Senin, 20 Maret 2017

permasalahan pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan tidak bisa terlepas dari kehidupan setiap manusia, karena pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih baik, sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antar bangsa.  Hal ini berarti pendidikan nasional mempunyai tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia yang baik, yang dapat berguna dalam pembangunan dimasa depan.  Derap langkah pembangunan sendiri selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman.  Tetapi, perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru, yang sebagiannya tidak dapat diramalkan sebelumnya.  Sebagai konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Masalah-masalah tersebut kemudian berdampak kepada kualitas  sumber daya manusia dan pendidikan. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai permasalahan pokok pendidikan.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)        Bagaimana permasalahan pokok pendidikan
2)        Apa saja jenis permasalahan pokok pendidikan
3)        Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan permasalahan pendidikan

C.   Tujuan Penulisan
1.        Memahami permasalahan pokok pendidikan.
2.        Mengetahui jenis permasalahan pendidikan beserta penanngulangannya.
3.        Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permasalahan pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Permasalahan Pokok Pendidikan
Sistem pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat sebagai suprasistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak memiliki arti apa-apa, jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai suprasistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalah interen sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalah interen dalam sistem pendidikan selalu ada kaitannya dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar.
Berasarkan kenyataan tesebut, maka penanggulangan masalah  pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen antara pihak yang terkait.
Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yakni :
a. Bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
b. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan masyarakat.
B. Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan
            Masalah pokok pendidikan yang telah menjadi keepakatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud itu, adalah :
1. Masalah pemerataan pendidikan
2. Masalah mutu pendidikan
3. Masalah efisiensi pendidikan
4. Masalah relevansi pendidikan
Ø  Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional , pendidikan diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas – luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah masalah bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas – luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumberdaya manusia untuk menunjang pembangunan.[1] Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara, khususnya usia anak sekolah tidak dapat ditampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
Masalah pemerataan pendidikan di pandang penting karena jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia, baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan.
v  Pemecahan Permasalahan Pemerataan Pendidikan
Banyak macam masalah yang telah dan sedang dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah – langkah ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif.
·         Cara konvensional antara lain :
a. Membangun gedung sekolah, seperti SD inpres dan atau ruang belajar,
b. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian).
Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar adalah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat/keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
·         Cara inovatif antara lain :
a. Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orangtua dan guru) atau INPACT (instructional management by parent, community and Teacher). Sistem tersebut dirintis di Solo dan didesiminasikan ke beberapa provinsi.
b. SD kecil pada daerah terpencil,
c. Sistem Guru Kunjung,
d. SMP Terbuka ( ISOSA-In School out of School Aproach ),
e.  Kejar paket A dan B,
f.  Belajar Jarak jauh seperti Universitas terbuka.
Ø  Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan, penetapan mutu hasil pendidikan dilakukan oleh lembaga penghasil luaran dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian  dilakukan oleh lembaga pemakai, sebagai konsumen tenaga kerja dengan sistem  tes untuk kerja. Lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan/pemagangan baik calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja di lapangan.
Berhubung dengan sulitnya pengukuran terhadap produk keluaran suatu sistem pendidikan, maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mengasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai EBTA, EBTANAS, UAS, Sipenmaru, karena ini yang mudah diukur. Hasil ujian tersebut itu dipandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.
Padahal hasil belajar  yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar  tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika terjadi belajar yang tidak optimal akan menghasilkan skor ujian yang baik, maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masa pemrosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri peserta didik, tenaga kependidikan,  kurikulum, sarana pembelajaran, bahkan juga masyarakat sekitar.
v  Pemecahan Pemerataan Mutu Pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen, sebagai berikut :[2]
1. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya SLTA dan PT.
2. Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan  melalui studi lanjut misalnya pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain.
3. Penyempurnaan kurikulum.
4. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar.
5. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran dan peralatan laboratorium.
6.  Peningkatan administrasi manajemen khususnya mengenai anggaran.
7.  Kegiatan pengendalian mutu berupa kegiatan-kegiatan :
a. Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan.
b. Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas.
c. Sistem ujian nasional /negara seperti UAN, EBTANAS, Sipenmaru.
d. Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga.
Ø  Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting,adalah:
a.   Masalah efisiensi dalam mefungsikan tenaga
Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan dan pengembangan tenaga. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini, jatah pengangkatan setiap tahunnya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga di lapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang setiap diangkat lebih besar dari pada kebutuhan dilapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga tersedia tidak difungsikan. Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru.
b.  Masalah efisiensi dalam penggunaan sarana dan prasarana
Penggunaan sarana dan prasarana pendidikan yang tidak efisiensi bisa terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan juga karena perubahan kurikulum. Perubahan sering membawa akibat tidak dipakainya lagi buku siswa pegangan guru beserta perangkat lainnya, karena harus diganti dengan buku-buku yang baru. Misalnya perubahan kurikulum 1975/1976 digantikan dengan kurikulum 1984 bahkan sementara buku baru belum rampung disiapkan, kurikulum sudah berubah lagi yaitu dengan munculnya kurikulum 1994. Tetapi bagaimana pun juga pembaharuan kurikulum merupakan tindakan antisipasi terhadap pemberian bekal bagi calon luaran sesuai dengan tuntutan zaman.
Ø  Masalah Relevansi Pendidikan
Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam sektor produksi, sektor jasa dll. Baik dari segi jumlah maupun segi kualitas. Kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang pekerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:
1. Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
2. Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai, yang ada adalah siap kembang/latih.
3. Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.
C. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Permasalahan Pendidikan
Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan di atas merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung didalam sistem pendidikan sendiri. Masalah makro antara lain masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi, sosial budaya, dan masalah perkembangan regional.
Uraian selanjutnya akan mengemukakan masalah-masalah makro yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan masalah pendidikan, yaitu:[3]
1. Perkembangan Iptek dan Seni
a.  Perkembangan Iptek
Terdapat hubungan erat antara pendidikan dengan iptek. Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksploitasi secara sistematis dan terorganisir mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi hidup masyarakat. Suatu teknologi baru digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai berkembangnya gaya hidup yang baru. Semua perubahan tersebut tentu membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya. Hal ini sudah disinggung dalam butir 3 masalah efisiensi pendidikan tentang perubahan kurikulum.
b.  Perkembangan Seni
Kesenian adalah merupkan aktivitas berkreasi manusia secara individual atau kelompok menghasilkan sesuatu yang indah. Berksenian mejadi kebutuhan hidup manusia. Melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinal (bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni membutuhkan pengembangan.
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai  adil yang besar, karena dapat mengisi pengembangan domain afektif khususnya emosi yang positif  dan konstruktif serta keterampilan disamping domain kongnitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi lain.
Dilihat dari lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.
2. Laju Pertumbuhan Penduduk.
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu :
a.  Pertambahan Penduduk.
Pertambahan penduduk gambarannya sebagai berikut:
Dari sekarang hingga abad XXI, terus menerus akan terjadi pertambahan penduduk, meskipun gerakan keluaga berencana beberapa waktu yang lalu berhasil. Sebabnya karena kematian menurun lebih cepat (45%) dari turunnya tingkat kelahiran (35%). Hal tersebut juga mengakibatkan berubahnya susunan umur penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyediaan sarana dan prasarana pendidikan beserta  komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata, penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu propinsi penduduk usia lanjut, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan dibidang gizi dan kesehatan.
b.  Penyebaran Penduduk.
Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk terutama di kota-kota besar dan daerah yang penduduknya jarang, yaitu didaerah pedalaman khususnya didaerah terpencil yang berlokasi pegunungan dan pulau-pulau. Sebaran penduduk ini   menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Sebagai contoh adalah dibangunnya SD kecil untuk melayani kebutuhan akan pendidikan didaerah terpencil pada pelita V, disamping SD yang reguler. Belum lagi kesulitan dalam penempatan guru. Peristiwa ini menimbulkan pola yang dinamis dan labil yang lebih menyulitkan perencanaan penyediaan sarana pendidikan.
3. Aspirasi masyarakat
Dalam dua dasawarsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat khususnya aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai meihat bahwa untuk hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Sebagain akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan itu maka orangtua mendorong anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik dari pada orangtuanya sendiri. Sehingga gejala yang timbul yaitu membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat.  Di kota-kota disamping pendidikan formal mulai bermunculan beraneka ragam pendidikan non formal. Namun demikian tidak berarti bahwa aspirasi terhadap pendidikan harus diredam, justru sebaliknya harus tetap dibangkitkan dan ditingkatkan, utamanya pada masyarakat yang belum maju dan masyarakat didaerah terpencil, sebab aspirasi menjadi motor penggerak roda kemajuan.
4. Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
            Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Semestinya masyarakat luar itu hanya melihat bagaimana kesesuian kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. Perubahan kebudayaan terjadi karena adanya penemuan baru baik dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri. Keterbelakangan budaya terjadi karena:
     a.  Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat.
b. Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budaya baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendi masyarakat.
c. Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa permasalahan pendidikan yang harus diprioritaskan adalah masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, dan relevansi pendidikan. Tidak hanya itu permasalahan pendidikan berkembang karena adanya faktor, yaitu perkembangan Iptek dan seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat, dan keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Dengan kita mengetahui semua permasalahan pendidikan, kita sebagai generasi penerus bangsa dapat menemukan solusi yang lebih baik sehingga pendidikan di indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju.


B.                 Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA


Tirtarahardja, Umar dan S. L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008.






[2] Umar Tirtarahardja dan S. L. La Sulo, Pengantar Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008) 234.

[3] Umar Tirtarahardja dan S. L. La Sulo, Pengantar Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008) 241.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...