CIRI
KHAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pelajaran Pendidikan Agama Islam dimaksudkan untuk
meningkatkan kemampuan spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Akhlak
mulia mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari keimanan
dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Peningkatan kemampuan spiritual mencakup
pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan
nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan
dan bertujuan pada optimalisasi kemampuan yang dimiliki manusia yang
aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan
Allah SWT.
Pemikiran dasar Pendidikan Agama Islam yaitu terbentuknya
peserta didik yang memiliki akhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur. Tujuan
tersebut merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW di dunia. Dengan
demikian, pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah ruh Pendidikan Agama Islam.
Hal ini bukan berarti bahwa pendidikan Islam tidak memerhatikan pendidikan
jasmani, akal, ilmu ataupun segi-segi praktis lainnya, tetapi maksudnya adalah
bahwa pendidikan Islam memerhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga
segi-segi lainnya. Oleh karena itu
dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai ciri khas
pembelajaran pendidikan agama Islam.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan
adalah sebagai berikut:
1) Apa pengertian pembelajaran PAI.
2)
Bagaimana ciri khas
pembelajaran PAI.
II.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pembelajaran PAI
Istilah “pembelajaran” sama
dengan instruction atau “pengajaran”.
Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan (Purwadinata, 1967:
22). Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh
siswa) dan mengajar (oleh guru). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan
dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer,
sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi
kegiatan secara optimal.
Pengertian Pendidikan Agama Islam sebagaimana
dirumuskan oleh Pusat Kurikulum (Puskur) DEPDIKNAS adalah upaya sadar dan
terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati
hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama
Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Quran dan Hadits, melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar
ummat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[1]
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran
pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalan ajaran Agama Islam dari peserta didik, yang
disamping untuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk membentuk
kesalehan sosial.
B. Bentuk Ciri Khas
Pembelajaran PAI
Ø Karakteristik Pengajaran PAI
Karakteristik adalah
fitur pembeda dari seseorang atau sesuatu. Karakeristik didefinisikan sebagai
kualitas atau sifat. Secara umum karakteristik adalah kualitas tertentu atau
ciri yang khas dari seseorang atau sesuatu. Adapun karakteristik pengajaran PAI itu sendiri adalah sebagai
berikut:[2]
1.
Dalam Bidang Agama
Karakteristik
ajatan Islam dalam bidang agama disamping mengakui adanya Pluralisme sebagai
suatu pernyataan, juga mengakui adanya universatisme, yakni mengajarkan
kepercayaan kepada Tuhan dan hari akhir, menyuruh berbuat baik dan mengajak
pada keselamatan. Dengan demikian, karakteristik agama islam dalam visi
keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan, dan saling menghargai
karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian
Tuhan.
2.
Dalam Bidang Ibadah
Karakteristik ajaran islam
selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah sebagai upaya
mendekatkan diri kepada Allah dan mentaati segala perintah-Nya menjauhi segala
larangan-Nya dan mengamalkan segala yang di izinkan-Nya. Dengan demikian visi
Islam itu sendiri adalah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu
sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia sebagai makhluk yang hanya
diperintahkan agar beribadah kepada-Nya.
3.
Dalam Bidang Akidah
Karakteristik
Islam yang dapat diketahui melalui dalam bidang akidah ini adalah bahwa akidah
Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya. Yang diyakini dan
diakui sebagai Tuhan yang wajib disebah hanya Allah. Dalam prosesnya, keyakinan
tersebut harus langsung tidak boleh ada perantara.
Akidah
dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang
wajib di sembah ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, yaitu
menyatakan tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai
utusa-Nya, perbuatan dengan amal sholeh. Dalam hubungan ini Yusuf Al-Qrdawi
menyatakan bahwa iman menurut pengertian yang sebenarnya ialah kepercayaan yang
meresap kedalam hati, dengan penuh ke yakinan, tidak bercampur syak dan ragu,
serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan
sehari-hari.
Dengan demikian akidah Islam
bukan sekedar keyakinan dalam hati, melainkan pada tahap selanjudnya harus
menjadi acuan dan dasar dalam bertingkah laku, serta berbuat yang pada akhirnya
menimbulkan amal sholeh.
4.
Bidang Ilmu Dan Kebudayaan
Karakteristik ajaran Islam
dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi jiga
selektif.Akomodati dalam menerima berbagai masukan dari luar, tapi bersamaan
dengan itu Islam juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima semua jenis
ilmu dan kebudayaan, melainkan ilmu dan kebudayaan yang sejalan dengan
Islam.Bagaimanapun, Islam adala sebuah praradigma terbuka.Ia merupakan mata
rantai peradaban dunia. Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban
Yunani-Romawi di Barat, dan peradaban-peradaban Persia India, dan Cina di
Timur. Selama abad VII sampai XV, ketika peradaban besar di Barat dan Timur itu
tenggelam dan mengalami kemerosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya
untuk kemudian diambil alih oleh peradaban Barat sekarang malalui Renaiissans.
Dalam kurun waktu selam delapan abad itu, Islam bahkan mengembangkan
warisan-warisan ilmu pengetahuan adan teknologi dari peradaban-peradaban
tersebut.
Banyak contoh yang dapat
dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata rantai peradaban dunia.Islam
minsalnya mengembangkan ilmu matematika India.Ilmu kedokteran dari Cina, system
pemerintah dari Persia, logika dari Yunani, dan sebagainya. Jadi, untuk
pengkajian tertentu Islam menolak logoka Yunani yang sangat rasional untuk
diganti dengan caraberfikir intuitif yang lebih menekankan rasa seperti yang
dikenal dalam tasawuf.
Karakteristik Islam dalam
bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan tersebut dapat pula dilihat dari 5 ayat
pertama surat al-Alaq yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad
SAW. Islam demikian kuat mendorong manusia agar memiliki ilmu pengetahuan
dengan cara menggunakan akalnya untuk berfikir, merenung, dan sebagainya.
Demikian pentingnya ilmu ini hingga Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu
sama nilainya dengan jihad dijalan Allah.
5.
Bidang Pendidikan
Sejalan dengan ilmu pengetahuan
dan kebudayaan tersebut diatas, Islam juga memiliki ajaran yang khas dalam
bidang pendidikan.Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak setiap orang laki-laki
atau perempuan, dan berlangsung sepanjang hayat.Semua aspek yang berkaitan
dengan pendidikan ini dapat dipahami dari kandungan surat al-Alaq sebagai mana
disebut diatas. Dalam al-Qur’an dapat dijumpai berbagai metode ceramah, tanya
jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan, pembinasaan, kerja wisata, cerita,
hokum, nasihat, dan sebagainya.
6.
Bidang Ekonomi
Karakteristik
ajaran Islam selanjutnya dapat dipahami dari kosepsinya dalam bidang
kehidupan.Urusan dunia di kejar dalam rangka mengejar kehidupan akhirat dan
kehidupan akhir dicapai dengan dunia.Orang yang baik adalah orang yang meraih
keduanya secara seimbang, karena dunia adalah alat menuju akhirat, dan jangan
dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia.
Alam raya ini suatu yang
diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan manusia, dan bukan sekali-kali untuk
dijadikan objek penyembahan sebagaiman dijumpai pada masyarakat primtif.Alam
raya dengan segala keindahannya adalah ciptaan Tuhan.Kita tahu bahwa dialam
raya ini dijumpai berbagai ajaiban dan kekaguman.
7.
Dalam Bidang Kesehatan
Ciri khas ajaran Islam
selanjutnya dapat dilihat dalam konsepnya mengenai kesehatan.Ajaran Islam
tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan dari pada
penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan sekian banyak
petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi SAW, yang pada dasarnya mengarah kepada
pencegahan. Kebersihan lahir dapat mengambil bentuk kebersihan tempat tinggal,
lingkungan sekitar, badan, makanan, minuman, dan lain sebagainya.
8.
Dalam Bidang Politik
Ciri ajaran Islan selanjutnya
dapat diketahui melalui konsepsinya dalam bidang politik. Dalam al-Qur’an surat
an-Nisa ayat 156 terdapat menaati ulil amri yang terjemahaannya termasuk
penguasa dalam bidang politik, pemerintah, dan Negara. Dalam hal ini Islam
tidak mengajarkan ketaatan buta terhadab pemimpin.Jika pemimpin tersebut
berpegang teguh pada tuntutan Allah dan Rasul-Nya, maka wajib di taati,
sebaliknya.
Masalah politik ini selanjutnya
berhubungan dengan bentuk pemerintahan.Oleh karenanya setiap bangsa boleh saja
menentukan bentuk negaranya masing-masing sesuai seleranya.Namun, yang
terpenting bentuk pemerintahan tersebut harus digunakan sebagai alat untuk
menegakkan keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, kedamaian, den ketenteraman
masyarakat.
9.
Dalam Bidang Pekerjaan
Karakteristik
ajaran Islam lebih lanjut dapat diihat dari ajarannya mengenai kerja, Islam
memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah SWT. Atas dasar ini maka
kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian
terhadap Allah SWT,dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menghasilkan pruduk
pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang dilakukan adalah kerja
professional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman,
kesungguhan, dan seterusnya.
10. Dalam Bidang Islam Sebagai
Disiplin Ilmu
Selain ajaran yang berkenaan dengan berbagai bidang kehidupan
dengan ciri-ciri yang khas tersebut, Islam juga telah tampil sebagai sebuah
disiplin ilmu, yaitu ilmu ke Islaman. Menurut peraturan Menteri Agama Republik
Indonesia tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu ke Islaman adalah
al-Qu’an/Tafsir, Hadits/Ilmu hadits, Ilmu kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum
Islam/Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, dan pendidikan Islam.
Jauh sebelum itu, Harun
Nasution mengatakan bahwa Islam berlainan dengan apa yang umum diketahui, bukan
hanya mempunyai satu dua aspek. Islam sebenarnya mempunyai aspek tiologi, aspek
ibadah, aspek moral, aspek mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek
kebudayaan, dan sebagainya.
Dari beberapa mengenai
karakteristik ajaran Islam yang secara dominan ditandai oleh pendekatan
normative, historis, dan filosofis tersebut dilihat bahwa ajaran Islam memiliki
ciri-ciri yang secara keseluruhan amat ideal.Islam agama yang mengajarkan
perdamaian, toleransi, terbuka, kebersamaan, egaliter, kerja keras yang
bermutu, demokratis, adil, seimbang antara hubungan dunia dan akhirat,
berharta, memiliki kepekaan terhadap masala-masalah social kemasyarakatan.
Mengutamakan pencegahan dari pada penyembuhan dalam bidang kesehatan dengan
cara memperhatikan segi kebersihan badan, pakaian, makanan, tempat tinggal,
lingkungan, dan sebagainya. Islam juga telah tampil sebagai sebuah disiplin
ilmu ke Islaman dengan berbagai cabangnya.
Ø Sifat Pengajaran
Sifat pengajaran pendidikan
Agama Islam dalam Kurikulum mempunyai sifat-sifat atau karakteristik
yang membedakan dengan pengajaran lainnya , hal tersebut tercermin dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yang ciri-ciri tersebut antara lain
sebagai berikut:[3]
1. Kurikulum PAI mempunyai dua
sisi muatan
Dua sisi muatan dalam kurikulum
PAI yang dimaksud adalah: (a) sisi muatan keagamaan berisi wahyu Ilahi dan
sunah Rasul yang bersifat mutlak dan berada di luar jangkauan akal dan indera
manusia (beyond of human’s mind and instinct). Wahyu
Allah swt dan sunah Rasul saw berfungsi memberikan petunjuk kepada manusia
dalam upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Dan cara-cara mengadakan hubungan
antar sesama makhluk Allah lainnya dan lingkungan hidupnya. (b) sisi muatan
pengetahuan yang berisi hal-hal yang dapat di usahakan manusia dalam
bentuk pengalaman factual maupun pengalaman berfikir. Pengetahuan yang dimaksud
ada kemungkinan hasil analisis dari wahyu ilahi atau sunah Rasul (tafsir) atau
mungkin pula hasil analisis dari lingkungan alam sekitarnya.
Peranan kurikulum PAI dalam hal
ini ialah mengupayakan agar kedua muatan diatas dapat lebih dipahami, dihayati,
dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kurikulum PAI bersifat memihak,
tidak netral/moderat
Kurikulum PAI mempunyai garis
yang jelas dan tegas (qath’I dan mutlak), jika dalam ajaran
islam sesuatu tersebut ditetapkan sebagai wajib, maka semua umat islam
berkewajiban untuk melaksanakannya, demikian pula sebaliknya, jika dalam ajaran
islam menegaskan bahwa sesuatu itu haram dan harus ditinggalkan, maka semua
kaum muslimin wajib meninggalkannya. Bagi orang yang melanggar kewajiban dan
larangan yang telah digariskan dalam islam konsekwensinya ia akan mendapat
sanksinya tidak didunia diakhirat sudah pasti.
Berbeda dengan kurikulum umum,
ia bersifat netral atau moderat artinya tidak memihak, dengan demikiaan
kurikulum tersebut diberikan kepada siswa terserah mereka, apakah pengetahuan
yang diperolehnya mau diamalkan atau tidak hal ini didasarkan kepada untung dan
rugi dan pertimbangan pribadi yang bersangkutan.
3. Kurikulum PAI mengarahkan
kepada pembentukan akhlak yang mulia
Ajaran islam yang bersumber
wahyu ilahi sangat menekankan kepada umatnya agar mereka mempunyai akhlak yang
mulia. Kriteria untuk menentukan apakah akhlak seseorang itu terpuji atau
tercela ialah kriteria yang terdapat didalam ayat-ayat Al-Quran dan sunah
Rasul. Kriteria dari dua sumber tersebut bersifat pasti dan permanen dan tidak
berubah-ubah sampai kapanpun. Sementara kurikulum umum lebih bersifat atas
pertimbangan akal pikiran.
4. Kurikulum PAI bersifat fungsional
terpakai sepanjang masa
Agama bagi seseorang dalam
tingkatan status apapun, baik ia orang kaya, atau orang miskin, pejabat atau
rakyat jelata, pada saat bagaimanapun saat gembira atau sedih, sehat atau
sakit. Pengetahuan agama ini tetap aktual dan fungsional, terpakai dalam
seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu ajaran yang sekomplit dan selengkap
ajaran islam, yaitu seorang muslim diatur oleh islam sejak dari bangun tidur
sampai dengan tidur lagi, dari hal-hal yang kecil masuk ke WC sampai kepada menjadi
dan mengelola negara semua diatur dalam islam. Aturan-aturan tersebut 14 abad
yang silam sampai sekarang dan yang akan datang akan tetap uptodate dan
fungsional. Ajaran islam yang terkandung dalam kurikulum PAI berfungsi untuk
memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Berbeda kurikulum pengetahuan
lain yang bersifat nisbi dan relatif berubah-ubah tergantung situasi dan
kondisi tertentu. Tidak jarang kita menemukan teori-teori yang dianggap hebat
dan menggemparkan dunia namun belakangan ini teori-teori tersebut tertolak.
Bahkan ada sesuatu yang dianggap buruk pada masa lalu dianggap masalah biasa
atau baik sekarang, atau sebaliknya.
5. Materi kurikulum PAI sudah ada
pada setiap peserta didik sejak dari rumah
Peserta didik yang tinggal
dirumah bersama-sama dengan keluarganya sebenarnya secara langsung atau tidak
langsung. Mereka sudah terisi pengetahuan agamanya, apa yang telah dimiliki
peserta didik harus menjadi perhatian guru. Pengajaran kurikulum PAI
disekolah berfungsi mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan yang telah
dimiliki peserta didik agar lebih berkembang secara optimal dan meluruskan
pengetahuan peserta didik yang kurang tepat. Dengan demikian pengajaran agama
di sekolah tidak memulai dari nol sama sekali. Tetapi karena peserta didik
datangnya dari macam-macam keluarga yang pengetahuan, penghayatan, dan
pengamalan agama bervariasi, maka guru harus dapat menyamakan persepsi mereka
terlebih dahulu.
Ø
Nilai-Nilai Pengajaran
Pendidikan Islam bertujuan
untuk menginformasikan, mentransformasikan serta menginternalisasikan
nilai-nilai Islami. Dengan demikian pendidik diharapkan dapat
menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan segi-segi kehidupan spiritual yang baik
dan benar dalam rangka mewujudkan pribadi muslim seutuhnya dengan ciri-ciri
beriman, taqwa, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil dan bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penyusunan strategi pendidikan yang
terencana dan sistematis, antara lain menyusun materi-materi yang relevan dengan
tingkat perkembangan dan kemampuan berfikir peserta didik serta menerapkan
metode pembelajaran yang efektif dan efisien.
Nilai adalah suatu konsep yang
berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, tidak berada didalam
dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan sesorang tentang baik
dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil,
dan lain sebgainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa diraba ,
kita hanya bisa mengetahui dari perilaku yang bersangkutan.[4]
Dengan demikian, bahwa
nilai-nilai pengajaran minimal yang harus dikembangkan dalam dunia pendidikan
antara lain:[5]
1.
Religius
Sikap
dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran
terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama
lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan, dan pekerjaan.
3.
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai
perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang
berbeda dari dirinya.
4.
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku
tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.
Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku
tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir
dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang
telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah
tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara
berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya
dan orang lain.
9. Rasa
Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
diri dan kelompoknya.
11.
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
diri dan kelompoknya.
12.
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.
Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
14.
Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
15.
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin
memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
Yang Maha Esa.
Oleh
karena itu kita sepakati bersama, bahwa dalam pendidikan Islam sangat perlu
sekali melestarikan dan mengembangkan kerangka dasar nilai-nilai Islami pada
peserta didik agar terbentuk pribadi seutuhnya sehingga dapat menjadi sumber
daya insani yang berkualitas bagi pembangunan dan tata kehidupan masyarakat
mendatang. Menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan khaliqNya,
sehingga selalu mendapat ridhaNya.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.
Pembelajaran pendidikan agama Islam diarahkan untuk
meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Agama
Islam dari peserta didik, yang disamping untuk kesalehan atau kualitas pribadi,
juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.
2.
Karakteristik pengajaran PAI meliputi bidang agama, ibadah,
pendidikan dan kebudayaan, ekonomi, politik, ekonomi serta masih banyak lagi.
3.
Sifat pengajaran pendidikan Agama Islam dalam
Kurikulum mempunyai sifat-sifat atau karakteristik yang membedakan
dengan pengajaran lainnya , hal tersebut tercermin dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam.
4.
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang
sifatnya tersembunyi, tidak berada didalam dunia yang empiris. Nilai
berhubungan dengan pandangan sesorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak
indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebgainya.
Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa diraba , kita hanya bisa
mengetahui dari perilaku yang bersangkutan.
B.
Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan
makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi
kesempurnaan pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://globallavebookx.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-pembelajaran-pendidikan.html
di akses tanggal17/11/2017
Mudasir, Desain Pembelajaran, Air Molek Riau: PT. Stai Nurul
Falah Press, 2012.
Nata, Abuddin, Metodologi
Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2010.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Beroreintasi Standar
Proses Pendidikan, Jakarta: PT. Kencana, 2010.
Ulwan, Abdullah Nashih, Pedoman Pendidikan anak dalam Islam, Bandung: PT. Asy-Syifa, 2006.
[1] http://globallavebookx.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-pembelajaran-pendidikan.html di akses tanggal17/11/2017
[4] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran
Beroreintasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: PT. Kencana, 2010) 274.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar