KURIKULUM
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kurikulum hakikatnya terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan
berbagai pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Dengan
adanya tuntutan untuk memenuhi hal tersebut, para perencana kurikulum sering
kali mengalamai berbagai kesulitan dalam menyusun dan merencanakan isi
kurikulum yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kesulitan tersebut
adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam segala bidang, yang semakin
berkembang setiap waktunya, yaitu perubahan dalam bidang sosial,
ekonomi, budaya, politik, dan yang lainnya yang terus berkembang dari tahun ke
tahun.
Lembaga sekolah dituntut untuk selalu mengembangkan segala bidang
yang ada, tidak lain kurikulum itu sendiri. Pembentukan kurikulum yang ideal dan
aktual sangat dibutuhkan para siswa dalam menghadapi tantangan yang telah
disebutkan di atas, tidak lain agar mereka semua bisa mengimbangi kemajuan
zaman dengan kemajuan intelektual. Dalam pengembangan kurikulum terdapat perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Serta pembagian kurikulum yang
perlu diketauhi karena kurikulum sebagai pedoman atau landasan dalam melakukan
pembelajaran, jadi guru harus bisa mengembangkan kurikulum untuk mencapai
tujuan pendidikan atau pembelajaran. Oleh karena itu dalam
makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
evaluasi dan pembagian kurikulum.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan
adalah sebagai berikut:
1)
Bagaimana perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi
dalam kurikulum.
2)
Apa saja pembagian dalam kurikulum dan
penjelasannya.
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Evaluasi dalam Kurikulum.
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan rangkaian tindakan untuk
kedepan. Perencanaan bertujuan untuk mencapai seperangkat operasi yang
konsisiten terkoordinasi guna memperoleh hasil-hasil yang diinginkan.[1]
Jadi perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika
pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan
perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Secara umum dalam perencanan kurikulum harus dipertimbangkan
kebutuhan masyarakat, karakteristik pembelajaran, dan pengetahuan.
Prinsip-prinsip perencanaan kurikulum yakni:
a.
Perencanaan
kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para siswa.
b.
Perencanaan
kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.
c.
Perencanaan
kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan level
karakteristik perencanaan kurikulum.[2]
karakteristik perencanaan kurikulum.[2]
Dalam perencanaan kurikulum harus memperhatikan aspek-aspek yang
menjadi karakteristik perencanaan kurikulum adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif
atau menyeluruh yang mempertimbangkan dan mengoordinasi unsur belajar mengajar
efektif.
b. Perencanaan kurikulum harus berdasarkan konsep yang jelas tentang berbagai
hal yang menjadikan kehidupan menjadi lebih baik, karakteristik masyarakat
sekarang, masa depan serta kebutuhan dasar manusia.
c.
Rumusan kurikulum harus bersifat rekreatif dan
kondusif.
d.
Dalam perencanaan kurikulum, harus diadakan
evaluasi secara kontinu terhadap semua aspek pembuatan keputusan kurikulum yang
meliputi analisis terhadap proses dan konten kegiatan kurikulum.
Adapun pengelolaan
komponen perencanaan kurikulum harus memperhatikan beberapa faktor yaitu:
Ø Tujuan
Perumusan tujuan sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat, dalam mengadakan
hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut penyelenggara sekolah berpedoman
pada tujuan pendidikan nasional. Implikasi tujuan sebagai berikut:
a) Memberikan penilaian siswa.
a) Memberikan penilaian siswa.
b) Perencanaan
kurikulum yang jelas.
Ø Konten
Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan
pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan
pelajaran.[3] Isi
kurikulum merupakan mata pelajaran pada proses belajar mengajar
seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan
mata pelajaran. Kriteria pemilihan isi kurikulum yaitu
a) Signifikan
b) Validitas
c) Relevansi sosial
d) Utility
e) Learnability
f) Minat
Ø Kegiatan (aktivitas)
Kegiatan atau aktivitas belajar dapat didefinisikan sebagai
berbagai aktivitas yang diberikan oleh
guru dalam situasi belajar mengajar. Aktivitas belajar ini didesain
agar siswa memperoleh muatan yang ditetapkan untuk mencapai tujuan kurikulum
agar dapat tercapai.
Ø Sumber yang digunakan
Sumber atau resources dapat digunakan untuk mencapai
tujuan pendidikan tersebut antara lain:
a) Buku dan
bahan tercetak
b) Perangkat lunak
komputer seperti media ppt
c) Film
d) Kaset
e) Televisi dan
proyektor
Ø Instrumen Evaluasi (pengukuran)
Dilakukan secara bertahap, berkesinambungan dan terbuka. Dari
evaluasi ini dapat diperoleh keterangan mengenai kegiatan dan kemajuan belajar
siswa dan pelaksanaan kurikulum oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya. Pada
pelaksanaan evaluasi banyak instrumen
pengukuran yang dapat dipergunakan oleh pendidik antara lain:
a) Tes standar
b) Tes buatan
guru
c) Tes lisan
d) Wawancara
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian
pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah
dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk
diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas
siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Fungsi
pengorganisasian adalah kegiatan penyusunan (realisasi) kurikulum itu
sendiri, merupakan bagian terpenting dalam pengembangan kurikulum yang
akan menghasilkan produk. Kurikulum yang dibuat dan diorganisir oleh
sekolah kemudian akan digunakan sebagai pedoman operasional pembelajaran
merupakan piranti rancangan/rencana pendidikan yang sah diberlakukan
di satuan pendidikan bersangkutan.
Bentuk organisasi kurikulum memiliki ciri tersendiri dan telah
mengalami proses pengembangan secara berurutan. Beberapa bentuk organisasi kurikulum
diantaranya:
Ø Kurikulum Mata Pelajaran
Digolongkan sebagai bentuk kurikulum yang masih tradisional.
Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a)
Terdiri dari jumlah mata pelajaran yang
terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri.
b)
Guru berperan paling aktif dengan pelaksanaan
sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar aktif dikalangan para
siswa.
c)
Para siswa tidak sama sekali tidak dilibatkan
dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif.
d)
Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan
kebutuhan masalah dan tuntutan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan
berkembang.
e)
Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat dan
masalah yang dihadapi para siswa.
f)
Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan
dalam kotak tersendiri dan diberikan waktu tertentu.
g)
Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu
pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkah laku lainnya.[4]
Ø Kurikulum Gabungan
Untuk mengurangi kelemahan adanya keterpisahan
di antara mata pelajaran maka disusun dalam pola korelasi, sehingga lebih
dipahami oleh siswa. Pada kurikulum gabungan ini memiliki dua pola bentuk
korelasi yakni:
a) Korelasi Informal
Guru mata pelajaran meminta guru mata
pelajaran lainnya mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan
yang telah diberikan oleh guru pertama.
b) Korelasi Formal
Guru bersama-sama merencanakan untuk
mengkorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.
Ciri-ciri kurikulum gabungan adalah sebagai
berikut:
1) Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu
dengan yang lainnya
2) Sudah dimulai adanya usaha merelevansikan
pelajaran dengan permasalahan kehidupan sehari-hari dan tujuannya pun masih
berkaitan dengan pengetahuan
3) Sudah mulai mengusahakan penyesuaian
pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa
4) Metode penyampaian menggunakan metode
korelasi meski banyak guru mangalami kesulitan
5) Meski guru masih memegang peran aktif namun
aktivitas siwa sudah mulai dikembangkan.
Ø Kurikulum Terintegrasi
Pada kurikulum ini batas-batas diantara semua
mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali. Jadi
mata pelajaran telah terpadu sebagai satu kesatuan yang bulat. Ciri-ciri
kurikulum terintegrasi adalah sebagai berikut:
1) Berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau
pertumbuhan siswa.
2) Peran guru sama aktifnya dengan peran siswa.
Ø Kurikulum Inti
Kurikulum inti memiliki ciri-ciri pokok sebagai berikut yakni:
· Merupakan rangkaian pengalaman yang saling berkaitan
· Direncanakan secara kontinu, terus menerus sebelum dan selama di jalankan
· Didasarkan pada masalah
· Bersifat pribadi dan sosial
· Diperuntukan bagi semua siswa
Selain memiliki itu, kurikulum inti ini memiliki ciri-ciri umum yaitu:
·
Perencanaan
dibuat oleh guru-guru secara kooperatif.
·
Pengalaman
belajar disusun dalam unit yang komprehensif berdasarkan minat,
tantangan, kebutuhan dan masalah dari masyarakat sekitar.
·
Core
pengajaran mengunakan proses demokrasi dan penilaian
dilakukan dengan bermacam-macam bentuk serta dilakukan secara kontinu.
3. Pelaksanaan
Implementasi kurikulum
berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional.
Implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang
telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan
pelaksanaan dan pengelolaan serta disesuaikan dengan situasi lapangan dan
karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta
fisiknya. [7]
Tahap-tahap implementasi kurikulum:
·
Pengembangan
program mencakup program tahunan, semester atau catur wulan, bulanan, mingguan
dan harian.
·
Pelaksanaan pembelajaran. Dalam
pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan
agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
·
Evaluasi proses yang dilaksanakan
sepanjang proses pelaksanaan kurikulum catur wulan atau semester serta
penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan serta utuh
untuk keperluan evaluasi pelaksanaan kurikulum.
Faktor-faktor yang memengaruhi
implementasi kurikulum, antara lain:
a. Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan,
fungsi, sifat dan sebagainya.
b. Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi
kurikulum, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya penyediaan
buku kurikulum dan berbagai kegiatan lain yang dapat mendorong penggunaan
kurikulum di lapangan.
c. Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan,
serta nilai dan sikap guru terhadap kurikulum dalam pembelajaran
Dalam implementasi kurikulum,
terdapat beberapa prinsip yang menunjang tercapainya keberhasilan, yaitu:
·
Perolehan
kesempatan yang sama
·
Berpusat pada
anak
·
Pendekatan dan
kemitraan.
·
Kesatuan dalam
kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
4. Evaluasi
Evaluasi kurikulum adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan
suatu kurikulum. Dalam pengembangan
kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia
pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti politikus,
pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur
masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Evaluasi
kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan
seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program
yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Evaluasi
Kurikulum dapat diartikan suatu kegiatan untuk mengetahui dan memutuskan apakah
program yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan semula. Dalam evaluasi
kurikulum memiliki tujuan yakni :
· Menyediakan informasi mengenai pelaksanaan pengembangan dan pelaksanaan
kurikulum sebagai masukan bagi pengambilan keputusan.
· Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum.
· Mengembangkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dapat
digunakan dalam upaya perbaikan kurikulum.[8]
Ada beberapa aspek yang harus dievaluasi
sesuai dengan tahapan dalam pengembangan kurikulum yaitu:
Ø Penentuan tujuan umum
Ø Perencanaan
Ø Uji-coba dan revisi
Ø Uji lapangan
Ø Pelaksanaan kurikulum
Ø Pengawasan mutu
B. Pembagian Kurikulum
Kurikulum dalam proses pembelajaran
merupakan salah satu komponen yang sangat penting selain guru serta sarana dan
prasarana pendidikan lainya. Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang
diberikan oleh suatu lembaga penyelengara pendidikan yang berisi rancangan
pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang
pendidikan. Menurut Hilda Taba, kurikulum adalah sebuah rancangan
pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses
perkembangan individu.[9]
Kurikulum secara garis besar terbagi
menjadi dua yaitu kurikulum formal (tertulis) yakni kurikulum yang telah dirumuskan dasar dan tujuan secara
eksplisit oleh pemerintah, dan non formal (tidak tertulis) yakni tidak
merumuskan dasar dan tujuan secara eksplisit dalam bentuk kurikulum, tetapi tujuan
pendidikan ditentukan oleh kebijakan pengurus sesuai dengan perkembangan lembaga
tersebut. Dan jika dilihat dari sejarahnya maka
kurikulum non formal lebih tua dari kurikulum formal, hal tersebut dikarenakan
sejak lima ratus tahun yang lalu sudah di gunakan oleh pesantren di indonesia.
Terlepas dari nilai sejarah, baik kurikulum formal maupun non formal memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ø Kelebihan dari kurikulum pendidikan
formal (sekolah umum):
a)
Mengikuti
perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan nasional
yang ditetapkan oleh Pemerintah. Memiliki buku ajar yang permanen untuk proses
belajar mengajar yang efektif. Satuan pelajaran yang
sudah ditetapkan menjadi acuan dalam proses belajar mengajar. Mendapatkan
pengakuan secara nasional berupa sertifikat atau ijazah yang diterima oleh semua
pihak.
b)
Ada
beberapa metode yang dipakai dalam pendidikan sekolah umum, diantaranya sebagai
berikut: ceramah, bermain, praktikum, tanya jawab dan lain-lain yang di
sesuaikan dengan bidang studinya. Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan
belajar mengajar tidak di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.
c)
Proses
belajar mengajar berlangsung selama 7 jam min atau max 9 jam dalam sehari.
Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.
Ø Sedangkan kekurangan dari kurikulum pendidikan
formal (sekolah umum):
a)
Kebanyakan
tenaga pendidik merasa kewalahan terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan
Pemerintah.
b)
Sumber
daya manusia
dalam mengajar kurang maksimal. Kebanyakan
tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar.
Ø Kelebihan dari kurikulum non
formal (pesantren):
a)
Tujuan
umum pesantren adalah untuk mendidik dan meningkatkan ketakwaan dan keimanan
seseorang sehingga dapat mencapai manusia insan kamil.
b)
Menentukan
kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang di tentukan oleh
pemerintah.
c)
Pesantren
mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar dengan
pendekatan keilmuan yang dibutuhkan peserta didik.
d)
Dapat
belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (study)
kasus secara langsung dengan dewan guru (ustadz/ ustadzah) yang bersangkutan.
e)
Proses
belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang
terjadi akan tertanggulangi secara langsung.
f)
Dukungan
lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik
dari pendidik.Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena
dilakukan di dalam asrama.
g)
Komponen
warga belajar Kyai, asrama, tempat belajar, ruang praktikum, guru, santri, wali
santri Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar
dan ibadah
Ø Kekurangan dari kurikulum pendidikan
non
formal (pesantren):
a)
Kurikulum
selalu berubah tanpa ada pemberitahuann dan sekehendak kyai.
b)
Tidak
adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau
tamat menempuh pendidikan.
c)
Santri
terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran,
sehingga sebagian santri merasa cepat bosan dengan metode tersebut.
Sedangkan kurikulum dilihat berdasarkan konsep dan pelaksanaannya dibagi
menjadi tiga, yaitu:
Ø
Kurikulum ideal,
Yakni kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal
dan yang dicita-citakan. kurikulum ini diharapkan dapat dilaksanakan dan
berfungsi sebagai acuan atau pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar. Oleh
karena itu kurikulum ideal merupakan pedoman bagi guru, maka kurikulum ini juga
dinamakan kurikulum formal atau kurikulum tertulis (written curriculum), contoh
dari kurikulum ini adalah kurikulum sebagai suatu dokumen seperti kurikulum SMU
1989, kurikulum SD 1975 yang berlaku pada tahun itu dan lain sebagainya.
Ø Kurikulum actual (riil)
Yakni
kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan
pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan, namun seharusnya mendekati
dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang
tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah
direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran
merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar
mengajar. Selain itu kurikulum aktual juga dapat diartikan sebagai kurikulum yang
secara riil dapat dilaksanakan oleh guru sesuai dengan keadaan dan kondisi
yang ada. Kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi pelaksanaan kurikulum aktual
diantaranya adalah sarana yang tersedia disekolah, kemampuan sumber daya
manusia khususnya guru dan kebijakan-kebijakan sekolah.
Ø Kurikulum tersembunyi (hidden
curriculum)
Yakni segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum
ideal menjadi kurikulum aktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru,
kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu
sendiri. Bisa juga diartikan mengenai hal-hal yang dipelajari murid yang telah di
rencanakan sebelumnya oleh sekolah melalui materi yang disediakan, tapi tidak
termasuk dalam perencanaan mereka sendiri.[12]
Makna lain dari kurikulum tersembunyi yaitu segala sesuatu yang tidak
direncanakan atau tidak diprogramkan yang dapat mempengaruhi perubahan prilaku
siswa. Segala sesuatu yang dapat mempengaruhi itu bisa adat istiadat, kebudayaan,
kebiasaan dan sebagainya termasuk prilaku guru dan organisasi kelas. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah,
tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru
datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh akan menjadi
kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian
peserta didik.
Dalam konteks pengembangan kurikulum mikro hidden
curriculum bisa dilihat dari dua konteks, yakni tujuan yang tidak
dideskripsikan (tersembunyi) akan tetapi pencapaiannya harus dipertimbangkan
serta kejadian yang tidak direncanakan yang dapat digunakan sebagai jembatan
untuk mengajarkan topik tertentu.
Selain itu, ada juga macam-macam model konsep kurikulum menurut Eisner,
yaitu:
1. Kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif
Kurikulum dapat dipandang sebagai alat untuk mengembangkan intelektual
anak, khususnya kemampuan berpikir agar dapat memecahkan masalah yang
dihadapinya. Yang harus dipentingkan adalah peningkatan cara ia berpikir,
bagaimana berpikir “the how”, bukan apa “the what” yang dipikirkan.[13]
Konsep ini sejalan dengan ilmu jiwa daya, menurut aliran psikologi ini manusia
memiliki sejumlah daya, seperti daya untuk mengamati, menanggap, mengingat,
berpikir, dan sebagainya. Bagi ilmu jiwa daya transfer itu bersifat mutlak,
artinya bahwa kemampuan mental dalam satu bidang dapat digunakan dalam segala
bidang lainnya. Jerome Bruner menganjurkan pemahaman struktur disiplin, yakni
prinsip-prinsip fundamental disiplin ilmu.
Ø Ciri-ciri kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif
a) Tujuan. Tujuan diarahkan pada peningkatan cara berpikir guna
mengembangkan intelektual anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
b) Pendekatan. Biasanya menggunakan pendekatan proses (proses approuch)
c) Metode. Menggunakan metode penemuan dalam proses belajar untuk memahami struktur
atau prinsip-prinsip pokok suatu disiplin ilmu.
2.
Kurikulum
Teknologi
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan
teknologi dibidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini
ada persamaannya dengan pendidikan klasik yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi
di arahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut,
akan tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi
yag besar di uraikan menjadi perilaku-perilaku
yang dapat di amati dan diukur.
Penerapan
teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk,
yaitu bentuk perangkat lunak (software)
dan perangkat kersas (hardware).[14]
Penetapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi
alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut
juga teknologi sistem (system technology).
Teknologi pendidikan
dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat
teknologi untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan. Kurikulumnya
berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat contoh-contoh model pengajaran
modul, pengajaran bantuan komputer, dan sebagainya.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Teknologi
a)
Tujuanya
diarahkan kepada penguasaan kompetensi
b)
Pengajaran
bersifat individual tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harus dikerjakannya
dan maju sesuai kecepatan masing-masing.
c)
Evaluasi
dilakukan setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, ataupun semester.
3.
Kurikulum Humanistik
Kurikulum Humanistik dikembangkan
oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini
berdasarkan konsep aliran pendidikan konsep pribadi (personalized education)
yaitu John Dewey (progressive education) dan J.J.
Rousseau (Romantic education). Aliran ini lebih memberikan tempat utama
kepada siswa. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punya kemampuan,
dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep
Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh.[15]
Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan
intelektualnya, tetapi juga segi sosial dan afektif
(emosi, sikap, perasaan, nilai).
Pendidikan mereka lebih menekankan
bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau
bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran
diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan.
Ø Ciri-ciri kurikulum humanistik
a)
Tujuan
kurikulum ini adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan
pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian.
b)
Kurikulum
humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan hanya bersifat
intelektual tetapi juga emosional dan tindakan.
c)
Model
evaluasi lebih mengutamakan proses dari pada hasil.[16]
4.
Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini berbeda dengan model
kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada masalah
yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran
pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri,
melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama. Kerja sama atau interaksi
bukan hanya terjadi antara siswa dan guru, tetapi juga antara siswa dengan
siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar
lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan masalah yang
dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Rekontruksi Sosial
a)
Tujuan
utama kurikulum ini adalah menghadapkan para siswa pada tantangan,
hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi.
b)
Kegiatan
belajar dipusatkan pada masalah-masalah
sosial yang mendesak.
c)
Pola
organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda di tengah-tengahnya
sebagai poros dipilih sesusatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas
secara pleno. Dari tema di jabarkan sejumlah topik yang di bahas dalam
diskusi-diskusi kelompok.
5.
Kurikulum rasionalisasi
akademis
Model konsep kurikulum ini adalah
model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kirikulumnya mirip
dengan ini. Sampai sekarang walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya
sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Mengapa demikian? Kurikulum ini sangat
praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya.
Kurikulum rasionalisasi
akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang
beroriemtasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah
ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan
mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut.[17]
Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha
menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah
orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan
atau disiapkan oleh guru.
Ø Ciri-ciri Kurikulum Rasionalisasi
Akademis
a)
Tujuan
kurikulum rasionalisasi akademis
adalah memberi pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan
ide-ide dalam proses penelitian. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu,
para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus
dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa harus belajar
menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolah
harus memberi kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikan kemampuan
mereka mengusai warisan budaya dan jika
mungkin memperkayanya.
b)
Metode
yang paling banyak digunakan dalam kurikulum rasionalisasi
akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian
dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun
secara sistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam
materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting, kemudian
dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.
c)
Tentang
kegiatan evaluasi, kurikulum rasionalisasi
akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan tujuan dan
sifat mata pelajaran.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka
dapat dipahami bahwa:
1.
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal
membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil
tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan
peserta didik.
2.
Pengorganisasian
Kurukulum merupakan suatu cara menyusun bahan-bahan atau pengalaman belajar
yang ingin dicapai.
3.
Implementasi kurikulum adalah
penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam
tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan yang disesuaikan
dengan situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan
intelektual, emosional, serta fisiknya.
4.
Evaluasi kurikulum merupakan tahap
akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil
pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan
hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
5.
Kurikulum terbagi menjadi 2, yaitu
formal dan non formal.
6.
Berdasarkan konsep dan pelaksanaannya kurikulum dibagi
menjadi tiga, yaitu: kurikulum ideal, riil dan tersembunyi.
7.
Macam-macam model konsep kurikulum menurut
Eisner, yaitu: kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif, sebagai
teknologi, sebagai aktualisasi diri, sebagai rekontruksi sosial, dan sebagai rasionalisasi
akademik.
B.
Saran
Penulis
menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis
mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan pada penulisan
makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar, Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
Hermino, Agustinus, Manajemen Kurikulum Bebasis Karakter, Bandung:
Alfabeta, 2014.
Http://www.albashiroh.net/2012/04/menimbang-efektifitas-kurikulum
formal.html diakses tanggal 25/09/2017.
Kelly, A. V., The Curriculum Theory and Practice, London:
SAGE Plubications, 2006.
Nasution, S., Pengembangan Kurikulu,m Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2003.
Yani, Ahmad, Mindset Kurikulum 2013, Bandung: Alfabeta, 2014.
[10] http://www.albashiroh.net/2012/04/menimbang-efektifitas-kurikulum
formal.html diakses tanggal 25/09/2017.
[11] http://www.albashiroh.net/2012/04/menimbang-efektifitas-kurikulum
formal.html diakses tanggal 25/09/2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar