Minggu, 19 Maret 2017

makalah tentang perkembangan dan tokoh filsafat yunani

PERKEMBANGAN DAN TOKOH FILSAFAT YUNANI
       I.            PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dalam dunia modern ini orang selalu berkata, bahwa orang harus berfilsafat untuk mengetahui tujuan hidup sebenarnya, karena apabila orang sudah belajar filsafat maka ia akan menjadi orang bijaksana, Filsafat berakar dari peradaban Yunani, setiap peradaban memiliki kebijaksanaan dan pemikiran sendiri, Namun Yunani merupakan peradaban yang banyak menuliskan hasil pemikirannya lewat para tokoh filsafatnya yang terkenal sampai sekarang seperti Thales, Sokrates, Phytagoras dan sebagainya, sehingga saat ini filsafat yang berkembang adalah filsafat yang berasal dari bangsa Yunani. Dalam makalah ini akan banyak dikupas tentang sejarah orang-orang Yunani, bagaimana mereka bisa menemukan arti dari filsafat berdasarkan pengamatan, pengalaman dan ilmu yang mereka pelajari dan mereka buktikan sendiri.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan kami bahas yaitu perkembangan dan tokoh filsafat Yunani. Dimana disini banyak tokoh-tokoh terkenal yang akan dibahas tentang ajaran mereka pada zamannya.

 C. Tujuan Penulisan Makalah
Setelah mempelajari materi ini di harapkan kita :
1.    Mempunyai wawasan yang luas tentang perkembangan sejarah ahli filsafat yunani
2.    Mampu mempelajari dari ajaran ahli filsafat terdahulu sehingga bisa menjawab tantangan di zaman modern ini
3.    Menjadi pribadi yang baik dan seutuhnya sebagai manusia

    II.            PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Filsafat Yunani Pra Socrates
Filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala sesuatu, pada abad ke-6 SM mulai lahirnya filsafat Yunani, dimana mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam cerita mitos, melainkan mulai berpikir sendiri. Miletos menjadi tempat lahirnya filosof-filosof Yunani pertama, ada beberapa yang disebut filosof alam sebab tujuan filsafat mereka memikirkan alam besar, dari mana terjadinya alam.[1] Adapun filosof alam antara lain :
1.         Thales (625–545 SM)
Thales merupakan bapak filosofi Yunani dan merupakan filosof pertama, dimana ia berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam adalah air. Aristoteles lah yang menyimpulkan semua ajaran Thales, dimana ia berpikir semuanya itu air, air yang cair adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya, dan air adalah sebab pertama dari segala yang ada, tetapi juga akhir dari segala yang ada. Kepercayaan batin Thales adalah animisme, yang mempercayai bahwa bukan yang hidup saja yang mempunyai jiwa, tetapi benda mati juga mempunyai jiwa.[2]
2.         Anaximandros (610–547 SM)
Anaximandros merupakan salah satu murid Thales, dimana ia seorang ahli astronomi dan ilmu bumi, dan Anaximandros mengatakan bahwa dasar pertama itu adalah zat yang tak tentu sifat-sifatnya yang diberi nama “ to aperion “. Aperion adalah zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat di rupakan, tak ada persamaan dengan apapun, segala yang kelihatan itu yang dapat ditentukan rupanya dengan panca indra kita, adalah barang yang mempunyai akhir yang tak terhingga.[3]
3.         Anaximenes (590–528 SM)
Anaximenes juga merupakan salah satu murid Thales dan ia berpendapat bahwa inti sari alam atau dasarnya pertama adalah udara, karena udaralah yang meliputi seluruh alam semesta serta udara pulalah yang menjadi dasar hidup bagi manusia yang amat di perlukan oleh nafasnya. Sebagai kesimpulan ajarannya dikatakan “sebagaimana jiwa kita,yang tidak lain adalah udara, menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia ini menjadi satu”. Ia juga membedakan yang hidup dan yang mati. Badan mati karena menghembuskan jiwa itu keluar dan yang mati itu tidak berjiwa.
Filosof-filosof lain Pra-Socrates antara lain :
1.      Pythagoras (580–500 SM)
2.      Heraklitos  (540–480 SM)
3.      Parminindes (540–473 SM)
4.      Zeno (± 490 SM)
5.      Anaxagoras (500-428 SM)
6.      Leukippos (± 540 SM)
7.      Demokritos (460–360 SM)
            B. Perkembangan Filsafat Yunani Masa Socrates
Ajaran Sokrates dipusatkan kepada manusia, ia mencari pengertian yang murni, jadi  filsafat itu dipusatkan oleh sokrates pada manusia dan terutama pada tingkah lakunya, filsafat tidak lain adalah usaha melalui pengertian sejati untuk mencapai kebajikan. Para filosof klasik muncul berusaha untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya tanggung jawab manusia karena  pengaruh negative dari para filosof, yaitu :
1.      Socrates (470–399 SM)
Pemikiran filsafat Socrates adanya kebenaran objektif ialah  yang tidak bergantung kepad saya dan kita. Dalam membenarkan kebenaran yang obyektif ia menggunakan metode dialeklika yang berasal dari kata yunani yang berarti bercakap-cakap.[4] Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, mempunyai kearifan dan kebijaksanaan, namun ia tak pernah mengaku mempunyai kearifan dan kebijaksanaan, ia hanya mengaku sebagai pengemar kearifan atau kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya.
2.      Plato (427–347 SM)
Plato adalah satu-satunya filosof  yang berhasil membangun suatu sistim pemikiran filsafat yang integral yang terdiri dari unsur-unsur ajaran filosof pendahulunya. Ia setuju dengan Anaxagoras dalam hal ini bahwa pikiran adalah pengatur segala sesuatu, karena itu berbeda dengan bahan atau benda, dengan Heraclitus ia peroleh ajaran bahwa dalam segala sesuatu ada jamak dua prinsip dasar yang diperoleh Plato dari kaum Mazhab Elea, bahwa Tuhan adalah Esa, dan bahwa dunia yang sebnarnya adalah tidak berubah, dan bagi Plato dunia tersebut adalah dunia idea (eidos) bahwa Plato sependapat dengan kaum Sofis bahwa pengetahuan adalah tidak mungkin, apabila hanya terbatas pada yang menampak saja (sensibilia) dan dari Sokrates gurunya ia memperoleh pengertian bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah dengan melalui pembentukan konsep.
Idea adalah sesuatu pengertian yan bersifat abstrak, dan di mana tidak mungkin dimengerti atau diperoleh dengan pengamatan, sehingga harus dicapai atau diperoleh dengan berpikir dan pikiran.[5] Itulah sebabnya dia membagi ilmu pengetahuan menjadi dua tingkat, yang pertama Opinion pendapat yang diperoleh dengan pancaindera, dan yang kedua adalah genuine knowledge yang dianggap lebih tinggi dan diperoleh dengan berpkir dan pikiran meleluui metode diatlektika sehingga diperoleh apa yang disebut konsep.
3.      Aristoteles (384–322 SM)
Aristoteles lebih kearah ilmu pengetahuan yang sedapat mungkin menyelidiki dan mengumpulkan data kongkret. Kritik tajam ditujukan pada Plato tentang ide-ide, jadi manusia yang kongkret aja. Ia berpendapat setiap jasmani terdiri 2 hal yaitu bentuk dan materi, Namun yang dimaksudkannya bentuk materi dalam arti metafisika. Materi menurutnya adalah materi yang pertama (hyle prote) . dengan kata pertama dimaksudkan bahwa meteri sama sekali tidak ditentukan. Dengan kata pertama materi pertama selalu mempunyai salah satu bentuk Bentuk (morphe) ialah perinsip yang menentukan. Karena materi pertama suatu benda merupakan benda kongkret mempunyai kodrat tertentu, termasuk jenis tertentu (pohon misalnya bukan binatang) dan akibatnya dapat di kenal oleh rasio kita. Dengan itu kiranya jelas bahwa buat nya ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkret. Teori ini dinamakan Hilemorfisisme ( berdasarkan kata yunani Hyle dan morphe) menjadi dasar ia melihat manusia. Manusia merupakan satu substansi yang terdiri dari bentuk (jiwa) dan materi. Ia mengatakan bahwa pada saat manusia mati jiwanya akan hancur juga.[6]









 III.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa tingkah laku manusia hasil akhirnya pasti yang dituju adalah kebahagiaan, semua tindakan juga mengarah ke kebahagiaan, dalam dunia ini sering kebahagiaan berupa kekayaan, kesenangan badan, kemuliaan dan kemewahan, semuanya itu belumlah kebahagian sejati, malahan mungkin itu kebahagiaan yang keliru, adapun sebabnya ialah karena manusia tidak  hanya terdiri dari roh saja sehingga budinya tidak selalu dapat menang dalam pemilihan tindakan kerapkali ia terpengaruhi dan ada kalanya terkalahkan oleh badannya, jadi dengan mempelajari perkembangan filsafat di zaman yunani, maka terbukalah pikiran kita manusia, mengapa bisa begitu dan bagaimana terjadinya, sehingga hakekat manusia seutuhnya bisa kita dapatkan.

B.     Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca  demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K., Ringkasan sejarah Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2011.
Praja, Juhaya S., Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media, 2005.






[1] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2005) 73.
[2] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2005) 75.
[6] K. Bertens, Ringkasan sejarah Filsafat (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2011) 16.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...