BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh
Allah SWT diantara ciptanNya yang lain, dimana manusia memiliki hati untuk
merasakan, naluri dan akal untuk berfikir sehingga manusia menempati posisi
yang paling tinggi diantara makhluk yang lain. Dengan kesempurnaanya itu
manusia dalam berfikir diberi kualitas serta kecerdasan yaitu seperti kecerdasan
IQ, EQ dan SQ yang merupakan kecerdasan
berfikir, emosi serta spiritual.
Tingkat kecerdasan seseorang dapat diukur dengan seberapa
tinggi tingkatan IQ nya dengan berapa macam cara, namun tingkat kecerdasan
seseorang dikatan bagus jika ketiga elemen tersebut saling bekerja sama secara
seimbang dan optimal yang terutama diasah adalah kecerdasan spiritual atau SQ sebagai
modal pembentuk EQ dan SQ, serta adanya pengelolaan atau usaha untuk terus
mengasah ketajaman kualitas kecerdasan manusia yang lebih tinggi. Oleh karena
itu, untuk mengetahui masalah diatas, akan dijelaskan lebih lanjut dalam
makalah ini dan juga pengaruhnya dalam minat belajar siswa.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Apa sajakah pembahasan
mengenai IQ, EQ dan SQ.
2. Bagaimana
Pendekatan Belajar yang Berkaitan dengan IQ, EQ dan SQ.
3. Bagaimana
Analisa terhadap ketiga hal tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
IQ (INTELLIGENCE QUOTIENT)
1.
Pengertian IQ
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah suatu kemampuan mental
yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi
tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai
tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang
diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.[1]
Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan
seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan,
dapat dikatakan pula IQ atau Intelligence Quotient adalah ukuran kemampuan
intelektual, analisis, logika, dari seseorang yang merupakan kecerdasan otak
untuk menerima, menyimpan dan mengolah informasi menjadi fakta.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh
IQ memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut
penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar
umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan atau gen. IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai
seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan
dan kecelakaan karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi
perkembangan lagi bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami
berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar
pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik ( sakit
demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional.
Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai
berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan
IQ-nya, apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan
bahasanya akan lebih cepat dan banyak dibandingkan dengan anak yang IQnya
rendah.
Laurel Schmidt membagi kecerdasan dalam tujuh macam, antara lain
yaitu:
1. Kecerdasan
visual (kecerdasan gambar) yaitu untuk keterampilan atau bakat arsitak, seniman
dan designer
2. Kecerdasan
verbal atau linguistik (kecerdasan berbicara) yaitu keterampilan bagi mereka
yang memiliki kecerdasan pengarang atau menulis, guru, penyiar radio, pemandu
acara, presenter, pengacara, penterjemah, dan pelawak.
3. Kecerdasan musik yaitu keterampilan seperti
pengubah lagu, pemusik, penyanyi, disc jokey, guru seni suara, kritikus musik,
ahli terapi musik, audio mixier (pemandu suara dan bunyi).
4. Kecerdasan logis atau matematis (kecerdasan
angka) yaitu keterampilan bagi mereka yang memiliki kecerdasan seperti ahli
metematika, ahli astronomi, ahli pikir, ahli forensik, ahli tata kota , penaksir
kerugian asuransi, pialang saham.
5. Kecerdasan
interpersonal atau cerdas diri yaitu keterampilan atau keahlian bagi mereka
yang memiliki kecerdasan ini adalah ulama, pendeta, guru, pedagang,
resepsionis, pekerja sosial, perantara dagang, pengacara, manajer sumber daya
manusia.
6. Kecerdasan intrapersonal (cerdas bergaul)
yaitu profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan peneliti, ahli
kearsipan, ahli agama, ahli budaya, ahli purbakala, ahli etika kedokteran.[2]
2. Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, dua orang asal Perancis yaitu Alfred Binet dan
Theodor Simon merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk
mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus yaitu anak-anak
yang kurang pandai, alat tes itu dinamakan tes Binet-Simon. Tahun 1916, Lewis
Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes
Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang
menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological
age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini
sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama
William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ.
Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak
sampai usia 13 tahun. Salah
satu reaksi atas tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum, Charles
Sperman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor
yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang
lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence).
Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult
Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale
for Children) untuk anak-anak. Di samping alat-alat tes tersebut, banyak
dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan
dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
3.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi IQ Anak
A. Faktor bawaan
atau keturunan
Beberapa kalangan berpendapat bahwa faktor genetik
dapat mempengaruhi taraf intelegensi seseorang. Jika kedua orang tua memiliki
intelegensi, besar kemungkinan anaknya memiliki intelegensi tinggi pula. Akan tetapi
tidak semua fakta itu benar, ada yang kedua orang tuanya memiliki taraf
intelegensi tinggi tetapi mempunyai anak dengan taraf intelegensi tingkat
rata-rata atau bahkan dibawah rata-rata.Beberapa ahli berpendapat bahwa
pengaruh orang tua yang sedemikian besar terhadap perkembangan intelegensi anak
adalah lebih disebabkan oleh upaya orang tua itu sendiri dalam mendidik
anak-anaknya. Dr. Bernard Devlin dari fakultas kedokteran universitas Pitsburg
Amerika Serikat, memperkirakan faktor genetika memiliki peranan sebesar 48%
bentuk IQ anak, sedangkan sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika
anak masih dalam kandungan.
Jadi orang tua yang memiliki IQ tinggi bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber IQ tinggi pula.
Jadi orang tua yang memiliki IQ tinggi bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber IQ tinggi pula.
B.
Faktor Lingkungan
1. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang bertanggung
jawab terhadap pendidikan dan perkembangan anak dalam berbagai aspek, tugas
penting orang tua akan sangat mendukung apabila mampu menciptakan suasana rumah
menjadi tempat tinggal sekaligus sebagai basis pendidikan. Maka dari itu
lingkungan keluarga harus memberikan stimulus positif untuk menyiapkan kondisi
yang kondusif guna tercapainya perkembangan yang optimal bagi seorang anak. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan
intelegensi anak cukup besar, hasil penelitian menyimpulkan bahwa lingkungan keluarga berkorelasi
secara signifikan dengan perkembangan intelegensi anak.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Garber Ware disimpulkan bahwa semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung
semakin tinggi pula IQ anak.
1. Ada dua unsur penting
dalam keluarga yang sangat mempengaruhi perkembangan intelegensi anak yaitu: Adanya jumlah buku, majalah atau materi belajar
lainnya yang terdapat dalam lingkungan rumah.
2. Adanya ganjaran, pengakuan,
dan harapan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar di lingkungan
rumah, orang tua perlu menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Anak perlu diperhatikan. Perhatian kepada anak merasa senang dan terpadu dalam
melakukan kegiatan. Perhatian yang proporsional akan memunculkan motivasi atau
semangat anak, motivasi ini akan menggerakkan daya cipta yang didorong oleh
potensi yang sudah ada pada diri anak.
b. Anak mengalami tumbuh
kembang yang unik. Kegiatan belajar yang
dilakukan harus disesuaikan dengan tumbuh kembang anak yang terjadi. Anak
memiliki gaya belajar yang berbeda, ada anak yang lebih cepat mengolah
pengetahuan dengan pendengaran (auditory), gerakan (kinesthetic), dan dengan
cara melihat (visual).
c. Waktu kegiatan belajar
di rumah bisa lebih banyak.
Di rumah dapat digunakan untuk melakukan kegiatan belajar dengan tidak meninggalkan pertimbangan memberi keleluasaan dan kebebasan anak dalam melakukan kegiatan.[3]
Di rumah dapat digunakan untuk melakukan kegiatan belajar dengan tidak meninggalkan pertimbangan memberi keleluasaan dan kebebasan anak dalam melakukan kegiatan.[3]
2. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah yaitu lingkungan formal yang
mempunyai struktur dan program yang baku. Menurut hasil penelitian, bahwa otak
manusia pada saat dilahirkan kurang lebih sama. Makin banyak otak digunakan
makin banyak jaringan otak terbentuk, sebaliknya jika otak jarang digunakan
maka akan semakin berkurang jaringan otak tersebut. Maka dari itu, pendidikan
anak usia dini sangat penting dalam upaya optimalisasi potensi anak, dengan
demikian tuntutan bagi pendidik untuk menjadikan pengalaman belajar anak menjadi
pengalaman belajar yang menyenangkan untuk mengoptimalkan perkembangan anak di
masa yang akan datang.[4]
3. Lingkungan masyarakat
Dalam masyarakat anak akan bergaul dengan orang lain
sehingga baik langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi pembentukan
pribadi anak. Adapun fungsi peranan
masyarakat dalam pembentukan pola pikir anak:
a. Dengan melihat yang
terjadi di dalam masyarakat, anak akan mendapatkan pengalaman langsung sehingga
pengalaman tersebut akan mudah diingat.
b. Pendidikan anak-anak
yang berasal dari masyaakat akan kembali kemasyarakat juga.
c. Di masyarakat banyak sumber pengetahuan yang
mungkin belum didapat dari lingkungan formal lain.
4.
Langkah-langkah untuk menumbuhkan IQ
Adapun cara menumbuhkan IQ yaitu:
a. Melakukan
pembelajaran secara dini bagi anak. Kecerdasan anak tidak dapat tumbuh dengan
sendirinya, tetapi harus dirangsang, diantaranya dengaan melakukan pembelajaran
secara dini bagi anak. Seperti diperkenalkaan pada kegiatan membaca dan
menulis. Kegiatan semacam ini dapat merangsang daya ingat anak terhadap benda tersebut sekaligus memperkenalkan
anak akan bentuk huruf dan tulisan. Begitu pula dengan kemampuan dasar
matematika, dapat dirangsang melalui cara sederhana seperti menghitung jumlah
anak tangga, menghitung panjang masa dengan jengkal si anak, mengukur tinggi
dan berat badannya sendiri. Membangkitkan potensi anak tidak harus
menggunakan waktu yang terjadwal atau waktu khusus, namun dari semua kegiatan
sehari-hari yang dialami oleh anak bisa dijadikan media belajar anak untuk
merangsang dan mengasah segala potensi anak, seperti yang dikatakaan oleh Dr.
Seto Mulyadi mengajarkan kepada orang tua agar mengaitkan semua kegiatan
sehari-hari sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan, sehingga dapat
menumbuhkan keingintahuan yang besar serta kemampuaan logika yang baik.
b. Membangun stimulus pada
anak. Pengasuhan dan
penyediaan lingkungan yang kaya stimulus juga sangat penting dalam perkembangan
IQ anak, tanpa adanya stimulasi yang baik perkembangan intelegensi baik
intelektual maupun emosional tidak akan berkembang maksimal. Hasil puncak
stimulasi lingkungan yang optimal terjadi ketika anak berumur 6 tahun, maka
dari itu orang tua harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin dan memberikan
stimulasi seoptimal mungkin. Dalam memberikan
stimulasi pada anak, ada tiga aspek perkembangan
yang dibutuhkan yaitu:
§
Bahasa
Perkembangan
bahasa sangat tergantung dari stimulasi banyak mendengar kata-kata melalui
pembicaraan radio, type, dan kata-kata yang biasa diucapkan oleh orang tuanya,
serta melalui dongeng atau cerita.
§
Perkembangan Emosi
Perkembangan
emosi anak membutuhkan syarat mutlak yakni melalui pola asuh yang penuh perhatian
dan kasih sayang.
§
Musik
Stimulasi
melalui belajar musik sejak dini dapat membangun kapasitas otak untuk berfikir
visual spasial, matematika dan logika. Masa yang paling baik adalah usia tiga
sampai sepuluh tahun sebab stimulasi suara musik telah sempurna ditangkap oleh
otak.
5. Beberapa Ciri dari Perilaku Individu yang Memiliki Kecerdasan Tinggi
Adapun
ciri perilakuindividu yang memilikikecerdasan tinggi sebagai berikut:
a.
Memiliki
daya adaptasi yang tinggi yaitu perilaku cerdas cepat membaca dan menyesuaikan
diri dengan lingkungan.
b.
Perilaku cerdas berorientasi kepada keberhasilan yaitu tidak takut
gagal dan selalu optimis.
c.
Memiliki sikap jasmaniyah yang baik, yaitu jika seorang
siswa yang intelegen ketika pelajaran berlangsung duduk dengan baik,
menempatkan bahan yang dipelajari, dan memegang alat tulis dengan baik.
d.
Mempunyai motivasi yang tinggi.
e.
Memiliki kemampuan yang baik dalam bekerja dalam bilangan dan
keevesiensian dalam berbahasa.
f.
Kemampuan mengamati dan menarik kesimpulan dari hasil pengamatan
secara cepat dan tepat.
g.
Memiliki kemampuan mengingat yang cukup tinggi dan mempunyai
imajinasi yang tinggi
6.
Beberapa cara untuk meningkatkan IQ (Kecerdasan Intelektual)
Adapun cara meningkatkan IQ adalah:
a.
Makan secara teratur, serta makan makanan yang mengandung nutrisi
untuk kesehatan otak.
b.
Istirahat yang cukup.
c.
Memotivasi diri untuk selalu optimis dan menghilangkan rasa malas.
d.
Selalu berfikir positif.
e.
Dapat membagi waktu untuk
berbagai kegiatan yang dilakukan.
B. EQ (EMOTIONAL QUETIENT)
A. Pengertian EQ
Kecerdasan
emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengendalikan, dan menata perasaan
sendiri dan orang lain secara mendalam sehingga kehadirannya menyenangkan dan
didambakan oleh oaraang lain.
Daniel Goleman didalam buku kecerdasan emosi memberi tujuh kerangka kerja kecakapan ini, yaitu:
Daniel Goleman didalam buku kecerdasan emosi memberi tujuh kerangka kerja kecakapan ini, yaitu:
1.
Kecakapan pribadi yaitu kecakapan dalam mengelola diri sendiri.
2. Kesadaran diri
yaitu bentuk kecakapan utuk mengetahui kondisi diri sendiri dan rasa percaya
diri yang tinggi.
3. Pengaturan diri
yaitu bentuk kecakapan dalam mengendalikaan diri dan mengembangkan sifat
seperti dipercaya , kewaspadaan , adaptabilitas, dan inovasi.
4. Motivasi yaitu
bentuk kecakapan untuk meraih prestasi , berkomitmen, berinisiatif, dan
optimis.
5. Kecakapan
sosial yaitu bentuk kecakapan dalam menentukan seseorang harus menangani suatu
hubungan.
6. Empati
yaitu bentuk kecakapan untuk memahami orang lain, berorientasi pelayanan dengan
mengembangkan orang lain. Mengatasi keragmana orang lain dan kesadaran politis.
7. Ketrampilan sosial yaitu betuk kecakapan dalam
menggugah tenggapan yang dikehendaki pada orang lain . kecakapan ini meliputi
pengaruh , komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik,
pengikat jaringan, kolaboradi dan kooperasi serta kemampuan tim.[6]
B. Jenis dan Sifat Emosi
Kecerdasan
emosional juga dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan
mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Seseorang dapat melakukan
sesuatu dengan didorong oleh emosi, dalam arti bagaimana yang bersangkutan
dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menjadi begitu tidak rasional
pada saat yang lain. Dengan demikian, emosi mempunyai nalar dan logikanya
sendiri. Tidak setiap orang dapat memberikan respon yang sama terhadap
kecenderungan emosinya. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual
dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari
berbagai segi.
Hubungan antara
otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. Antara satu
dengan lainnya saling menentukan. Daniel Goleman menggambarkan bahwa otak
berfikir harus tumbuh dari wilayah otak emosional. Beberapa hasil penelitian
membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki
kecerdasan intelektual.
Jenis dan sifat emosi dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.
Amarah: Bringas, mengamuk, benci, marah besar, jenkel, kesal hati,
terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, sampai kepada kebencian bersifat
patologis.
2.
Kesediahan: Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani
diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.
3.
Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut
sekali, khawatir, waspada, tidak tenang, negeri, kecut, fobia, dan panik.
4.
Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang,
terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa
terpenuhi, kegirangan luar biasa, dan batas ujungnya mania.
5.
Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa
dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih.
6.
Terkejut: terkesima, takjub, terpana.
7.
Jengkel: hina, jijik, muak, mual, dan benci.
8.
Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, aib, dan hati
hancur lebur.
C.
Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosi
(EQ).
1.
Mengenali emosi diri
Ketrampilan ini
meliputi kemampuan Anda untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya Anda
rasakan.
2.
Melepaskan emosi negative
Kemampuan untuk memahami dampak dari
emosi negatif terhadap diri Anda.
3.
Mengelola emosi diri sendiri
Ada bebrapa cara untuk mengelola
emosi yang pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada
Anda. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini
bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan
bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola
emosi adalah bentuk pengendalian diri yang paling penting dalam manajemen diri,
karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan
sebaliknya.
4.
Memotivasi diri sendiri.
Menata emosi sebagai alat untuk
mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi
perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk
berkreasi. Kendali diri emosional–menahan diri terhadap kepuasan dan
mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.
5.
Mengenali emosi orang lain.
Mengenali emosi orang lain berarti
kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan
ketrampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang
lain. Inilah yang disebut sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih
dahulu sebelum dimengerti. Ketrampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan
dengan manusia secara efektif.
6.
Mengelola emosi orang lain
Jika ketrampilan mengenali emosi
orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antar pribadi, maka ketrampilan
mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang
lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun
atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar manusia.
7.
Memotivasi orang lain
Ketrampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari
ketrampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Ketrampilan ini adalah
bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi,
mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini
erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan
andal.[7]
D. Karakter Orang yang Ber-EQ Tinggi.
1.
PRIA
a.
Secara sosial mantap.
b.
Mudah bergaul.
c.
Tidak mudah gelisah dan takut.
d.
Bertanggungjawab.
e.
Humoris.
f.
Bermoral.
g.
Simpatik dan hangat dalam berhubungan.
h.
Kehidupan emosionalnya kaya dan wajar.
i.
Nyaman dengan dirinya dan orang lain.
2.
WANITA
a.
Tegas dan berani mengungkapkan perasaannya secara langsung dan
wajar.
b.
Berfikir positif, mudah bergaul dan ramah.
c.
Mudah menerima orang baru.
C. SQ (SPIRITUAL QUETIENT)
A. Pengertian SQ
Kecerdasan
spritual tersusun dalam dua kata yaitu “kecerdasan” dan “spiritual”. Kecerdasan
adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, terutama
masalah yang menuntut kemampuan fikiran. Berbagai batasan-batasan yang
dikemukakan oleh para ahli didasarkan pada teorinya masing-masing. Ciri SQ
definisi menurut para ahli Spiritual adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri,
nilai-nilai, moral, dan rasa memiliki. Ia memberi arah dan arti bagi kehidupan
kita tentang kepercayaan mengenai adanya kekuatan non fisik yang lebih besar
dari pada kekuatan diri kita yang merupakan suatu kesadaran untuk menghubungkan
kita langsung dengan Tuhan, atau apa pun yang kita namakan sebagai sumber
keberadaan kita.[9]
Jadi
berdasarkan pendapat -pendapat tersebut kecerdasan spiritual dapat diartikan
sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi dan memecahkan masalah persoalan
makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menenempatkan perilaku dan hidup kita
dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa
tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang
lain. Saat ini, pada
akhir abad ke-20, serangkain data ilmiah terbaru, yang sejauh ini belum
dibahas, menunjukan adanya “Q” jenis ketiga. Gambaran utuh kecerdasan manusia
dapat dilengkapi dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual (SQ). Kamus
webster mendefinikasikan ruh sebagai “prinsip yang menghidupkan atau vital, hal
yang memberi kehidupan pada organisme fisik dan bukan pada unsur materinya,
nafas kehidupan.
Pada dasarnya
manusia adalah mahluk spiritual karena selalu terdorong oleh kebutuhan untuk
mengajukan pertanyaan mendasar atau pokok. Dalam pembahasan mengenai dasar
neurologis SQ, secara harfiah SQ beroperasi dari pusat otak yaitu dari
fungi-fungsi penyatu otak. SQ mengintegrasikan semua kecerdasan kita, SQ
menjadikan kita mahluk yang benar benar utuh secara intelektual, emosional,
spiritual.
B.
Memahami SQ
Banyak sekali
karya kreatif, yang tentunya dihasilkan oleh orang-orang cerdas, yang
manfaatnya banyak dirasakan masyarakat. Lalu apa makna kreatif ini bagi para
penciptanya sendiri. Sudah barang tentu sangat banyak disamping materi,
pengahargaan, berbagai kemudahan dan perlakuan istimewa, ia telah berarti
mewujudkan misi hidup manusia yang primordial, yakni khalifah Allah yang
menjadi rahmat bagi semesta.
Ada tiga pola
kerja manusia yang harus kita mengerti, pertama pola kerja manual yakni pola
kerja yang mengandalkan otot atau tenaga fisik seperti perkerjaan angkat
junjung membersihkan rumah dan sebagainya. Kedua pola kerja admisnistratif
yakni pola pekerjaan yang mengandalkan rasio seperti mengetik, menghitung dan
sebagainya. Ketiga pola pekerjaan kreatif yakni pola pekerjaan yang lebih
mengandalkan kemampuan dan kesucian inteleksi. Berbeda dengan rasio inteleksi
lebih merujuk pada kemampuan manusia untuk menyerap inspirasi, simbol-simbol
dan melahirkan ide-ide baru. Ia lebih bersifat spiritual dan metafisik dan
disini campur tangan illahi lebih bersifat langsung karena itulah dapat
dikatakan bahwa inteleksi lebih merujuk pada pengertian qul (hati), dan aql
(akal) dalam maknanya prisipal. Model kecerdasan pun lebih bersifat spiritual,
yang terfleksi dalam penemuan-penemuan baru, orisinil, kreatif, dan inspiratif.
Personofikasi
paling sempurna tipe manusia yang berhasil mengaktualkan intelegensi spiritual
adalah Rasulullah SAW. Beliau dari kecil adalah orang yang Ummi, tidak bisa
membaca dan menulis secara literal dan karena itu tak satupun buku telah
dibacanya, namun demikian beliaulah manusia paling arif dan cerdas baik sebelum
menjadi rasul apalagi ketika menjadi rasul.
Ekespresi
kecerdasan yang ditunjukan rasulullah itu begitu murni dan asli tetapi hasilnya
luar biasa. Lalu siapakah yang mengajari beliau, sehingga memiliki kecerdasan
demikian cemerlang? Dalam batas-batas manusiawi, tak ada seorangpun yang
mengajari beliau, tetapi bisa dikatakan dengan masalah kecerdaasan ini adalah
karena beliau memelihara fitrahnya sendiri secara baik, tanpa mengotorinya
dengan perilaku buruk, egoisme dan sebagainya, sehingga fitrah itulah menjadi
aktual. Dengan fitrah itulah beliau mempresepsi, berinteraksi dan mengantisipasi
persoalan persoalan kehidupan.
C.
Menggunakan SQ
Dalam istilah
evolusioner, karya neurobiologis tentang bahasa dan representasi simbolis
deacon menunjukan bahwa kita telah menggunakan SQ secara harfiah untuk
menumbuhkan otak manusia kita. SQ telah menyalakan kita untuk menjadi manusia
apa adanya sekarang dan memberi potensi untuk menyala lagi untuk tumbuh dan
berubah serta menjalani lebih lanjut evolusi potensi manusiawi kita. Kita menggunakan SQ untuk berhadapan dengan masalah
eksistensial yaitu saat kita secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh
kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalu kita misalnya akibat penyakit
dan kesedihan. SQ menjadikan
kita sadar bahwa kita mempunyai masalah eksitensial dan membuat kita mampu
mengatasinya atau setidaknya bisa berdamai dengan masalah tersebut.[10]
Kita dapat
menggunakan SQ untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama. SQ
membawa kita ke jantung segala hal, sesuatu ke kesatuan dibalik perbedaan, ke
potensi di balik ekspresi nyata. SQ mampu menghubungkan kita dengan makna dan
ruh esensial dibelakang semua agama besar. SQ
memungkinkan kita untuk menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan
interpresonal, serta menjembatani kesenjangan antara diri dan orang lain.
Daniel goleman telah menulis tentang emosi-emosi intrapersonal atau di dalam
diri dan emosi interpersonal yaitu yang sama-sama dimiliki kita maupun orang
lain atau yang kita gunakan untuk berhubungan dengan orang lain. Kita
menggunakan SQ untuk untuk mencapai perkembangan diri yang lebih utuh karena
kita memilik potensi untuk itu. Kita masing masing membentuk suatu karakter
melalui gabungan pengalaman dan visi, ketegangan antara apa yang benar-benar
kita lakukan dan hal hal yang lebih besar dan lebih baik yang mungkin kita
lakukan.[11]
Pada tingkatan
ego murni kita kita adalah egois, ambisius terhadap materi, serba kaku dan
sebagainya. Akhirnya kita
dapat menggunakan SQ kita untuk berhadapan dengan masalah baik dan jahat, hidup
dan mati, dan asal-usul sejati dari penderitaan dan keputusan manusia. Kita
terlalu sering berusaha merasionalkan begitu saja masalah semacam ini, atau
kita terhanyut secara emosional atau hancur karenanya.
D.
Menguji SQ.
Tanda-tanda
dari SQ sudah berkembang dengan baik mencakup hal-hal berikut.
a.
Kemampuan bersikap fleksibel.
b.
Tingakt kesadaran yang
tinggi.
c.
Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
d.
Kemampuan untuk menghadapi dan melampui rasa sakit.
e.
Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
f.
Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
g.
Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal.
h.
Kecenderungan nyata untuk bertanya”mengapa” ? atau bagaimana jika?
Untuk mencari jawaban jawaban yang mendasar.
i.
Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai
bidang mandiri yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi
seseorang yang SQ nya juga cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh
pengabdian, yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan
nilai yang lebih tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk
penggunaannya.
E.
Cara untuk Meningkatkan SQ
SQ kolektif
dalam masyarakt modern adalah rendah. Kita berada dalam budaya yang secara
spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, ketergesaan, egoisme diri yang
sempit, kehilangan makna dan komitmen. Namun, sebagai individu kita dapat
meningkatkan SQ kita evolusi lebih jauh dari masyarakat bergantung pada
individu yang melakukan peningkatan itu. Secara umum, kita dapat meningkan SQ
kita dengan meningkatkan penggunaan proses tersier psikologis kita yaitu
kecenderungan kita untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan anatara
segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna di
balik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau
diluar diri kita, kita bertanggung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur
terhadap diri sendiri dan lebih pemberani.[12]
Melalui penggunaan kecerdasan spiritual kita
secara terlatih dan melalui kejujuran serta keberanian diri yang dibutuhkan
bagi pelatihan semacam itu, kita dapat berhubungan kembali dengan sumber dan
makna terdalam di dalam diri kita. Kita
dapat menggunakan perhubungan itu untuk mencapai tujuan dan proses yang lebih
luas dari diri kita. Dalam pengabdian semacam itu, kita akan menemukan
keselamatan kita. Keselamatan terdalam kita mungkin terletak pada pengabdian
imajinasi kita yang terdalam.
D.
MINAT BELAJAR SISWA
BERDASARKAN IQ, EQ DAN SQ
Didalam kehidupan sehari-hari orang yang memiliki kemampuan tinggi
(IQ) namun gagal karena rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki. Sebaliknya
orang yang memiliki kemampuan intelektual biasa saja namun sukses dalam bekerja
ataupun dalam berhubungan dengan masyarakat. Di dalam pendidikan yang ada
terlalu menekankan pentingnya nilai akademik (kecerdasan otak atau IQ ) saja.
Pada dasarnya anak yang memiliki IQ tinggi
akan mudah menerima pengetahuan atau pelajaran yang disampaikan oleh guru
ataupun pendidik, baik dalam keterampilan bahasa, berbicara ataupun menghitung
tetapi jika seorang anak memiliki IQ rendah maka ia memiliki kemampuan yang
kurang optimal dalam mencerna pengetahuan yang diberikan, begitu pula dengan EQ
seseorang biasanya orang yang mempunyai EQ tinggi dapat dengan mudah merasakan
hubungannya dengan manusia seperti rasa empati, sosialisasi, organisasi dan
penyesuaian diri terhadap lingkungan atau masyarakat tetapi orang yang memilki
EQ rendah akan sulit bergaul dengan orang lain, sama halnya dengan seorang anak
yang memiliki IQ tinggi tetapi EQnya rendah, mungkin secara akademik ia cerdas
tetapi saat di lingkungan ia sulit berkumpul dengan masyarakat karena kurangnya
kecakapan sosilnya kurang.[13]
Hal ini tidak jauh berbeda dengan adanya ESQ
pada diri seseorang. Orang yang mempunyai ESQ tinggi dapat mengambil hikmah
yang dihadapi baik pengalamlan yang baik maupun yang buruk, dan orang yang
mempunyai ESQ tinggi dapat memperbaiki pengalaman yang kurang baik. Sedangkan orang yang memiliki ESQ rendah dengan mudah berputus asa.
Contoh dalam penerapan pembelajaran yaitu dalam kegiatan sekolah umum anak
tersebut dapat memperoleh IQ dan EQ, sedang ESQ pada saat anak mengikuti
kegiatan belajar dalam suatu kegiatan pendidikan non formal, seperti
mengaji dan disitulah anak dapat memperoleh pembelajaran-pembelajaran yang lebih
mengarah pada ESQ manusia. Jadi IQ, EQ, dan SQ berpengaruh terhadap minat belajar siswa karena dengan
itu semua siswa dapat lebih mudah dalam belajar dan tidak cepat putus asa oleh
kesulitan-kesulitan yang di hadapi dalam belajar. Begitu juga sebaliknya, orang
yang tidak memiliki atau memiliki tetapi rendah pasti akan berpengaruh terhadap
minatnya dalam belajar karna ditemukannya kesulitan yang banyak dalam belajar.
E.
ANALISA
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang
dibekali dengan kemampuan otak dan daya nalar yang disebut dengan IQ, kemampuan
berfikir dianggap sebagai hal yang paling penting sedangkan potensi lain
merupakan hal yang sekunder, pola pikir dan cara pandang yang demikian telah
mewujudkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, perilaku dan
pola hidup sangat minim dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang
cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya,
mereka memiliki kepribadian yang terbelah (split personality) dimana tidak
terjadi integrasi antara otak dan hati, kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan
krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Seorang yang ber EQ tinggi namun mempunyai IQ
yang lemah maka akan sulit menjalin komunikasi dan berorganisasi dengan baik,
misalnya jika seorang anak secara akademik lemah maka ia akan sulit untuk menerima
pelajaran dari guru ataupun belajar secara berkelompok dari sekolah namun ia
mempunyai emosional yang tinggi sehingga dia mampu berempati, memahami,
mengendalikan emosi, bersosialisasi dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai
dengan situasi yang ada. Seseorang juga dapat sukses dengan mempunyai
kecerdasan IQ dan EQ, contohnya yaitu seorang koruptor, tentunya dia harus
cerdas berstrategi, serta pelaksanaan strategi, bernegosiasi, berkomunikasi,
dan mampu merebut hati orang agar mau di ajak berkompromi dengannya. Mereka
terlihat mempunyai semangat juang tinggi, selalu tampak berwibawa dan percaya
diri namun niat dan ahklaknya sangat buruk, itulah bentuk IQ, EQ bila tidak
memiliki SQ.[14]
Dengan minimnya kesadaran individu akan
pentingnya keseimbangan ketiga unsur tersebut maka mereka akan lebih
mementingkan salah satunya dan meninggalkan unsur lain, akibatnya akan terjadi
ketidakseimbangan pada diri manusia dalam pembentukan kecerdasan secara
sempurna. Bahkan di beberapa sekolah, mata pelajaran agama atau Pendidikan
Agama Islam yang seharusnya menjadi medium utama dalam penerapan dan
pengembangan kecerdasan spiritual, kebanyakan hanya berbasis hapalan yang lebih
mengacu pada kecerdasan intelektual saja. Penerapan dan sistim pendidikan kita sekarang mungkin sudah sesuai
dengan prinsip perkembangan kecerdasan intelektual seperti pendidikan
matematika, bahasa, sejarah dan pelajaran lainnya yang bahkan sampai 3 atau 4
kali pertemuan dalam satu minggu, sedangkan untuk mat elajaran agama hanya 2 jam
pertemuan dalam satu minggu.
Hal tersebut memberi dampak perubahan bahwa
kesukesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir
saja akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan
kecerdasan spiritual (SQ), dan selama ini banyak kesalahan dalam pembinaan
pembentukan Sumber Daya Manusia yakni terlalu mengedepankan IQ dan mengabaikan
EQ serta SQ, untuk menghasilkan pribadi yang utuh secara intelektual,
emosional, dan spiritual maka harus mampu menggabungkan dan menyatukan IQ, EQ,
dan SQ secara maksimal karna ketiga kecerdasan ini adalah perangkat yang
bekerja dalam satu sistem yang saling terkait dalam diri manusia yang tidak
dapat dipisahkan secara fungsinya.[15]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dengan teori diatas sudah sangat jelas bahwa
manusia merupakan makhluk yang sangat sempurna atas ciptaan Tuhannya karena
merupakan satu-satunya makhluk yang mempunyai IQ, EQ dan SQ. Ketiga komponen
tersebut tidak dapat dipisahkan meskipun perkembangannya berbeda-beda dan
mempunyai proporsi yang berbeda, sehingga terkadang terjadi ketidak seimbangan
dalam kecerdasan seseorang, hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor baik
intern ataupu ekstern. Sehingga
diperlukan upaya untuk meningkatkan ketiga komponen tersebut melalui berbagai
kegiatan
B.
Saran
Penulis
menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis
mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan pada penulisan
makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Munandir, Ensiklopedia Pendidikan, Malang: UM Press, 2001.
Doe, Mimi dan Marsha Walch, 10 Prinsip Spiritual Parenting:
Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak Anda, Bandung: Kaifa, 2001.
Zohar, Danah dan Ian Marshal, SQ Kecerdasan Spiritual,
Bandun: Mizan, 2001.
Suharsono, Melejitkan IQ, IE dan IS, Depok: Inisiasi Press,
2004.
www. Psikologizone.com diakses tanggal 19/12/2016
Https://Ramliman76.blogspot.co.id/2013/06/bab-pengaruh-kecerdasan-emosional-eq.html
diakses tanggal 18/12/2016
Https://Hasmisabirin.blogspot.co.id/2009/05/perkembangan-iq-eq-dan-sq.html
diakses tanggal 21/12/2016
Https://fadhlyashary.blogspot.com/2012/04/pengertian-iq-eq-sq-dan-esq.html diakses tanggal 19/12/2016
Https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/11/iq-eq-dan-sq diakses tanggal 20/12/2016
[1] Https://fadhlyashary.blogspot.com/2012/04/pengertian-iq-eq-sq-dan-esq.html diakses tanggal 19/12/2016
[3] Mimi Doe, dan Marsha Walch, 10 Prinsip Spiritual Parenting:
Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak Anda (Bandung: Kaifa, 2001) 80.
[5] Https://Hasmisabirin.blogspot.co.id/2009/05/perkembangan-iq-eq-dan-sq.html
diakses tanggal 21/12/2016
[6] Mimi Doe, dan Marsha Walch, 10 Prinsip Spiritual Parenting:
Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak Anda (Bandung: Kaifa, 2001) 86.
[7] Https://Ramliman76.blogspot.co.id/2013/06/bab-pengaruh-kecerdasan-emosional-eq.html
diakses tanggal 18/12/2016
[9] Https://fadhlyashary.blogspot.com/2012/04/pengertian-iq-eq-sq-dan-esq.html diakses tanggal 19/12/2016
[12] Https://Hasmisabirin.blogspot.co.id/2009/05/perkembangan-iq-eq-dan-sq.html
diakses tanggal 21/12/2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar