Minggu, 07 Januari 2018

KURIKULUM

KURIKULUM
I.     PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Kurikulum hakikatnya terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya tuntutan untuk memenuhi hal tersebut, para perencana kurikulum sering kali mengalamai berbagai kesulitan dalam menyusun dan merencanakan isi kurikulum yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kesulitan tersebut adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam segala bidang, yang semakin berkembang setiap waktunya, yaitu perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan yang lainnya yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Lembaga sekolah dituntut untuk selalu mengembangkan segala bidang yang ada, tidak lain kurikulum itu sendiri. Pembentukan kurikulum yang ideal dan aktual sangat dibutuhkan para siswa dalam menghadapi tantangan yang telah disebutkan di atas, tidak lain agar mereka semua bisa mengimbangi kemajuan zaman dengan kemajuan intelektual. Dalam pengembangan kurikulum terdapat perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Serta pembagian kurikulum yang perlu diketauhi karena kurikulum sebagai pedoman atau landasan dalam melakukan pembelajaran, jadi guru harus bisa mengembangkan kurikulum untuk mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pembagian kurikulum.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)   Bagaimana perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi dalam kurikulum.
2)    Apa saja pembagian dalam kurikulum dan penjelasannya.
  II.     PEMBAHASAN
A.  Pengertian Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Evaluasi dalam Kurikulum.
1.    Perencanaan
Perencanaan merupakan rangkaian tindakan untuk kedepan. Perencanaan bertujuan untuk mencapai seperangkat operasi yang konsisiten terkoordinasi guna memperoleh hasil-hasil yang diinginkan.[1] Jadi perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Secara umum dalam perencanan kurikulum harus dipertimbangkan kebutuhan masyarakat, karakteristik pembelajaran, dan pengetahuan.
Prinsip-prinsip perencanaan kurikulum yakni:
a.    Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para siswa.
b.    Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.
c.    Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan level
karakteristik perencanaan kurikulum.[2]
Dalam perencanaan kurikulum harus memperhatikan aspek-aspek yang menjadi karakteristik perencanaan kurikulum adalah sebagai berikut:
a.    Perencanaan kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif atau menyeluruh yang mempertimbangkan dan mengoordinasi unsur belajar mengajar efektif.
b.    Perencanaan kurikulum harus berdasarkan konsep yang jelas tentang berbagai hal yang menjadikan kehidupan menjadi lebih baik, karakteristik masyarakat sekarang, masa depan serta kebutuhan dasar manusia.
c.    Rumusan kurikulum harus bersifat rekreatif dan kondusif.
d.   Dalam perencanaan kurikulum, harus diadakan evaluasi secara kontinu terhadap semua aspek pembuatan keputusan kurikulum yang meliputi analisis terhadap proses dan konten kegiatan kurikulum.
Adapun pengelolaan komponen perencanaan kurikulum harus memperhatikan beberapa faktor yaitu:
Ø Tujuan
Perumusan tujuan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat, dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut penyelenggara sekolah berpedoman pada tujuan pendidikan nasional. Implikasi tujuan sebagai berikut:
a) Memberikan penilaian siswa
.
b) Perencanaan kurikulum yang jelas.
Ø Konten
Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan pelajaran.[3] Isi kurikulum merupakan mata pelajaran pada proses belajar mengajar seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran. Kriteria pemilihan isi kurikulum yaitu
a) Signifikan
b) Validitas
c) Relevansi sosial
d) Utility
e) Learnability
f) Minat
Ø Kegiatan (aktivitas)
Kegiatan atau aktivitas belajar dapat didefinisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan oleh guru dalam situasi belajar mengajar. Aktivitas belajar ini didesain agar siswa memperoleh muatan yang ditetapkan untuk mencapai tujuan kurikulum agar dapat tercapai.
Ø Sumber yang digunakan
Sumber atau resources dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut antara lain:
a) Buku dan bahan tercetak
b) Perangkat lunak komputer seperti media ppt
c) Film
d) Kaset
e) Televisi dan proyektor
Ø Instrumen Evaluasi (pengukuran)
Dilakukan secara bertahap, berkesinambungan dan terbuka. Dari evaluasi ini dapat diperoleh keterangan mengenai kegiatan dan kemajuan belajar siswa dan pelaksanaan kurikulum oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya. Pada pelaksanaan evaluasi banyak instrumen pengukuran yang dapat dipergunakan oleh pendidik antara lain:
a) Tes standar
b) Tes buatan guru
c) Tes lisan
d) Wawancara
2.    Pengorganisasian
Pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Fungsi pengorganisasian adalah kegiatan penyusunan (realisasi) kurikulum itu sendiri, merupakan bagian terpenting dalam pengembangan kurikulum yang akan menghasilkan produk. Kurikulum yang dibuat dan diorganisir oleh sekolah kemudian akan digunakan sebagai pedoman operasional pembelajaran merupakan piranti rancangan/rencana pendidikan yang sah diberlakukan di satuan pendidikan bersangkutan.
Bentuk organisasi kurikulum memiliki ciri tersendiri dan telah mengalami proses pengembangan secara berurutan. Beberapa bentuk organisasi kurikulum diantaranya:
Ø Kurikulum Mata Pelajaran
Digolongkan sebagai bentuk kurikulum yang masih tradisional. Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a)    Terdiri dari jumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri.
b)   Guru berperan paling aktif dengan pelaksanaan sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar aktif dikalangan para siswa.
c)    Para siswa tidak sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif.
d)   Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan masalah dan tuntutan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang.
e)    Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat dan masalah yang dihadapi para siswa.
f)    Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiri dan diberikan waktu tertentu.
g)   Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkah laku lainnya.[4]
Ø Kurikulum Gabungan
Untuk mengurangi kelemahan adanya keterpisahan di antara mata pelajaran maka disusun dalam pola korelasi, sehingga lebih dipahami oleh siswa. Pada kurikulum gabungan ini memiliki dua pola bentuk korelasi yakni:
a)    Korelasi Informal
Guru mata pelajaran meminta guru mata pelajaran lainnya mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan yang telah diberikan oleh guru pertama.
b)   Korelasi Formal
Guru bersama-sama merencanakan untuk mengkorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.
Ciri-ciri kurikulum gabungan adalah sebagai berikut:
1) Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya
2) Sudah dimulai adanya usaha merelevansikan pelajaran dengan permasalahan kehidupan sehari-hari dan tujuannya pun masih berkaitan dengan pengetahuan
3) Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa
4) Metode penyampaian menggunakan metode korelasi meski banyak guru mangalami kesulitan
5) Meski guru masih memegang peran aktif namun aktivitas siwa sudah mulai dikembangkan.
Ø Kurikulum Terintegrasi
Pada kurikulum ini batas-batas diantara semua mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali. Jadi mata pelajaran telah terpadu sebagai satu kesatuan yang bulat. Ciri-ciri kurikulum terintegrasi adalah sebagai berikut:
1)      Berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
2)      Peran guru sama aktifnya dengan peran siswa.
3)      Berdasarkan landasan sosiologis dan sosio kultural.[5]
Ø Kurikulum Inti
Kurikulum inti memiliki ciri-ciri pokok sebagai berikut yakni:
·      Merupakan rangkaian pengalaman yang saling berkaitan
·      Direncanakan secara kontinu, terus menerus sebelum dan selama di jalankan
·      Didasarkan pada masalah
·      Bersifat pribadi dan sosial
·      Diperuntukan bagi semua siswa
Selain memiliki itu, kurikulum inti ini memiliki ciri-ciri umum yaitu:
·      Perencanaan dibuat oleh guru-guru secara kooperatif.
·      Pengalaman belajar disusun dalam unit yang komprehensif berdasarkan minat, tantangan, kebutuhan dan masalah dari masyarakat sekitar.
·      Core pengajaran mengunakan proses demokrasi dan penilaian dilakukan dengan bermacam-macam bentuk serta dilakukan secara kontinu.
·      Core program didominasi oleh uasaha yang bertujuan untuk memperbaiki pengajaran.[6]
3.    Pelaksanaan
Implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan serta disesuaikan dengan situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya. [7]
Tahap-tahap implementasi kurikulum:
·      Pengembangan program mencakup program tahunan, semester atau catur wulan, bulanan, mingguan dan harian.
·      Pelaksanaan pembelajaran. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
·      Evaluasi proses yang dilaksanakan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum catur wulan atau semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan serta utuh untuk keperluan evaluasi pelaksanaan kurikulum.
Faktor-faktor yang memengaruhi implementasi kurikulum, antara lain:
a.    Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan, fungsi, sifat dan sebagainya.
b.    Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi kurikulum, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya penyediaan buku kurikulum dan berbagai kegiatan lain yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan.
c.    Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap guru terhadap kurikulum dalam pembelajaran
Dalam implementasi kurikulum, terdapat beberapa prinsip yang menunjang tercapainya keberhasilan, yaitu:
·      Perolehan kesempatan yang sama
·      Berpusat pada anak
·      Pendekatan dan kemitraan.
·      Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
4.    Evaluasi
Evaluasi kurikulum adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Evaluasi Kurikulum dapat diartikan suatu kegiatan untuk mengetahui dan memutuskan apakah program yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan semula. Dalam evaluasi kurikulum memiliki tujuan yakni :
·      Menyediakan informasi mengenai pelaksanaan pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sebagai masukan bagi pengambilan keputusan.
·      Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum.
·      Mengembangkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dapat digunakan dalam upaya perbaikan kurikulum.[8]
Ada beberapa aspek yang harus dievaluasi sesuai dengan tahapan dalam pengembangan kurikulum yaitu:
Ø Penentuan tujuan umum
Ø Perencanaan
Ø Uji-coba dan revisi
Ø Uji lapangan
Ø Pelaksanaan kurikulum
Ø Pengawasan mutu
B.  Pembagian Kurikulum
Kurikulum dalam proses pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting selain guru serta sarana dan prasarana pendidikan lainya. Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelengara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.  Menurut Hilda Taba, kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses perkembangan individu.[9]
Kurikulum secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu kurikulum formal (tertulis) yakni kurikulum yang telah dirumuskan dasar dan tujuan secara eksplisit oleh pemerintah, dan non formal (tidak tertulis) yakni tidak merumuskan dasar dan tujuan secara eksplisit dalam bentuk kurikulum, tetapi tujuan pendidikan ditentukan oleh kebijakan pengurus sesuai dengan perkembangan lembaga tersebut. Dan jika dilihat dari sejarahnya maka kurikulum non formal lebih tua dari kurikulum formal, hal tersebut dikarenakan sejak lima ratus tahun yang lalu sudah di gunakan oleh pesantren di indonesia. Terlepas dari nilai sejarah, baik kurikulum formal maupun non formal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ø Kelebihan dari kurikulum pendidikan formal (sekolah umum):
a)    Mengikuti perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Memiliki buku ajar yang permanen untuk proses belajar mengajar yang efektif. Satuan pelajaran yang sudah ditetapkan menjadi acuan dalam proses belajar mengajar. Mendapatkan pengakuan secara nasional berupa sertifikat atau ijazah yang diterima oleh semua pihak.
b)   Ada beberapa metode yang dipakai dalam pendidikan sekolah umum, diantaranya sebagai berikut: ceramah, bermain, praktikum, tanya jawab dan lain-lain yang di sesuaikan dengan bidang studinya. Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tidak di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.
c)    Proses belajar mengajar berlangsung selama 7 jam min atau max 9 jam dalam sehari. Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.
Ø Sedangkan kekurangan dari kurikulum pendidikan formal (sekolah umum):
a)    Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan Pemerintah.
b)   Sumber daya manusia dalam mengajar kurang maksimal. Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar.
c)    Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap dan membutuhkan biaya pendidikan yang mahal.[10]
Ø Kelebihan dari kurikulum non formal (pesantren):
a)    Tujuan umum pesantren adalah untuk mendidik dan meningkatkan ketakwaan dan keimanan seseorang sehingga dapat mencapai manusia insan kamil.
b)   Menentukan kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang di tentukan oleh pemerintah.
c)    Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan peserta didik.
d)   Dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (study) kasus secara langsung dengan dewan guru (ustadz/ ustadzah) yang bersangkutan.
e)    Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung.
f)    Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik dari pendidik.Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena dilakukan di dalam asrama.
g)   Komponen warga belajar Kyai, asrama, tempat belajar, ruang praktikum, guru, santri, wali santri Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar dan ibadah
Ø Kekurangan dari kurikulum pendidikan non formal (pesantren):
a)    Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuann dan sekehendak kyai.
b)   Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau tamat menempuh pendidikan.
c)    Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran, sehingga sebagian santri merasa cepat bosan dengan metode tersebut.
d)   Kebersihan lingkungan terkadang di abaikan.[11]
Sedangkan kurikulum dilihat berdasarkan konsep dan pelaksanaannya dibagi menjadi tiga, yaitu:
Ø  Kurikulum ideal,
Yakni kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal dan yang dicita-citakan. kurikulum ini diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar. Oleh karena itu kurikulum ideal merupakan pedoman bagi guru, maka kurikulum ini juga dinamakan kurikulum formal atau kurikulum tertulis (written curriculum), contoh dari kurikulum ini adalah kurikulum sebagai suatu dokumen seperti kurikulum SMU 1989, kurikulum SD 1975 yang berlaku pada tahun itu dan lain sebagainya.
Ø  Kurikulum actual (riil)
Yakni kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan, namun seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar. Selain itu kurikulum aktual juga dapat diartikan sebagai kurikulum yang secara riil dapat dilaksanakan oleh guru sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada. Kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi pelaksanaan kurikulum aktual diantaranya adalah sarana yang tersedia disekolah, kemampuan sumber daya manusia khususnya guru dan kebijakan-kebijakan sekolah.
Ø  Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)
Yakni segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum aktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Bisa juga diartikan mengenai hal-hal yang dipelajari murid yang telah di rencanakan sebelumnya oleh sekolah melalui materi yang disediakan, tapi tidak termasuk dalam perencanaan mereka sendiri.[12] Makna lain dari kurikulum tersembunyi yaitu segala sesuatu yang tidak direncanakan atau tidak diprogramkan yang dapat mempengaruhi perubahan prilaku siswa. Segala sesuatu yang dapat mempengaruhi itu bisa adat istiadat, kebudayaan, kebiasaan dan sebagainya termasuk prilaku guru dan organisasi kelas. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.
Dalam konteks pengembangan kurikulum mikro hidden curriculum bisa dilihat dari dua konteks, yakni tujuan yang tidak dideskripsikan (tersembunyi) akan tetapi pencapaiannya harus dipertimbangkan serta kejadian yang tidak direncanakan yang dapat digunakan sebagai jembatan untuk mengajarkan topik tertentu.
Selain itu, ada juga macam-macam model konsep kurikulum menurut Eisner, yaitu:
1.    Kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif
Kurikulum dapat dipandang sebagai alat untuk mengembangkan intelektual anak, khususnya kemampuan berpikir agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Yang harus dipentingkan adalah peningkatan cara ia berpikir, bagaimana berpikir “the how”, bukan apa “the what” yang dipikirkan.[13] Konsep ini sejalan dengan ilmu jiwa daya, menurut aliran psikologi ini manusia memiliki sejumlah daya, seperti daya untuk mengamati, menanggap, mengingat, berpikir, dan sebagainya. Bagi ilmu jiwa daya transfer itu bersifat mutlak, artinya bahwa kemampuan mental dalam satu bidang dapat digunakan dalam segala bidang lainnya. Jerome Bruner menganjurkan pemahaman struktur disiplin, yakni prinsip-prinsip fundamental disiplin ilmu.
Ø Ciri-ciri kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif
a)    Tujuan. Tujuan diarahkan pada peningkatan cara berpikir guna mengembangkan intelektual anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
b)   Pendekatan. Biasanya menggunakan pendekatan proses (proses approuch)
c)    Metode. Menggunakan metode penemuan dalam proses belajar untuk memahami struktur atau prinsip-prinsip pokok suatu disiplin ilmu.
2.    Kurikulum Teknologi
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi dibidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi di arahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut, akan tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yag besar di uraikan menjadi perilaku-perilaku yang dapat di amati dan diukur.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat kersas (hardware).[14] Penetapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).
Teknologi  pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologi untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat contoh-contoh model pengajaran modul, pengajaran bantuan komputer, dan sebagainya.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Teknologi
a)    Tujuanya diarahkan kepada penguasaan kompetensi
b)   Pengajaran bersifat individual tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harus dikerjakannya dan maju sesuai kecepatan masing-masing.
c)    Evaluasi dilakukan setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, ataupun semester.
3.    Kurikulum Humanistik
Kurikulum Humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan konsep pribadi (personalized education) yaitu John Dewey (progressive education) dan J.J. Rousseau (Romantic education). Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punya kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh.[15] Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektualnya, tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai).
Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan.
Ø Ciri-ciri kurikulum humanistik
a)    Tujuan kurikulum ini adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian.
b)   Kurikulum humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan hanya bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan.
c)    Model evaluasi lebih mengutamakan proses dari pada hasil.[16]

4.    Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini berbeda dengan model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dan guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan masalah  yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Rekontruksi Sosial
a)    Tujuan utama kurikulum ini adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi.
b)   Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
c)    Pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda di tengah-tengahnya sebagai poros dipilih sesusatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas secara pleno. Dari tema di jabarkan sejumlah topik yang di bahas dalam diskusi-diskusi kelompok.
5.    Kurikulum rasionalisasi akademis
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kirikulumnya mirip dengan ini. Sampai sekarang walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Mengapa demikian? Kurikulum ini sangat praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya.
Kurikulum rasionalisasi akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang beroriemtasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut.[17] Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Rasionalisasi Akademis
a)    Tujuan kurikulum rasionalisasi akademis adalah memberi pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dalam proses penelitian. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolah harus memberi kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikan kemampuan mereka mengusai  warisan budaya dan jika mungkin memperkayanya.
b)   Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum rasionalisasi akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun secara sistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.
c)    Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum rasionalisasi akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan tujuan dan sifat mata pelajaran.





III.   PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.    Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
2.    Pengorganisasian Kurukulum merupakan suatu cara menyusun bahan-bahan atau pengalaman belajar yang ingin dicapai.
3.    Implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan yang disesuaikan dengan situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya.
4.    Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
5.    Kurikulum terbagi menjadi 2, yaitu formal dan non formal.
6.    Berdasarkan konsep dan pelaksanaannya kurikulum dibagi menjadi tiga, yaitu: kurikulum ideal, riil dan tersembunyi.
7.    Macam-macam model konsep kurikulum menurut Eisner, yaitu: kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif, sebagai teknologi, sebagai aktualisasi diri, sebagai rekontruksi sosial, dan sebagai rasionalisasi akademik.

B.  Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Hermino, Agustinus, Manajemen Kurikulum Bebasis Karakter, Bandung: Alfabeta, 2014.
Kelly, A. V., The Curriculum Theory and Practice, London: SAGE Plubications, 2006.
Nasution, S., Pengembangan Kurikulu,m Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.
Yani, Ahmad, Mindset Kurikulum 2013, Bandung: Alfabeta, 2014.




[1] Agustinus Hermino, Manajemen Kurikulum Bebasis Karakter (Bandung: Alfabeta, 2014) 39.
[2] Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) 172.
[3] Oemar, 178.
[4] Oemar, 155.
[5] Oemar, 158.
[6] Oemar, 161.
[7] Oemar, 168.
[8] Ahmad Yani, Mindset Kurikulum 2013 (Bandung: Alfabeta, 2014) 48.
[9] Agustinus, 31.
[12] A. V. Kelly, The Curriculum Theory and Practice (London: SAGE Plubications, 2006) 5.
[13] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003) 16.
[14] S. Nasution, 18.
[15] S. Nasution, 21.
[16] Oemar, 144.
[17] S. Nasution, 26.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...