Rabu, 19 Juli 2017

ISLAM UNIVERSAL DAN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN

ISLAM UNIVERSAL DAN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN
A.       Latar Belakang
Islam dikenal sebagai agama universal. Dalam Al Quran, dakwah Islam juga dikenal bersifat universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Di antara dalil Al Quran atas universalitas Islam adalah ayat-ayat yang berbicara kepada umat manusia dengan ungkapan: “Ya Ayyuhannas” (wahai sekalian manusia!), atau “Ya Bani Adam” (wahai anak-anak Adam). Islam satu-satunya agama universal dan memiliki kesempurnaan di segala aspek yang dapat diaplikasikan oleh manusia dalam kehidupannya. Islam satu-satunya ideologi yang dapat menuntun manusia untuk mencari kesempurnaan yang menjadi idamannya. Walaupun agama Islam merupakan agama terakhir tetapi di sinilah letak keutamaan dan kesempurnaan agama ini dibandingkan dengan agama-agama lainnya, baik itu agama samawi yang turun dari Allah maupun agama atau jalan hidup yang lahir dari ide dan pengalaman spiritual seseorang.
Pandangan Islam tentang pendidikan dapat dirumuskan bahwa belajar merupakan perintah utama dari agama Islam, tercermin pada ayat yang pertama kali turun surat al ‘Alaq 1-4. artinya: Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan, yakni telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan nama tuhanmu yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan pena, yakni telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai Islam universal dan lokal dalam proses pendidikan.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)   Apa pengertian Islam universal dan bagaimana proses pendidikan Islam universal.
2)   Apa pengertian Islam lokal dan bagaimana proses pendidikan Islam lokal.


C.      Pembahasan
1.    Islam Universal dan Proses Pendidikan Islam Universal
Universal secara bahasa artinya umum atau menyeluruh. Universalisme (al-’Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi’iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).[1] Ajaran islam bersifat universal dan berlaku setiap zaman. Keabadian dan keaktualan islam telah dibuktikan sepanjang sejarahnya, dimana setiap kurun waktu dan perkembangan peradaban manusia senantiasa dapat dijawab tuntas oleh ajaran islam melalui Al-Quran sebagai landasannya.
Keuniversalan ajaran islam pada hakikatnya terwujud dari hal yang paling mendasar dan pokok dari seluruh konsep islam, yaitu keyakinan akan keesaan Allah dan Tauhidullah.[2] Konsep tauhidullah adalah konsep khas Islam dan menjadi asas yang paling esensial dalam seluruh system islam yang dapat melahirkan jiwa kaum muslimin merdeka dari intervensi, penekanan, dan intimidasi manusia lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Islam Universal yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya. Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya.[3] Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam”.
Menyoroti asal usul pendidikan Islam haruslah disertai dengan pemahaman tentang motivasi awal proses belajar mengajar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah dengan penekanan pada periode awal. Sebagai bukti terdapat kaitan erat antara belajar dan penggerak utamanya.[4] Ketika Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang sangat istimewa. Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman diantara kaum muslim dan mereka yang berilmu.
Penggerak utama dari wahyu inilah yang sangat memotifasi muslim dalam belajar. Selain itu mereka belajar juga dalam rangka mengembangkan fitrah mereka. Ini berpedoman bahwa pendidikan Islam secara universal yaitu bahwa manusia dilahirkan secara fitrah (HR. Muslim), karena itu pengembangan fitrah-fitrah harus dilakukan dengan ajaran agama Islam (wahyu) sebagaimana dalam QS: an-Nahl: 89. Proses perkembangan pendidikan islam secara universal pada masa Islam klasik abad pertengahan memperlihatkan adanya transformasi dari masjid ke madrasah.[5]
Proses pendidikan Islam universal bisa kita lihat dari ajaran-ajaran islam yang ada di sekolah ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini. Ajarannya menyeluruh untuk semua umat dimanapun mereka berada tanpa terikat dengan keadaan adat istiadat setempat, contohnya seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Walaupun berbeda suku, ras, dan bangsa, pelaksannan ajaran Islam tetap sama sesuai yang termaktub di Al Qur’an dan hadits.
Selanjutnya setelah masa kejumudan pada abad ke-19 banyak negara Islam melakukan modernisasi sebagai akibat dari pengaruh Barat. Pembaharuan dan modernisasi pendidikan Islam dimulai di Turki. Semangat yang ada di Turki ini kemudian menular pada beberapa kawasan lainnya, terutama seluruh wilayah kekuasaan Turki Ustmani di Timur Tengah. Ada dua kebijakan fundamental yang dilakukakn terkait dengan pengelolaan kelembagaan pendidikan, yaitu pembentukan sekolah-sekolah baru sesuai dengan sistem pendidikan Eropa dan penghapusan sistem madrasah dengan mengubahnya menjadi sekolah-sekolah umum. Selain Mustafa Kemal Ataruk, di Mesir Muhammad Ali Pasya juga melakukan pembaharuan. Pembaharuan Ali Pasya ini berlanjut hingga ke Gamal Abdul Naser yang menghapuskan sistem madrasah dan kuttab.
2.    Islam Lokal dan Proses Pendidikan Islam Lokal
Lokal adalah suatu hal yang berasal dari daerah sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan masyarakat namun pengartiannya beragam. Sedangkan Islam lokal secara sederhana dapat diartikan Islam yang bercampur kebudayaan lokal. Jadi yang dimaksud islam lokal di sini adalah Islam yang menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak universal. Dalam sejarah manusia seluruh dunia dan pada setiap zaman, agama adalah sesuatu yang terus mengalami perubahan. Hal demikian ini dikarenakan agama tidaklah lahir dari sebuah realitas yang hampa, tetapi ia (agama) hadir dalam masyarakat yang telah mempunyai nilai-nilai. Pertemuan antara Islam dan budaya Indonesia yang notabene mempuyai budaya dan kultur yang berlainan antar suku bangsa, misalnya telah menjadikan Islam Indonesia mempunyai banyak wajah.[6]
Determisme historis telah membentuk suatu gerakan demi mewujudkan kembali kejayaan Islam. Hal ini mengacu pada cerita sukses Islam sebagai agama kosmopolit sejak zaman Nabi saw, Dinasti Umayyah, Dinasti Abasiyah, dan Turki Utsmani. Meskipun globalisasi wilayah Islam tidak lagi seperti pada zaman keemasannya, dengan sistem kekhalifahan Islam (nizham al-Islam) dari semenanjung Arab hingga daratan Eropa, kini memori sejarah itu telah memberikan motivasi kuat untuk melakukan perubahan menuju Islam global dalam bentuknya yang paling ekstrem melalui penaklukan doktrinal.[7] Yakni, memberikan justifikasi teologis bahwa model dan cara beragama masyarakat muslim di wilayah non-Arab sebagai tidak asli dan tidak murni.
Tak heran jika Islam selalu didakwahkan dalam terminologi ‘Islam Kafah’ untuk menjustifikasi agenda puritanisme. Sehingga, ketika ditemukan ajaran-ajaran agama lokal dianggap sebagai sinkretis, tidak beradab, antikemajuan, kumuh, dan tidak otentik. Karena itu, yang dilakukan adalah mengganti seluruh ritual lokal menjadi ritual Islam. Tak heran jika praktik seperti ini disebut Islam global.[8]
Proses pendidikan Islam lokal dapat kita amati dari perjuangan para walisongo dalam proses islamisasi nusantara. Pada waktu itu Indonesia masih kental dengan ajaran budhanya sehingga bila para walisongo menyiarkan agama Islam secara frontal akan sulit diterima dan pastinya akan gagal dalam islamisasi nusantara. Oleh karena itu para walisongo mengambil langkah  dengan Islam dipadu padankan dengan adat istiadat dan budaya setempat agar mudah diterima, tetapi masih sesuai dengan Al Qur’an dan hadits. Seperti kisah sunan kalijaga yang pengislaman dengan menggunakan media wayang kulit untuk mengambil simpati dan antusias warga dalam berdakwah. Tidak hanya itu para walisongo juga ada yang menggunakan media tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di isi dengan ajaran islami.
Mencari autentisitas Islam menjadi sangat sulit dan bahkan tidak mungkin mengingat pluralitas pengalaman, tantangan, dan problem yang dihadapi umat manusia di zaman dan tempat yang berbeda. Dalam konteks inilah, Islam sebagai agama telah mengalami historisasi sesuai dengan karakter penganutnya (umat manusia) yang hidup di dalam alam kesejarahan. Sehingga, jargon kembali kepada generasi Salaf (Alquran dan Hadis) mesti ditafsir ulang sesuai dengan konteks zamannya.[9] Dengan demikian, benturan antara Islam sebagai agama global, universal, kosmopolit dan lokalitas, bukan dalam pengertian penaklukan terhadap tradisi keberagamaan masyarakat lokal. Melainkan, melakukan akomodasi positif dalam tiga arah, antara agama pendatang (Islam), moderisasi Barat dan agama lokal.[10] Inilah yang mesti menjadi karakter Islam di Indonesia dalam setiap perubahan zaman, sehingga aspek-aspek lokalitas dan yang pribumi dapat menjadi bagian dari praktik keberagamaan masyarakat di mana pun berada.
Pendidikan Islam yang lokalis, yaitu yang mengakomodir kebijaksanaan budaya lokal serta berwawasan global adalah perlu agar tidak terjerembab puritanisme dan tidak terlalu mengadah pada modernisme. Atau dengan kata lain act locally think globally.[11] Sebagaimana pada masa awal Islam datang ke Indonesia yang bisa dengan mudah diterima masyarakat. Islam di terima di Indonesia karena beberapa faktor terutama karena islam itu tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan. Bahkan untuk masuk Islam cukup dengan kalimat syahadat.













D.      Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.    Islam universal adalah risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat.
2.    Islam lokal adalah Islam yang telah menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak universal.
3.    Proses pendidikan Islam universal  adalah ajaran islam yang ada di sekolah ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, contoh sholat, puasa, zakat, dan haji.
4.    Proses pendidikan Islam lokal dapat kita amati dari perjuangan para walisongo dalam proses islamisasi nusantara. Yaitu dengan media pewayangan, media tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di isi dengan ajaran islami.


E.       Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Muzayyin, Arifin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Salehudin, Ahmad, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal, Yogyakarta: Pilar Media, 2007.
Wahid, Abdurrahman, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989.
Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.



[2] Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011) hal. 68.
[3] Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 13.
[4] Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal. 62.
[5] Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 21.
[6] Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011) hal. 73.
[7] Ahmad Salehudin, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal (Yogyakarta: Pilar Media, 2007) hal. 94.
[8] Arifin Muzayyin, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) hal. 55.
[10] Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal. 74.
[11] Arifin Muzayyin, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) hal. 60.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...