
satu dari sekian banyak hadits dalam sunan tirmidzi yang berstatus hasan
shahih :
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ
إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya: “Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah Adl Dlabbi Al Bashri berkata, telah
menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas
bin Malik berkata; "Nabi Shallahu 'alaihi wa Sallam jika masuk ke dalam WC
beliau mengucapkan: "ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL
KHABA`ITS (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan
perempuan)." Abu Isa berkata; "Ini adalah hadits hasan shahih. ".[14]
2. Hadits hasan
gharib, pernyataan ini mempunyai empat kemungkinan makna:
a. Hadits hasan yang
mempunyai satu sanad.
b.
Hadits hasan yang dalam hubungannya dengan rawi tertentu hanya
mempunyai satu sanad.
c. Hadits yang
mempunyai banyak sanad tetapi yang bernilai hasan hanya satu.
d. Hadits yang
mempunyai banyak sanad hasan tetapi rawi-rawinya kesemuanya satu
negeri/daerah.
Berikut adalah
salah satu dari sekian banyak hadits dalam sunan tirmidzi yang
berstatus hasan gharib :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَعِيلَ
عَنْ إِسْرَائِيلَ بْنِ يُونُسَ عَنْ يُوسُفَ
بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ
غُفْرَانَكَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
لَا
نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ إِسْرَائِيلَ عَنْ يُوسُفَ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ
وَأَبُو بُرْدَةَ بْنُ أَبِي مُوسَى
اسْمُهُ عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
قَيْسٍ الْأَشْعَرِيُّ وَلَا نَعْرِفُ فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا حَدِيثَ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Artinya: “Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il berkata, telah menceritakan
kepada kami Malik bin Isma'il dari Isra'il bin Yunus dari Yusuf bin Abu Burdah
dari Bapaknya dari Aisyah Radliaallahu 'anha, ia berkata; "Apabila Nabi
Shallahu 'alaihi wa Sallam keluar dari WC, beliau membaca: " GHUFRAANAKA
(Aku mengharap ampunan-Mu)." Abu Isa berkata; "Hadits ini
derajatnya Hasan Gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali ia
adalah dari hadits Israil, dari Yusuf bin Abu Burdah, sedangkan Abu Burdah bin
Abu Musa namanya adalah 'Amir bin Abdullah bin Qais Al Asy'ari. Dan kami tidak
mengetahui dalam bab ini kecuali hadits Aisyah Radliaallahu 'anha dari Nabi
Shallahu 'alaihi wa Sallam.".[15]
3. Hadits hasan
shahih gharib, ada dua kemingkinan makna:
a. Hadits ini hanya memiliki satu sanad, tetapi
sebagian rawinya diperselisihkan; sebagian ulama memandang hasan, sebagian
lagi memandang shahih.
b. Hadits
ini sebagian sanadnya hasan, sebagian yang lain shahih namun
rawi-rawinya kesemuanya satu negeri.
Berikut adalah salah
satu dari sekian banyak hadits dalam sunan tirmidzi yang berstatus hasan shahih gharib
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ بْنِ أَبِي النَّضْرِ حَدَّثَنَا
حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ
أَخْبَرَنَا نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ
فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَوَاتِ وَلَيْسَ
يُنَادِي بِهَا أَحَدٌ فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ
اتَّخِذُوا
نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ
بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا قَرْنًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ قَالَ فَقَالَ
عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَوَلَا تَبْعَثُونَ
رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ
مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakr bin An Nadlr bin Abu An Nadlr berkata; telah menceritakan
kepada kami Hajjaj bin Muhammad ia berkata; Ibnu Jurair berkata; telah
mengabarkan kepada kami Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata; "Ketika kaum
muslimin datang ke Madinah, mereka berkumpul dan menunggu shalat namun tidak
ada seorang pun yang menyeru (adzan). Lalu pada suatu hari mereka membicarakan hal itu, sebagian mereka berkata;
"Gunakanlah lonceng sebagaimana orang-orang
Yahudi." Ibnu Umar berkata; "Maka Umar pun berkata; "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Wahai Bilal, berdiri dan
serulah untuk mendirikan shalat." Abu Isa berkata; "Hadits ini
derajatnya hasan shahih gharib, dari hadits Ibnu Umar.".[16]
E.
Kitab-Kitab yang Memuat Hadits Hasan
Para ulama belum menyusun kitab khusus tentang hadits-hadits hasan
secara terpisah sebagaimana mereka melakukannya dalam hadits shahih, tetapi
hadits hasan banyak kita dapatkan pada sebagian kitab, diantaranya:
1. Sunan empat (Sunan Abu Daud, Sunan At Turmudzy, Sunan An-Nasai, dan Sunan
Ibnu Majah).
2. Sunan Ad-Daruquthny
Ø
Istilah-istilah yang semakna hadits hasan
Istilah-istilah yang digunakan oleh para ahli hadits dalam menyebut
hadits maqbul ialah:
1. Jayyid (yang baik)
2. Qawiy (yang kuat)
3. Shalih ( yang baik)
4. Ma’ruf (yang dikenal)
5. Mahfudh (yang dihafadh para ulama’)
6. Mujauwad (yang dipandang baik)
7. Tsabit (yang tetap, yang shahih diterima dari Nabi)
8. Maqbul (yang diterima)
9. Masyabbah
10. Mustahsan (yang dipandang baik)[18]
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1. Hadits
hasan adalah hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil, tak
begitu kokoh ingatannya, sanadnya bersambung, dan tidak
terdapat ‘illat serta kejanggalan.
2. Kriteria Hadits
Hasan: Sanadnya bersambung, rawinya adil, rawinya dhabith (Kedhabithan
rawi di sini tingkatannya dibawah kedhabithan rawi hadits shahih,
yakni kurang sempurna kedhabithannya), tidak
termasuk hadits syadz, tidak
terdapat ‘illat (cacat).
3. Para
ulama sebelum Al-Turmudzi membagi hadits kepada dua bagian
saja yaitu: hadits shahih dan hadits
dha’if. Kemudian hadits dha’if dibagi dua macam,
yaitu dha’if yang tidak tercegah pengamalannya
dan dha’if yang wajib ditinggalkan. Barangkali dha’if pertama
menurut ulama dahulu inilah yang disebut hasan oleh Al-Turmudzi.
4. Macam-Macam Hadits Hasan : Hadits
hasan lidzatihi dan hasan
li ghairihi
5. Kehujjahan hadits
hasan: Menurut seluruh fuqaha, hadits hasan dapat diterima
sebagai hujjah dan diamalkan walaupun kualitasnya di
bawah hadits shahih. Demikian pula pendapat kebanyakan Muhadditsin dan
ahli ushul juga mengamalkannya.
6. Hadits hasan
banyak kita dapatkan pada sebagian kitab, diantaranya: Sunan empat (Sunan Abu Daud, Sunan At Turmudzy, Sunan
An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah), Sunan
Ad-Daruquthny, Sunan Ad Darimy, Al
Muntaqa karangan Ibnul Jarud dan Musnad Imam Ahmad.
B.
Saran
Penulis
menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis
mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan pada penulisan
makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maliki, Muhammad Alawi, Al-Manhalu
Al-Lathiifu fi Ushuuli Al-Hadisi Al-Syarifi, Terj. Adnan Qohar.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Al-Qattan, Syaikh Manna’, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Terj. Mifdhol Abdurrahman. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2005.
Ash Shiddeqy, Hasbi, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta:
Bulan Bintang, 2004.
Hasan, Mustofa, Ilmu Hadis,
Bandung: Pustaka Setia, 2012.
Http://ab-dina.blogspot.co.id/2012/10/hadits-hasan.html di akses tanggal 05/12/2016
Http://madciel.blogspot.co.id/2015/01/studi-kitab-hadits-sunan-tirmidzi.html di akses tanggal 20/12/2016
Http://makalahmeza.blogspot.com/2012/03/hadits-hasan.html
di akses tanggal 06/12/2016
Khon, Abdul
Majid, Ulumul
Hadits, Jakarta: Amzah, 2009.
Rifa’i, Zuhdi, Mengenal
Ilmu Hadits, Jakarta:
al-Ghuraba, 2008.
Solahudin,
M. dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2011.
[1]
Abdul Majid Khon, Ulumul
Hadits (Jakarta: Amzah, 2009) 156.
[2]
Mustofa
Hasan, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2012) 227.
[4]
Mustofa
Hasan, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2012) 228.
[7]
Mustofa Hasan, Ilmu
Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2012) 228.
[8]
Zuhdi
Rifa’i, Mengenal Ilmu Hadits (Jakarta:
al-Ghuraba, 2008), 167
[9]Syaikh Manna’ Al-Qattan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman (Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2005) 122.
[10]
Mustofa
Hasan, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2012) 228.
[11]
Syaikh Manna’
Al-Qattan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, terj. Mifdhol Abdurrahman (Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2005) 124.
[12]
Muhammad
Alawi Al-Maliki, Al-Manhalu Al-Lathiifu fi Ushuuli Al-Hadisi Al-Syarifi,
terj. Adnan Qohar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) 63.
[13]
Mustofa
Hasan, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2012) 229.
[14] http://madciel.blogspot.co.id/2015/01/studi-kitab-hadits-sunan-tirmidzi.html di akses tanggal 20/12/2016
[15]
http://madciel.blogspot.co.id/2015/01/studi-kitab-hadits-sunan-tirmidzi.html di akses
tanggal 20/12/2016
[16]
http://madciel.blogspot.co.id/2015/01/studi-kitab-hadits-sunan-tirmidzi.html di akses
tanggal 20/12/2016
[17]
M. Solahudin
dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 147.
[18]
Hasbi
Ash Shiddeqy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits (Jakarta: Bulan Bintang, 2004)
175.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar