ISLAM UNIVERSAL DAN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN
A.
Latar Belakang
Islam dikenal
sebagai agama universal. Dalam Al Quran, dakwah Islam juga dikenal bersifat
universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Di antara
dalil Al Quran atas universalitas Islam adalah ayat-ayat yang berbicara kepada
umat manusia dengan ungkapan: “Ya Ayyuhannas” (wahai sekalian manusia!), atau
“Ya Bani Adam” (wahai anak-anak Adam). Islam satu-satunya agama universal dan
memiliki kesempurnaan di segala aspek yang dapat diaplikasikan oleh manusia
dalam kehidupannya. Islam satu-satunya ideologi yang dapat menuntun manusia
untuk mencari kesempurnaan yang menjadi idamannya. Walaupun agama Islam
merupakan agama terakhir tetapi di sinilah letak keutamaan dan kesempurnaan
agama ini dibandingkan dengan agama-agama lainnya, baik itu agama samawi yang
turun dari Allah maupun agama atau jalan hidup yang lahir dari ide dan
pengalaman spiritual seseorang.
Pandangan Islam
tentang pendidikan dapat dirumuskan bahwa belajar merupakan perintah utama dari
agama Islam, tercermin pada ayat yang pertama kali turun surat al ‘Alaq 1-4.
artinya: Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan, yakni telah
menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan nama tuhanmu yang Maha
Mulia, yang telah mengajarkan dengan pena, yakni telah mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya.. Oleh karena itu dalam
makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai Islam
universal dan lokal dalam proses pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan
adalah sebagai berikut:
1)
Apa
pengertian Islam universal dan bagaimana proses pendidikan Islam universal.
2)
Apa
pengertian Islam lokal dan bagaimana proses pendidikan Islam lokal.
C.
Pembahasan
1.
Islam Universal dan Proses Pendidikan Islam
Universal
Universal secara bahasa artinya umum atau menyeluruh. Universalisme (al-’Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik
Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2)
Insaniyyah (humanistik), (3)
Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh
semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4)
Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5)
Waqi’iyah (realitas), (6)
Jelas dan gamblang, (7) Integrasi
antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).[1] Ajaran islam bersifat
universal dan berlaku setiap zaman. Keabadian dan keaktualan islam telah
dibuktikan sepanjang sejarahnya, dimana setiap kurun waktu dan perkembangan
peradaban manusia senantiasa
dapat dijawab tuntas oleh ajaran islam melalui Al-Qur’an sebagai landasannya.
Keuniversalan ajaran
islam pada hakikatnya terwujud dari hal yang paling mendasar dan pokok dari
seluruh konsep islam, yaitu keyakinan akan keesaan Allah dan Tauhidullah.[2]
Konsep tauhidullah adalah konsep khas Islam dan menjadi asas yang paling
esensial dalam seluruh system islam yang dapat melahirkan jiwa kaum muslimin
merdeka dari intervensi, penekanan, dan intimidasi manusia lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Islam Universal yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam
ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan
masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa
dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk
kepadanya. Risalah Islam
adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua
hamba-Nya.[3]
Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: “Dan tidak Kami utus engkau
(Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam”.
Menyoroti asal
usul pendidikan Islam haruslah disertai dengan pemahaman tentang motivasi awal
proses belajar mengajar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah dengan
penekanan pada periode awal. Sebagai bukti terdapat kaitan erat antara belajar
dan penggerak utamanya.[4]
Ketika Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang
sangat istimewa. Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman diantara
kaum muslim dan mereka yang berilmu.
Penggerak utama
dari wahyu inilah yang sangat memotifasi muslim dalam belajar. Selain itu
mereka belajar juga dalam rangka mengembangkan fitrah mereka. Ini berpedoman
bahwa pendidikan Islam secara universal yaitu bahwa manusia dilahirkan secara
fitrah (HR. Muslim), karena itu pengembangan fitrah-fitrah harus dilakukan
dengan ajaran agama Islam (wahyu) sebagaimana dalam QS:
an-Nahl: 89. Proses
perkembangan pendidikan islam secara universal pada masa Islam klasik abad
pertengahan memperlihatkan adanya transformasi dari masjid ke madrasah.[5]
Proses pendidikan
Islam universal bisa kita lihat dari ajaran-ajaran islam yang ada di sekolah
ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an
dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad
SAW sampai sekarang ini. Ajarannya menyeluruh untuk semua umat dimanapun mereka
berada tanpa terikat dengan keadaan adat istiadat setempat, contohnya seperti
sholat, zakat, puasa, dan haji. Walaupun berbeda suku, ras, dan bangsa,
pelaksannan ajaran Islam tetap sama sesuai yang termaktub di Al Qur’an dan
hadits.
Selanjutnya
setelah masa kejumudan pada abad ke-19 banyak negara Islam melakukan
modernisasi sebagai akibat dari pengaruh Barat. Pembaharuan dan modernisasi pendidikan Islam dimulai di
Turki. Semangat yang ada di Turki ini kemudian menular pada beberapa kawasan
lainnya, terutama seluruh wilayah kekuasaan Turki Ustmani di Timur Tengah. Ada
dua kebijakan fundamental yang dilakukakn terkait dengan pengelolaan
kelembagaan pendidikan, yaitu pembentukan sekolah-sekolah baru sesuai dengan
sistem pendidikan Eropa dan penghapusan sistem madrasah dengan mengubahnya
menjadi sekolah-sekolah umum. Selain
Mustafa Kemal Ataruk, di Mesir Muhammad Ali Pasya juga melakukan pembaharuan.
Pembaharuan Ali Pasya ini berlanjut hingga ke Gamal Abdul Naser yang
menghapuskan sistem madrasah dan kuttab.
2.
Islam Lokal dan Proses Pendidikan Islam Lokal
Lokal adalah
suatu hal yang berasal dari daerah sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan
masyarakat namun pengartiannya beragam. Sedangkan Islam lokal secara sederhana
dapat diartikan Islam yang bercampur kebudayaan lokal. Jadi yang dimaksud islam
lokal di sini adalah Islam yang menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat
dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih
bersifat lokal dan tidak universal. Dalam
sejarah manusia seluruh dunia dan pada setiap zaman, agama adalah sesuatu yang
terus mengalami perubahan. Hal demikian ini dikarenakan agama tidaklah lahir
dari sebuah realitas yang hampa, tetapi ia (agama) hadir dalam masyarakat yang
telah mempunyai nilai-nilai. Pertemuan antara Islam dan budaya Indonesia yang
notabene mempuyai budaya dan kultur yang berlainan antar suku bangsa,
misalnya telah menjadikan Islam Indonesia mempunyai banyak wajah.[6]
Determisme
historis telah membentuk suatu gerakan demi mewujudkan kembali kejayaan Islam.
Hal ini mengacu pada cerita sukses Islam sebagai agama kosmopolit sejak zaman
Nabi saw, Dinasti Umayyah, Dinasti Abasiyah, dan Turki Utsmani. Meskipun
globalisasi wilayah Islam tidak lagi seperti pada zaman keemasannya, dengan
sistem kekhalifahan Islam (nizham al-Islam) dari semenanjung Arab hingga
daratan Eropa, kini memori sejarah itu telah memberikan motivasi kuat untuk
melakukan perubahan menuju Islam global dalam bentuknya yang paling ekstrem
melalui penaklukan doktrinal.[7]
Yakni, memberikan justifikasi teologis bahwa model dan cara beragama masyarakat
muslim di wilayah non-Arab sebagai tidak asli dan tidak murni.
Tak heran jika
Islam selalu didakwahkan dalam terminologi ‘Islam Kafah’ untuk menjustifikasi
agenda puritanisme. Sehingga, ketika ditemukan ajaran-ajaran agama lokal
dianggap sebagai sinkretis, tidak beradab, antikemajuan, kumuh, dan tidak
otentik. Karena itu, yang dilakukan adalah mengganti seluruh ritual lokal
menjadi ritual Islam. Tak heran jika praktik seperti ini disebut Islam global.[8]
Proses
pendidikan Islam lokal dapat kita amati dari perjuangan para walisongo dalam
proses islamisasi nusantara. Pada waktu itu Indonesia masih kental dengan
ajaran budhanya sehingga bila para walisongo menyiarkan agama Islam secara
frontal akan sulit diterima dan pastinya akan gagal dalam islamisasi nusantara.
Oleh karena itu para walisongo mengambil langkah dengan Islam dipadu padankan dengan adat
istiadat dan budaya setempat agar mudah diterima, tetapi masih sesuai dengan Al
Qur’an dan hadits. Seperti kisah sunan kalijaga yang pengislaman dengan
menggunakan media wayang kulit untuk mengambil simpati dan antusias warga dalam
berdakwah. Tidak hanya itu para walisongo juga ada yang menggunakan media
tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di isi dengan ajaran islami.
Mencari
autentisitas Islam menjadi sangat sulit dan bahkan tidak mungkin mengingat
pluralitas pengalaman, tantangan, dan problem yang dihadapi umat manusia di
zaman dan tempat yang berbeda. Dalam konteks inilah, Islam sebagai agama telah
mengalami historisasi sesuai dengan karakter penganutnya (umat manusia) yang
hidup di dalam alam kesejarahan. Sehingga, jargon kembali kepada generasi Salaf
(Alquran dan Hadis) mesti ditafsir ulang sesuai dengan konteks zamannya.[9] Dengan
demikian, benturan antara Islam sebagai agama global, universal, kosmopolit dan
lokalitas, bukan dalam pengertian penaklukan terhadap tradisi keberagamaan
masyarakat lokal. Melainkan, melakukan akomodasi positif dalam tiga arah,
antara agama pendatang (Islam), moderisasi Barat dan agama lokal.[10]
Inilah yang mesti menjadi karakter Islam di Indonesia dalam setiap
perubahan zaman, sehingga aspek-aspek lokalitas dan yang pribumi dapat menjadi
bagian dari praktik keberagamaan masyarakat di mana pun berada.
Pendidikan
Islam yang lokalis, yaitu yang mengakomodir kebijaksanaan budaya lokal serta
berwawasan global adalah perlu agar tidak terjerembab puritanisme dan tidak
terlalu mengadah pada modernisme. Atau dengan kata lain act locally think
globally.[11]
Sebagaimana pada masa awal Islam datang ke Indonesia yang bisa dengan
mudah diterima masyarakat. Islam di terima di Indonesia karena beberapa faktor
terutama karena islam itu tidak sempit dan tidak berat melakukan
aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan. Bahkan
untuk masuk Islam cukup dengan kalimat syahadat.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1. Islam universal
adalah risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta
untuk semua lapisan masyarakat.
2. Islam lokal adalah Islam yang telah menjadi
padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu,
sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak universal.
3. Proses pendidikan Islam universal adalah ajaran islam yang ada di sekolah
ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an
dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad
SAW sampai sekarang ini, contoh sholat, puasa, zakat, dan haji.
4. Proses pendidikan Islam lokal dapat kita amati
dari perjuangan para walisongo dalam proses islamisasi nusantara. Yaitu dengan
media pewayangan, media tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di
isi dengan ajaran islami.
E.
Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan
makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi
kesempurnaan pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Http://isyraq.wordpress.com/2008/04/06/islam-agama-universal/ diakses tanggal 14/04/2017
Https://cofeeloverscommunity.wordpress.com/2012/06/07/islam-universal-dan-islam-lokal-dalam-filsafat-pendidikan/ diakses tanggal 17/04/2017
Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam,
Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Muzayyin, Arifin, Filsafat Pendidikan,
Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Salehudin, Ahmad, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal,
Yogyakarta: Pilar Media, 2007.
Wahid, Abdurrahman, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan,
Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989.
Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara, 2012.
[3]
Abdurrahman
Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 13.
[5]
Abdurrahman
Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 21.
[7] Ahmad Salehudin, Fenomena
Ekspresi Keberagaman Islam Lokal (Yogyakarta: Pilar Media, 2007) hal. 94.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar