Minggu, 07 Januari 2018

INOVASI METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INOVASI METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
I.   PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Guru Pendidikan Agama Islam mempunyai peran yang sangat strategis dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Mereka diharapkan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki para siswa agar dapat menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah figur yang utama dalam menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam kerangka pembentukan sikap dan watak, serta perilaku akhlakul karimah melalui berbagai model pembelajaran yang dikembangkan di sekolah.
Pendidikan Agama Islam di sekolah atau di madrasah, dalam pelaksanaannya masih menunjukkan berbagai permasahalan yang kurang menyenangkan. Seperti halnya proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses penyampaian pengetahuan tentang agama Islam. Hanya sedikit yang arahnya pada proses internalisasi nilai-nilai Islam pada diri siswa. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru masih dominan ceramah. Proses internalisasi tidak secara otomatis terjadi ketika nilai-nilai tertentu sudah dipahami oleh siswa.
Metode mengajar memegang peranan penting dalam mencapai tujuan atau keberhasilan pengajaran. Seorang guru  dituntut untuk menguasai pengetahuan yang memadai dan teknik-teknik mengajar yang baik agar ia mampu menciptakan suasana pengajaran yang efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dengan demikian metode pengajaran bersifat dinamis, agar dapat memilih dan memakai metode yang tepat, harus selalu di adakan penelitian dan evaluasi secara terus menerus. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai inovasi metode prmbelajaran pendidikan agama Islam.


B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)    Apa pengertian inovasi dan metode pembelajaran
2)   Apa saja macam-macam metode pembelajaran PAI
3)   Bagaimana inovasi metode pembelajaran PAI
4)    Bagaimana dampak inovasi metode pembelajaran PAI

C. Tujuan
1)   Mengetahui pengertian inovasi dan metode pembelajaran
2)   Mengetahui macam-macam metode pembelajaran PAI
3)   Mengetahui inovasi metode pembelajaran PAI
4)   Memahami dampak inovasi metode pembelajaran PAI


















II.      PEMBAHASAN
A.     Pengertian Inovasi dan Metode Pembelajaran
Ø Inovasi
Kata innovation dari bahasa inggris sering diterjemahkan segala hal yang baru atau pembaharuan. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi inovasi. Inovasi terkadang dipakai untuk menyatakan penemuan, tetapi inovasi juga diartikan pengembangan dari sesuatu yang belum berkembang.
Selanjutnya, kata inovasi identik dengan modernisasi. Inovasi dan modernisasi adalah sama-sama perubahan sosial, perbedaannya hanya pada penekanan ciri dari perubahan. Inovasi menekankan pada ciri adanya suatu yang diamati sebagai suatu yang baru bagi individu atau masyarakat. Sedangkan modernisasi menekankan pada adanya proses perubahan dari tradisional ke modern, atau dari belum maju ke yang sudah maju.
Jadi dapat disimpulkan bahwa diterimanya suatu inovasi adalah sebagai tanda adanya modernisasi. Menurut peneliti bahwa inovasi yang dimaksud adalah “pembaharuan” dalam pembelajaran. Inovasi merupakan hal baru bagi lembaga pendidikan yang baru menerima dan tidak baru lagi bagi lembaga pendidikan yang telah merancang atau memulainya lebih dulu.
Ø Metode Pembelajaran
Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan,khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.[1] Syarat-syarat yang harus diperhatikan seorang guru dalam penggunaan metode pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.   Metode yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motif,minat atau gairah belajar siswa.
2.   Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut,seperti melakukan inovasi dan eksporasi.
3.   Metode yang digunaka harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.
4.   Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
5.   Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memporoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
6.   Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.[2]
B.      Macam-Macam Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Secara garis besar metode yang sering di gunakan dalam pembelajaran orang dewasa antara lain:
Ø Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar.”.   Berdasarkan pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered).
Ø  Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah.
Jika metode ini dikelola dengan baik, antusiasme siswa untuk terlibat dalam forum ini sangat tinggi. Tata caranya adalah sebagai berikut: harus ada pimpinan diskusi, topik yang menjadi bahan diskusi harus jelas dan menarik, peserta diskusi dapat menerima dan memberi, dan suasana diskusi tanpa tekanan.
Ø Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut. Metoda Tanya Jawab akan menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan berpariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.
Ø Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda.
Ø Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
Ø Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan.
Ø Metode Tutorial/Bimbingan
Metode tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan/dilakukan oleh guru kepada siswa baik secara perorangan atau kelompok kecil siswa. Disamping metoda yang lain, dalam pembelajaran Pendidikan Teknologi Dasar, metoda ini banyak sekali digunakan, khususnya pada saat siswa sudah terlibat dalam kerja kelompok.
Ø Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan.[3]
C.     Inovasi Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Meskipun metode ceramah sering dianggap biang keladi yang menimbulkan penyakit “verbalisme” dan budaya “bungkam” di kalangan pelajar, namun kenyataannya metode tersebut masih populer dimana-mana. Hanya, sebelum metode itu itu digunakan guru tentu perlu melakukan modifikasi atau penyesuaian seperlunya. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memodifikasi atau menyesuaikan metode ceramah, antara lain adalah dengan kiat pemaduan (kombinasi) antara metode tersebut dengan metode-metode lainnya. Dari kiat pemaduan ini kita dapat memunculkan ragam metode ceramah baru yang berbeda dari aslinya, atau sebut saja “metode ceramah plus”.
Metode ceramah plus tersebut dapat terdiri atas banyak metode campuran. Namun dalam kesempatan ini hanya tiga macam metode ceramah plus yang akan menyusun sajikan.
Ø Metode Ceramah Plus Tanya Jawab dan tugas (CPTT)
Seperti yang telah disinggung dalam uraian-uraian sebelumnya, metode ceramah ternyata baru akan membuahkan hasil pembelajaran yang memuaskan apabila didukung oleh metode lain di samping alat-alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, perlu adanya gagasan penganekaragaman metode ceramah plus, antara lain seperti metode “ceramah plus tanya jawab dan tugas” (CPTT) ini.
Dipandang dari sudut namanya saja metode tersebut jelas merupakan kombinasi antara metode ceramah, metode tanya jawab dan pemberian tugas. Implementasi (cara melaksanakan) metode campuran ini idealnya dilakukan secara tertib, yakni:
1)   Penyampaian uraian materi oleh guru
2)   Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa
3)   Pemberian tugas kepada para siswa.[30]
Ø Metode Ceramah Plus Diskusi dan tugas (CPDT)
Berbeda dengan aplikasi metode ceramah plusyang pertama, metode CPDT ini hanya dapat dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya. Maksudnya pertama tama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
Penyelenggaraan uraian/ceramah dalam konteks metode ceramah plus ini dimaksudkan untuk memberikan informasi atau penjelasan mengenai pokok bahasan dan topik atau agenda masalah yang akan didiskusikan. Jadi, pada tahap ini guru menjalankan fungsinya sebagai indikator (pemberi masalah yang harus dibicarakan dalam forum diskusi). Sudah tentu, alokasi waktu ceramah hjarus di atur sedemikian rupa agar kegiatan diskusi memeroleh waktu yang cukup. Pengaturan alokasi waktu ini sangat penting untuk perhatian guru, karena akan mempengaruhi jalannya diskusi yang akan dilaksanakan siswa yang mungkin akan tergesa-gesa, kalau waktunya kurang memadai.
Ø Metode Ceramah plus Demonstrasi dan pelatihan (CPDP)
Dilihat dari sudut namanya, metode ceramah plus ke tiga ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memeragakan dan latihan (drill). Metode CPDP ini sangat berguna bagi PMB bidang studi atau materi pelajaran yang berorientasi pada keterampilan jasmaniah (kecakapan ranah karsa) siswa. Walaupun demikian, sebelum para siswa mempelajari/melatih kecakapan ranah karsa, terlebih dahulu mereka perlu mempelajari/melatih kecakapan ranah cipta mereka berupa pemahaman mengenai konsep, proses, dan kiat melakukan keterampilan ranah karsa tersebut. Oleh karena itu, aplikasi metode Ceramah Plus Diskusi dan Pelatihan ini, lebih kurang sama dengan aplikasi metode CPDT, yaitu harus dilakukan secara tertib sesuai dengan urutannya. Namun jika diperlukan, guru dapat memberi ceramah singkat berupa penjelasan tambahan sesuai pelatihan. Tujuan utama dalam metode ceramah plus ini adalah untuk menjelaskan konsep-konsep keterampilan jasmaniah yang terdapat dalam materi-materi pelajaran keterampilan tertentu, seperti: seni tari, seni suara, dan olahraga. Selain itu, ceramah dalam konteks metode ceramah plus CPDP ini dapat pula digunakan untuk menjelaskan keterampulan praktis yang ada dalam pelajaran agama (Islam), umpamanya keterampilan berwudhu dan shalat.
D. Dampak Inovasi Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Untuk melakukan perubahan dalam proses pendidikan, maka dibutuhkan metode yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik. Hal ini penting sebab ada pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar anak didik.[4] Pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar dapat dilihat secara berkesinambungan sebab pendidikan adalah proses. Tidak heran jika di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, metode harus dikuasai oleh guru. Semakin menguasai metode mengajar, semakin jelas pengaruh pembelajaran terhadap prestasi belajar anak didik. Tetapi kita harus pula memperhatikan kondisi anak didik. Adapun perbedaan pendidikan konvensional dan inovatif akan dijelaskan pada tabel dibawah ini:
INOVATIF
KONVENSIONAL
1.  Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
1.  Siswa adalah penerima  informasi secara pasif.
2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
2.  Siswa belajar secara individual.
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan.
3.  Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
4.  Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
4.  Perilaku dibangun atas kebiasaan.
5.  Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
5.  Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
6.  Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan.
6.  Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan.
7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman.
8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam kontek nyata.
8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan structural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (driill).
9. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.
9. Rumus itu ada di luar siswa, yang harus diterengkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan.
10. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya, sesuai dengan skemata siswa (ongoing process of development).
10. Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.
11. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut beranggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.
11. Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberi kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
12. Pengetahuan yang dimiliki manusia yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusiamenciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya.
12. Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia.
13. Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksikan) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete).
13. Kebenaran bersifat absolut dan
pengetahuan bersifat final.
14. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing- masing.
14. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
15. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan.
15. Pembelajaran tidak memprhatikan pengalaman siswa.
16. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dan lain-lain.
16. Hasil belajar diukur hanya dengan tes.
17. Pembelajaran terjadi di berbgai tempat, konteks, dan setting.
17. Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas.
18. Penyelesaian adalah hukuman dari perilaku jelek.
18. Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek.
19. Perilaku baik berdasar motivasi intrinsic.
19. Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik.
20. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat.
20. Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.

Dari tabel di atas dapat diambil pengetian bahwa melalui kurikulum yang mengalami pembaharuan, maka metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran juga akan mengalami pembaharuan yang menitik beratkan pada hasil pembelajaran itu sendiri.[5] Dengan demikian inovasi metode  pembelajaran pendidikan agama Islam diartikan sebagai kegiatan guru agama dalam proses belajar mengajar keagamaan yang dapat memberikan kemudahan atau menyediakan fasilitas anak didik menuju tujuan.













III.   PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.    Inovasi adalah pembaharuan dalam pembelajaran. Inovasi merupakan hal baru bagi lembaga pendidikan yang baru menerima dan tidak baru lagi bagi lembaga pendidikan yang telah merancang atau memulainya lebih dulu.
2.    Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan,khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.
3.    Metode mengajar meliputi ceramah, diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, eksperimen, demontrasi, tutorial dan problem solving.
4.    Inovasi metode pembelajaran antara lain metode ceramah plus tanya jawab dan tugas, metode ceramah plus diskusi dan tugas, serta metode ceramah plus demonstrasi dan pelatihan.
5.    Pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar dapat dilihat secara berkesinambungan sebab pendidikan adalah proses.

B.  Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2001.
Sabri, Ahmad, Strategi belajar Mengajar ( Ciputat: PT. Ciputat Press,2007) 50.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Penada Media Grup, 2008.


[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Penada Media Grup, 2008) 127.
[2] Ahmad Sabri, Strategi belajar Mengajar ( Ciputat: PT. Ciputat Press,2007) 50.
[3] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Penada Media Grup, 2008) 152.
[4] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, ( Jakarta: Kalam Mulia, 2001) 35.

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...