AGAMA,
TATARAN USIA DAN KEMATIAN
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam tingkat urgensitas kebutuhan inilah manusia
tidak akan mampu terlepas dari kodrat, yaitu kodrat bahwa manusia membutuhkan
Tuhan atau dalam bahasa sederhana manusia membutuhkan agama atau kepercayaan
yang dijadikan pedoman dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan. Agama pada dasarnya harus ditanamkan pada manusia
dengan tahapan sesuai dengan usia dan kebutuhan masing-masing agar sesuai
dengan kemampuan manusia untuk menerima kenyataan akan hal-hal yang tidak
selamanya rasional.
Jiwa keagamaan yang termasuk aspek rohani
(psikis) akan sangat tergantung dari perkembangan aspek fisik dan demikian pula
sebaliknya. Oleh
karena itu, sering dikatakan bahwa kesehatan fisik akan berpengaruh pada
kesehatan mental. Selain itu perkembangan keagamaan
dan tindak lanjut keagamaan di tentukan oleh tingkat usia. Psikologi sebagai sebuah ilmu
yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian
sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam
kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai
sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia
hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak. Oleh karena
itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai agama, tataran usia dan kematian.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang
dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)
Apa pengertian agama, tataran usia
dan kematian.
2)
Bagaimana bentuk agama pada tataran
usia.
3)
Bagaimana pandangan agama terhadap kematian.
4)
Bagaimana pengaruh tataran usia
dalam menghadapi kematian.
II.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Agama, Tataran Usia, dan Kematian
1. Agama
Agama berasal dari bahasa Sansekerta
yang bermakna tradisi atau “a” yang bermakna tidak dan “gama” bermakna kacau.
Sehingga agama bisa diartikan sebagai tidak kacau. Selain itu, agama juga bisa
diartikan sebagai suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan
manusia ke arah dan tujuan tertentu. Agama dilihat sebagai kepercayaan dan pola
perilaku yang dimiliki oleh manusia untuk menangani masalah. Agama adalah suatu
sistem yang dipadukan mengenai kepercayaan dan praktik suci. Agama adalah
pegangan atau pedoman untuk mencapai hidup kekal. Agama adalah konsep hubungan
dengan Tuhan.[1]
Berikut beberapa pendapat ahli
tentang definisi Agama
Ø
Menurut Anthony F.C. Wallace,
agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan
menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya
perubahan keadaan pada manusia dan semesta.
Ø
Menurut Emile Durkheim,
agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan
praktik yang berhubungan dengan hal yang suci.
Ø
Menurut Parsons &
Bellah, agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya
manusia.
Ø
Menurut Harun Nasution,
agama dilihat dari sudut muatan atau isi yang terkandung di dalamnya merupakan
suatu kumpulan tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan yang terhimpun dalam
suatu kitab, selain itu beliau mengatakan bahwa agama merupakan suatu ikatan
yang harus dipegang dan dipatuhi.[2]
Berdasarkan
beberapa defenisi agama di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agama
adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan
kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan yang berguna dalam
mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar
menjadi lebih baik.
2. Tataran Usia
Umur atau usia adalah satuan waktu
yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun
yang mati. Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia
lahir hingga waktu umur itu dihitung. Oleh yang demikian, umur itu diukur dari
tarikh ianya lahir sehingga tarikh semasa (masa kini). Manakala usia pula
diukur dari tarikh kejadian itu bermula sehinggalah tarikh semasa (masa kini)
Tataran usia secara umum dibagi menjadi 4, yakni:
·
Kanak-kanak (sekitar umur > 13 tahun)
·
Remaja (sekitar umur 13 – 21 tahun)
·
Dewasa (sekitar umur 22 - 64)
·
Lansia (sekitar umur 64 < )
3. Kematian
Dalam bahasa Yunani ‘kematian’
disebut thanatos. Thanatos berarti
bentuk kematian atau keadaan mati. Tetapi kata ini juga dipakai untuk
mengungkapkan hal berbahaya yang mematikan, bagaimana kematian, ancaman
kematian. Thanatos berarti membuat seseorang mati, membunuh, dan
mengakibatkan sesuatu hal berbahaya yang mematikan.[3]
Kematian adalah jangka waktu ketika kita melewati dengan sendiri dunia yang
tidak kelihatan. Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya
Ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika
jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya
Ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya Ruh dengan Jasad.
B.
Bentuk Agama pada Tataran Usia
1. Agama pada Masa Anak-Anak
Menurut
Elizabeth
B. Hurlock periodesasi yang dirumuskanbdalam
masa ini terdiri dari tiga tahapan,
yaitu:
· 0
– 2 tahun (masa vital)
· 2
– 6 tahun (masa kanak- kanak)
· 6
– 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari
kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima
secara acuh.[4]
Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak
dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap
tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang
akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang
menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya
yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas,
maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.[5]
Menurut teori
Freud, Tuhan bagi anak adalah orang tua yang diproyeksikan. Dari lingkungan
yang penuh kasih sayang yang diciptakan oleh orang tua, maka lahirlah
pengalaman keagamaan yang mendalam.[6]
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia
merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling
bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya
tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat
lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan
kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh,
takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun
perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima
pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang
Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan,
tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan
takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya
mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun
keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan
hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
2. Agama pada Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa
pencapaian identitas, bahkan bisa dikatakan perjuangan pokok pada masa remaja
adalah antara identitas dan kekacauan peran. Pada waktu orang remaja menemukan
siapa dirinya yang sebenarnya atau identitas diri, tumbuhlah kemampuan untuk mengikat kesetiaan kepada suatu
pandangan atau ideologi.
Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat-sifatnya
merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta
dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri.[7]
Pada usia remaja, sering kali
kita melihat mereka mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan dalam beragama. Misalnya, mereka
kadang-kadang sangat tekun sekali menjalankan ibadah, tetapi pada waktu lain
enggan melaksanakannya. Bahkan menunjukkan sekiap seolah-olah anti agama. Hal
tersebut karena perkembangan jasmani dan rohani yang yang terjadi pada masa
remaja turut mempengaruhi perkembangan agamannya. Dengan pengertian bahwa
penghayatan terhadap ajaran dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak
berkaitan dengan faktor perkembangan jasmani dan rohani
mereka.
3. Agama pada Masa Dewasa
Menurut
ahli psikologi, Lewis Sherril membagi masa dewasa menjadi berikut:
a. Masa
dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil
dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b. Masa
dewasa tengah, masalah yang dihadpi adalah mencapai pandangan hidup yang matang
dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c. Masa
dewasa akhir, ciri utamanya pasrah. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang
beragama. Hidup menjadi kurang menit dan lebih berpusat pada hal-hal yang
sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.[8]
Pada
masa dewasa seseorang telah memiliki tanggung jwab terhadap sistem nilai yang
dipilihnya, baik yang bersumber pada ajaran agama ataupun norma kehidupan yang
berlaku. Kesadaran beragama pada usia dewasa merupakan dasar dan arah dari
kesiapan seseorang untuk mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan, dan
penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari luar. Sedang motivasi
beragama pada orang dewasa didasarkan pada penalaran yang logis, sehingga ia
akan mempertimbangkan sepenuhnya menurut logika. Ekspresi beragama pada masa
dewasa sudah menjadi hal yang tetap, istiqomah. Artinya sudah tidak percaya
ikut-ikutan lagi, tapi lebihh berdasar kepuasan atau nikmat yang diperoleh dari
pelaksanaan ajaran agama tersebut.
4. Agama pada Masa Usia Lanjut
Pada
usia lanjut biasanya menghadapi berbagai persoalan, meliputi penurunan
kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktivitas menurun, sering
mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan semangat.
Tetapi kehidupan keagamaan pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi
agama meningkat. Seringkali kecenderungan meningkatnya beragama dihubungkan
dengan penurunan kegairahan seksual.
Menurut
William James, usia keagamaan yang luar biasa terdapat pada usia lanjut, ketika
kejolak kehidupan seksual sudah berakhir.[9]
Pendapat ini sejalan dengan realitas yang ada dalam kehidupan manusia usia
lanjut yang semakin tekun beribadah. Mereka mulai mempersiapkan diri untuk
bekal hidup di akhirat kelak.
C.
Pandangan Agama terhadap Kematian
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Islam
Islam memberikan perspektif
yang positif tentang kematian. Kehidupan dan kematian adalah tanda-tenda
kebesaran Allah. Kehidupan dan kematian adalah ujian bagi manusia, agar manusia
dapat mengambil pelajaran dari keduanya, dan berbuat baik di atas bumi. Dalam
Al-Qur’an dinyatakan ;
“(Dialah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kalian, siapa
diantara kalian yang baik amalnya....” ( QS Al-Mulk: 2)
Kematian hanya merupakan salah
satu tahap dari perjalanan manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah.
Setelah manusia di ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk mulai dari masa
konsepsi, Allah kemudian mematikannya. Namun sesudah itu, manusia akan
dibangkitkan di hari kiamat.
Menurut perspektif Islam, kematian dianggap sebagai
peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju kehidupan di alam lain.
Menurut Islam,
setelah meninggal dan dikuburkan, manusia akan dihidupkan kembali. Kematian di
alam kubur seperti tidur untuk menghadapi hari kebangkitan. Mereka yang
berpisah karena kematian di dunia, dapat bertemu kembali dalam kehidupan
setelah mati, manusia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup di
dunia. Kehidupan setelah mati
merupakan hal yang sulit untuk di buktikan secara empirik. Mereka telah
mengalami kematian tidak dapat kembali ke dunia untuk memberi tahu apa yang
terjadi setelah mati.[10]
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Kristen
Kematian ialah permulaan dan
permulaan sesuatu yang indah jika anda menjalani hidup menurut jalan Tuhan.
Semua menyadari bahwa ada kehidupan selepas kematian dan ada balasan. Kitab Bible bahkan sangat jelas
mengenai bila masa seseorang akan menemui takdir muktamadnya. Kitab Injil
memberitahu kita bahwa selepas masa mati, seseorang diangkat ke surga atau
dihantar ke neraka.
Bagi orang yang percaya kepada Jesus, selepas kematian dia akan meninggalkan
badan fizikal ini dan berada bersama dengan Tuhan Jesus (2 Korintus 5:6-8;
Filipi 1:23). Untuk mereka yang tidak percaya, selepas kematian mereka akan
mengalami hukuman abadi di dalam neraka (Lukas 16:22-23).
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Buddha
Salah satu alasan mengapa
orang-orang cenderung menjadi takut terhadap kematian ialah mereka tidak tahu
apa yang akan mereka alami . Di dalam tradisi Buddhis Tibet ada keterangan yang
jelas dan terperinci mengenai proses kematian, yang meliputi delapan tahap.
Delapan tahap itu berhubungan dengan pencerai-beraian berbagai faktor secara
beransur-angsur, seperti empat elemen: tanah, air, api, dan udara. Jika mereka
melewati delapan
tahap itu, akan muncul berbagai tanda internal dan eksternal.
Empat elemen tercerai berai
pada empat tahap yang pertama. Pada tahap pertama, elemen tanah mulai terpisah,
dan kelihatan dari tanda luar yaitu: tubuh seseorang menjadi lebih kurus dan
lebih lemah dan secara internal orang itu melihat berbagai ilusi. Pada tahap
kedua, unsur air mulai terpisah dengan
tanda eksternal, tubuh mengering, dan secara internal orang tersebut melihat
asap. Elemen api mulai terpisah pada tahap ketiga, dengan tanda eksternal,
pendengaran dan kemampuan mencerna mengalami penurunan dan secara internal
orang tersebut memiliki suatu penglihatan terhadap tanda-tanda. Pada tahap keempat,
angin atau udara terpisah, dengan tanda eksternalnya: nafas berhenti, dan
secara internal: orang itu melihat sebuah bara api yang hampir menyala. Ini
adalah saat dimana seseorang dinyatakan mati. Elemen-elemen fisik yang besar
telah tercerai berai secara keseluruhan, nafas telah berhenti, dan sudah tidak
ada lagi gerakan di dalam otak atau sistem sirkulasi.
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Hindu
Agama Hindu percaya bahawa penjelmaan dan kematian adalah
sebagai pandangan jiwa beralih dari pada satu badan ke
satu laluan untuk mencapai Nirwana, yaitu surga. Kematian adalah satu peristiwa
yang menyedihkan. Manakala sami-sami Hindu menekankan pengebumian adalah satu
penghormatan dan tanda peringatan kepada si mati. Masyarakat Hindu membakar mayat
mereka, percaya bahwa pembakaran satu mayat menandakan pembebasan semangat dan
api adalah mewakili shiva, yaitu dewa pemusnah. Ahli-ahli keluarga akan berdoa
di sekeliling badan secepat mungkin selepas kematian.
Selepas pembakaran mayat, keluarga akan dihidangkan
dan bersembahyang dalam rumah mereka. Orang yang berkabung akan mandi dengan
sepenuhnya sebelum memasuki rumah selepas pengebumian. Seorang sami akan
melawat dan melakukan upacara sembayang untuk si mati pada hari ke 16 sebagai
tujuan mententeramkan si mati. 'Shradh'
adalah upacara sembahayang setahun selepas kematian orang. Ini diadakan setahun
sekali bagi memperingati mereka. Sami juga berpesan kepada ahli keluarga bahwa
pemberian makanan kepada masyarakat miskin adalah satu tanda ingatan kepada si
mati.[11]
D.
Pandangan Tataran Usia terhadap Kematian
Ø Masa Kanak-Kanak
Masa ini
dimulai sejak bayi dan mayoritas peneliti percaya bahwa bayi tidak memiliki
konsep dasar tentang kematian. Bayi lebih mengembangkan keterikatan dengan
pengasuh dan mereka dapat mengalami perasaan kehilangan atau pemisahan serta
kecemasan dalam proses ini. Pada usia 3-5 tahun, anak sedikit atau tidak
sedikitpun memiliki pandangan terhadap kematian. Dalam suatu penelitian pada
anak usia 3-5 tahun mengenai persepsi kematian, didapati bahwa anak menolak
kematian. Anak usia 6-9 tahun percaya akan kematian namun hanya minoritas anak.
Anak usia 9 tahun ke atas mengenali kematian dan universalitasnya.
Ø Masa Remaja
Pandangan
remaja mengenai kematian tidak terlalu jelas. Remaja mengembangkan konsep yang
abstrak tentang kematian. Remaja menggambarkan kematian sebagai kegelapan,
cahaya, transisi, atau ketiadaan sama sekali. Kematian juga di pandangnya
sebagai akhir yang harus dialami oleh setiap manusia dan mati merupakan bencana
alam yang besar, oleh karena itu, remaja merasa takut. Ia tidak ingin menghayal
bahwa ia akan terlepas dari kematian, akan tetapi ia mencari keyakinan logis
yang lebih mendalam
Ø Masa Dewasa
Pada usia
dewasa awal individu belum menunjukkan pemahaman khusus mengenai kematian dan
meningkat pada usia dewasa tengah ditandai dengan berkembangnya pemikiran
tentang akhir hidup. Memasuki dewasa akhir, manusia sudah mulai aktif
memikirkan perjalanan hidup dibalik kehidupan dunia nyata. Sudah
dibayang-bayangi oleh kematian. Bayangan seperti itu semakin nyata,dan berat
dirasakan, saat dihadapkan pada musibah kematian keluarga atau orang-orang
terdekat. Di kala itu muncul "rasa kehilangan". Terbayang oleh
kenangan masa silam. Kenangan yang menjadi beban psikologis, khususnya bagi
mereka yang sudah menginjak periode manula.
Ø Masa Usia Lanjut
Secara
psikologis, manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa ketidakberdayaan.
Kelemahan fisik, keterbatasan gerak dan menurunnya fungsi alat indera,
menyebabkan manusia usia lanjut merasa terisolasi. Mulai terasa adanya
kekosongan batin. Dikala itu penghayatan terhadap segala yang terkait dengan
nilai-nilai spiritual mulai jadi perhatian. Kegelisahan dan kekosongan batin
seakan jadi terobati oleh keakraban dengan aspek-aspek rohaniah dan hati merasa
lebih tenteram dan terobati oleh kedekatan hal-hal yang bersifat sakral.
Kekosongan batin akan kian terasa bila dihadapkan pada peristiwa-peristiwa
kematian. Terutama bila dihadapkan pada kematian orang-orang yang terdekat.
Muncul semacam rasa kehilangan yang terkadang begitu berat dan sulit diatasi.[12]
Kematian
juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga
akan mengalami kematian. Masing-masing mulai menakar diri. Menginventarisasi
semua aktifitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang pernah
dilakukan. Khawatir akan balasan yang akan diterima di hari kebangkitan.
Perasaan seperti ini sering menghantui manusia. Terjadi semacam kecemasan batin.
Lebih-lebih mereka yang sudah menginjak usia lanjut.
III. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami
bahwa:
1. Agama
adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan
kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan yang berguna dalam
mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar
menjadi lebih baik.
2. Tataran usia secara umum dibagi menjadi 4, yakni kanak - kanak, remaja, dewasa, dan lansia.
3. Kematian
adalah
keluarnya ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan
mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut.
4. Bentuk
keagaman pada tataran usia berbeda sesuai dengan kematangan usia, kematangan
dalam berfikir dan masih ada banyak faktor lainnya.
5. Menurut perspektif Islam, Kristen,
Budha dan Hindu,
kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju
kehidupan di alam lain.
6. Kematian juga disikapi manusia
mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga akan mengalami kematian.
Masing-masing mulai menakar diri. Menginventarisasi semua aktifitas dan lakon
hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan.
B.
Saran
Penulis menyadari banyak terdapat
kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari
para pembaca demi kesempurnaan pada penulisan makalah-makalah kami
selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Daradjat, Zakiah, Ilmu
Jiwa Agama, Jakarta: PT Bulan Bintang, 2010.
Hawi, Akmal, Seluk
Beluk Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.
Http://intansuryani-18.blogspot.co.id/2013/11/kematian-dalam-pandangan-agama.html diakses tanggal 01/11/2017
Https://alulashahin.info/pengertian-agama-dan-definisi-agama-menurut-ahli-di-bidangnya
di akses tanggal 02/11/2017
Jalaluddin, Psikologi
Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015.
Suadirman, Siti Partini, Psikologi Usia Lanjut, Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees,
2011.
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
[1]
Akmal Hawi, Seluk
Beluk Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014) 59.
[2] https://alulashahin.info/pengertian-agama-dan-definisi-agama-menurut-ahli-di-bidangnya di akses tanggal
02/11/2017
[3]
Siti Partini Suadirman, Psikologi Usia Lanjut (Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees,
2011) 2.
[4]
Zakiah Daradjat, Ilmu
Jiwa Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2010) 126.
[5]
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 50.
[6]
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 51.
[7]
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 69.
[8]
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 84.
[9]
Jalaluddin, Psikologi
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015) 98.
[11]
http://intansuryani-18.blogspot.co.id/2013/11/kematian-dalam-pandangan-agama.html diakses tanggal 01/11/2017
[12]
Jalaluddin, Psikologi
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015) 168.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar