Minggu, 07 Januari 2018

makalah psikologi agama : AGAMA, TATARAN USIA DAN KEMATIAN

AGAMA, TATARAN USIA DAN KEMATIAN
I.     PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Dalam tingkat urgensitas kebutuhan inilah manusia tidak akan mampu terlepas dari kodrat, yaitu kodrat bahwa manusia membutuhkan Tuhan atau dalam bahasa sederhana manusia membutuhkan agama atau kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan. Agama pada dasarnya harus ditanamkan pada manusia dengan tahapan sesuai dengan usia dan kebutuhan masing-masing agar sesuai dengan kemampuan manusia untuk menerima kenyataan akan hal-hal yang tidak selamanya rasional.
Jiwa keagamaan yang termasuk aspek rohani (psikis) akan sangat tergantung dari perkembangan aspek fisik dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa kesehatan fisik akan berpengaruh pada kesehatan mental. Selain itu perkembangan keagamaan dan tindak lanjut keagamaan di tentukan oleh tingkat usia. Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai agama, tataran usia dan kematian.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)   Apa pengertian agama, tataran usia dan kematian.
2)    Bagaimana bentuk agama pada tataran usia.
3)    Bagaimana pandangan agama terhadap kematian.
4)    Bagaimana pengaruh tataran usia dalam menghadapi kematian.

  II.     PEMBAHASAN
A.  Pengertian Agama, Tataran Usia, dan Kematian
1.      Agama
Agama berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna tradisi atau “a” yang bermakna tidak dan “gama” bermakna kacau. Sehingga agama bisa diartikan sebagai tidak kacau. Selain itu, agama juga bisa diartikan sebagai suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan tertentu. Agama dilihat sebagai kepercayaan dan pola perilaku yang dimiliki oleh manusia untuk menangani masalah. Agama adalah suatu sistem yang dipadukan mengenai kepercayaan dan praktik suci. Agama adalah pegangan atau pedoman untuk mencapai hidup kekal. Agama adalah konsep hubungan dengan Tuhan.[1]
Berikut beberapa pendapat ahli tentang definisi Agama
Ø  Menurut Anthony F.C. Wallace, agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan semesta.
Ø  Menurut Emile Durkheim, agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci.
Ø  Menurut Parsons & Bellah, agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya manusia.
Ø  Menurut Harun Nasution, agama dilihat dari sudut muatan atau isi yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kumpulan tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan yang terhimpun dalam suatu kitab, selain itu beliau mengatakan bahwa agama merupakan suatu ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi.[2]
Berdasarkan  beberapa  defenisi agama di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agama adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan yang berguna dalam mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.
2.      Tataran Usia
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal, umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu dihitung. Oleh yang demikian, umur itu diukur dari tarikh ianya lahir sehingga tarikh semasa (masa kini). Manakala usia pula diukur dari tarikh kejadian itu bermula sehinggalah tarikh semasa (masa kini)
Tataran usia secara umum dibagi menjadi 4, yakni:
·      Kanak-kanak (sekitar umur > 13 tahun)
·      Remaja (sekitar umur 13 – 21 tahun)
·      Dewasa (sekitar umur 22 - 64)
·      Lansia (sekitar umur 64 < )
3.      Kematian
Dalam bahasa Yunani ‘kematian’ disebut thanatos. Thanatos berarti bentuk kematian atau keadaan mati. Tetapi kata ini juga dipakai untuk mengungkapkan hal berbahaya yang mematikan, bagaimana kematian, ancaman kematian. Thanatos berarti membuat seseorang mati, membunuh, dan mengakibatkan sesuatu hal berbahaya yang mematikan.[3] Kematian adalah jangka waktu ketika kita melewati dengan sendiri dunia yang tidak kelihatan. Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya Ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya Ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya Ruh dengan Jasad.

B.     Bentuk Agama pada Tataran Usia
1.    Agama pada Masa Anak-Anak
Menurut Elizabeth B. Hurlock periodesasi yang dirumuskanbdalam masa ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
·      0 – 2 tahun (masa vital)
·      2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
·      6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh.[4] Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.[5]
Menurut teori Freud, Tuhan bagi anak adalah orang tua yang diproyeksikan. Dari lingkungan yang penuh kasih sayang yang diciptakan oleh orang tua, maka lahirlah pengalaman keagamaan yang mendalam.[6] Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
2.    Agama pada Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa pencapaian identitas, bahkan bisa dikatakan perjuangan pokok pada masa remaja adalah antara identitas dan kekacauan peran. Pada waktu orang remaja menemukan siapa dirinya yang sebenarnya atau identitas diri, tumbuhlah kemampuan untuk mengikat kesetiaan kepada suatu pandangan atau ideologi.
Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat-sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri.[7] Pada usia remaja, sering kali kita melihat mereka mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan dalam beragama. Misalnya, mereka kadang-kadang sangat tekun sekali menjalankan ibadah, tetapi pada waktu lain enggan melaksanakannya. Bahkan menunjukkan sekiap seolah-olah anti agama. Hal tersebut karena perkembangan jasmani dan rohani yang yang terjadi pada masa remaja turut mempengaruhi perkembangan agamannya. Dengan pengertian bahwa penghayatan terhadap ajaran dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan jasmani dan rohani mereka.
3.    Agama pada Masa Dewasa
Menurut ahli psikologi, Lewis Sherril membagi masa dewasa menjadi berikut:
a.    Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
b.    Masa dewasa tengah, masalah yang dihadpi adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
c.    Masa dewasa akhir, ciri utamanya pasrah. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang menit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.[8]
Pada masa dewasa seseorang telah memiliki tanggung jwab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik yang bersumber pada ajaran agama ataupun norma kehidupan yang berlaku. Kesadaran beragama pada usia dewasa merupakan dasar dan arah dari kesiapan seseorang untuk mengadakan tanggapan, reaksi, pengolahan, dan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang datang dari luar. Sedang motivasi beragama pada orang dewasa didasarkan pada penalaran yang logis, sehingga ia akan mempertimbangkan sepenuhnya menurut logika. Ekspresi beragama pada masa dewasa sudah menjadi hal yang tetap, istiqomah. Artinya sudah tidak percaya ikut-ikutan lagi, tapi lebihh berdasar kepuasan atau nikmat yang diperoleh dari pelaksanaan ajaran agama tersebut.
4.    Agama pada Masa Usia Lanjut
Pada usia lanjut biasanya menghadapi berbagai persoalan, meliputi penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktivitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan semangat. Tetapi kehidupan keagamaan pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi agama meningkat. Seringkali kecenderungan meningkatnya beragama dihubungkan dengan penurunan kegairahan seksual.
Menurut William James, usia keagamaan yang luar biasa terdapat pada usia lanjut, ketika kejolak kehidupan seksual sudah berakhir.[9] Pendapat ini sejalan dengan realitas yang ada dalam kehidupan manusia usia lanjut yang semakin tekun beribadah. Mereka mulai mempersiapkan diri untuk bekal hidup di akhirat kelak.
C.  Pandangan Agama terhadap Kematian
Ø  Kematian Menurut Perspektif Agama Islam
Islam memberikan perspektif yang positif tentang kematian. Kehidupan dan kematian adalah tanda-tenda kebesaran Allah. Kehidupan dan kematian adalah ujian bagi manusia, agar manusia dapat mengambil pelajaran dari keduanya, dan berbuat baik di atas bumi. Dalam Al-Qur’an dinyatakan ;



“(Dialah Allah) yang menjadikan  mati dan hidup, supaya dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang baik amalnya....” ( QS Al-Mulk: 2)
Kematian hanya merupakan salah satu tahap dari perjalanan manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah. Setelah manusia di ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk mulai dari masa konsepsi, Allah kemudian mematikannya. Namun sesudah itu, manusia akan dibangkitkan di hari kiamat.
Menurut perspektif Islam, kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju kehidupan di alam lain. Menurut Islam, setelah meninggal dan dikuburkan, manusia akan dihidupkan kembali. Kematian di alam kubur seperti tidur untuk menghadapi hari kebangkitan. Mereka yang berpisah  karena kematian di dunia, dapat bertemu kembali dalam kehidupan setelah mati, manusia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Kehidupan setelah mati merupakan hal yang sulit untuk di buktikan secara empirik. Mereka telah mengalami kematian tidak dapat kembali ke dunia untuk memberi tahu apa yang terjadi setelah mati.[10]
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Kristen
Kematian ialah permulaan dan permulaan sesuatu yang indah jika anda menjalani hidup menurut jalan Tuhan. Semua menyadari bahwa ada kehidupan selepas kematian dan ada balasan. Kitab Bible bahkan sangat jelas mengenai bila masa seseorang akan menemui takdir muktamadnya. Kitab Injil memberitahu kita bahwa selepas masa mati, seseorang diangkat ke surga atau dihantar ke neraka. Bagi orang yang percaya kepada Jesus, selepas kematian dia akan meninggalkan badan fizikal ini dan berada bersama dengan Tuhan Jesus (2 Korintus 5:6-8; Filipi 1:23). Untuk mereka yang tidak percaya, selepas kematian mereka akan mengalami hukuman abadi di dalam neraka (Lukas 16:22-23).
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Buddha
Salah satu alasan mengapa orang-orang cenderung menjadi takut terhadap kematian ialah mereka tidak tahu apa yang akan mereka alami . Di dalam tradisi Buddhis Tibet ada keterangan yang jelas dan terperinci mengenai proses kematian, yang meliputi delapan tahap. Delapan tahap itu berhubungan dengan pencerai-beraian berbagai faktor secara beransur-angsur, seperti empat elemen: tanah, air, api, dan udara. Jika mereka melewati delapan tahap itu, akan muncul berbagai tanda internal dan eksternal.
Empat elemen tercerai berai pada empat tahap yang pertama. Pada tahap pertama, elemen tanah mulai terpisah, dan kelihatan dari tanda luar yaitu: tubuh seseorang menjadi lebih kurus dan lebih lemah dan secara internal orang itu melihat berbagai ilusi. Pada tahap kedua, unsur air mulai terpisah dengan tanda eksternal, tubuh mengering, dan secara internal orang tersebut melihat asap. Elemen api mulai terpisah pada tahap ketiga, dengan tanda eksternal, pendengaran dan kemampuan mencerna mengalami penurunan dan secara internal orang tersebut memiliki suatu penglihatan terhadap tanda-tanda. Pada tahap keempat, angin atau udara terpisah, dengan tanda eksternalnya: nafas berhenti, dan secara internal: orang itu melihat sebuah bara api yang hampir menyala. Ini adalah saat dimana seseorang dinyatakan mati. Elemen-elemen fisik yang besar telah tercerai berai secara keseluruhan, nafas telah berhenti, dan sudah tidak ada lagi gerakan di dalam otak atau sistem sirkulasi.
Ø Kematian Menurut Perspektif Agama Hindu
Agama Hindu percaya bahawa penjelmaan dan kematian adalah sebagai pandangan jiwa beralih dari pada satu badan ke satu laluan untuk mencapai Nirwana, yaitu surga. Kematian adalah satu peristiwa yang menyedihkan. Manakala sami-sami Hindu menekankan pengebumian adalah satu penghormatan dan tanda peringatan kepada si mati. Masyarakat Hindu membakar mayat mereka, percaya bahwa pembakaran satu mayat menandakan pembebasan semangat dan api adalah mewakili shiva, yaitu dewa pemusnah. Ahli-ahli keluarga akan berdoa di sekeliling badan secepat mungkin selepas kematian. 
 Selepas pembakaran mayat, keluarga akan dihidangkan dan bersembahyang dalam rumah mereka. Orang yang berkabung akan mandi dengan sepenuhnya sebelum memasuki rumah selepas pengebumian. Seorang sami akan melawat dan melakukan upacara sembayang untuk si mati pada hari ke 16 sebagai tujuan mententeramkan si mati. 'Shradh' adalah upacara sembahayang setahun selepas kematian orang. Ini diadakan setahun sekali bagi memperingati mereka. Sami juga berpesan kepada ahli keluarga bahwa pemberian makanan kepada masyarakat miskin adalah satu tanda ingatan kepada si mati.[11]
D.  Pandangan Tataran Usia terhadap Kematian
Ø  Masa Kanak-Kanak
Masa ini dimulai sejak bayi dan mayoritas peneliti percaya bahwa bayi tidak memiliki konsep dasar tentang kematian. Bayi lebih mengembangkan keterikatan dengan pengasuh dan mereka dapat mengalami perasaan kehilangan atau pemisahan serta kecemasan dalam proses ini. Pada usia 3-5 tahun, anak sedikit atau tidak sedikitpun memiliki pandangan terhadap kematian. Dalam suatu penelitian pada anak usia 3-5 tahun mengenai persepsi kematian, didapati bahwa anak menolak kematian. Anak usia 6-9 tahun percaya akan kematian namun hanya minoritas anak. Anak usia 9 tahun ke atas mengenali kematian dan universalitasnya.
Ø Masa Remaja
Pandangan remaja mengenai kematian tidak terlalu jelas. Remaja mengembangkan konsep yang abstrak tentang kematian. Remaja menggambarkan kematian sebagai kegelapan, cahaya, transisi, atau ketiadaan sama sekali. Kematian juga di pandangnya sebagai akhir yang harus dialami oleh setiap manusia dan mati merupakan bencana alam yang besar, oleh karena itu, remaja merasa takut. Ia tidak ingin menghayal bahwa ia akan terlepas dari kematian, akan tetapi ia mencari keyakinan logis yang lebih mendalam
Ø Masa Dewasa
Pada usia dewasa awal individu belum menunjukkan pemahaman khusus mengenai kematian dan meningkat pada usia dewasa tengah ditandai dengan berkembangnya pemikiran tentang akhir hidup. Memasuki dewasa akhir, manusia sudah mulai aktif memikirkan perjalanan hidup dibalik kehidupan dunia nyata. Sudah dibayang-bayangi oleh kematian. Bayangan seperti itu semakin nyata,dan berat dirasakan, saat dihadapkan pada musibah kematian keluarga atau orang-orang terdekat. Di kala itu muncul "rasa kehilangan". Terbayang oleh kenangan masa silam. Kenangan yang menjadi beban psikologis, khususnya bagi mereka yang sudah menginjak periode manula.
Ø Masa Usia Lanjut
Secara psikologis, manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa ketidakberdayaan. Kelemahan fisik, keterbatasan gerak dan menurunnya fungsi alat indera, menyebabkan manusia usia lanjut merasa terisolasi. Mulai terasa adanya kekosongan batin. Dikala itu penghayatan terhadap segala yang terkait dengan nilai-nilai spiritual mulai jadi perhatian. Kegelisahan dan kekosongan batin seakan jadi terobati oleh keakraban dengan aspek-aspek rohaniah dan hati merasa lebih tenteram dan terobati oleh kedekatan hal-hal yang bersifat sakral. Kekosongan batin akan kian terasa bila dihadapkan pada peristiwa-peristiwa kematian. Terutama bila dihadapkan pada kematian orang-orang yang terdekat. Muncul semacam rasa kehilangan yang terkadang begitu berat dan sulit diatasi.[12]
Kematian juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga akan mengalami kematian. Masing-masing mulai menakar diri. Menginventarisasi semua aktifitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan. Khawatir akan balasan yang akan diterima di hari kebangkitan. Perasaan seperti ini sering menghantui manusia. Terjadi semacam kecemasan batin. Lebih-lebih mereka yang sudah menginjak usia lanjut.
















III.   PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.    Agama adalah segenap kepercayaan yang disertai dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan yang berguna dalam mengontrol dorongan yang membawa masalah dan untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.
2.    Tataran usia secara umum dibagi menjadi 4, yakni kanak - kanak,   remaja, dewasa, dan lansia.
3.    Kematian adalah keluarnya ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut.
4.    Bentuk keagaman pada tataran usia berbeda sesuai dengan kematangan usia, kematangan dalam berfikir dan masih ada banyak faktor lainnya.
5.    Menurut perspektif Islam, Kristen, Budha dan Hindu, kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju kehidupan di alam lain.
6.    Kematian juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga akan mengalami kematian. Masing-masing mulai menakar diri. Menginventarisasi semua aktifitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang pernah dilakukan.

B.  Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.






DAFTAR PUSTAKA


Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Bulan Bintang, 2010.
Hawi, Akmal, Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015.
Suadirman, Siti Partini, Psikologi Usia Lanjut, Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees, 2011.
Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.




[1] Akmal Hawi, Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014) 59.
[3] Siti Partini Suadirman, Psikologi Usia Lanjut (Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees, 2011) 2.
[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2010) 126.
[5] Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 50.
[6] Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 51.
[7] Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 69.
[8] Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) 84.
[9] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015) 98.
[12] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015) 168.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...