Rabu, 19 Juli 2017

PERAN WALISONGO DALAM PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA

PERAN WALISONGO DALAM PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
I.     PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Walisongo berarti sembilan wali. Mereka adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Mereka tinggal di pantai uatara Jawa dari awal abad 15 M hingga pertengahan abad 16 Mz, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gersik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradapan baru : mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Era walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu – Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai peran walisongo dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)    Apa pengertian walisongo.
2)    Bagaimana peran walisongo dalam penyebaran Islam di Indonesia.
3)    Bagaimana metode pendidikan Islam masa walisongo.
II.     PEMBAHASAN
A.      Pengertian Walisongo
Kata Walisongo diartikan dengan wali yang berjumlah sembilan (songo/sanga dalam bahasa jawa yang berarti sembilan). Namun demikian terdapat beberapa penafsiran lain. Kata sanga merupakan perubahan dari kata arab tsana yang berarti terpuji. Sehingga Walisongo berarti wali yang terpuji. Penafsiran lain, menjelaskan bahwa kata sanga diambil dari kata sangha yang dalam agama budha berartri jama’ah para biksu (Ulama’) sehingga walisongo berarti perkumpulan para wali yang terhimpun dalam suatu lembaga dakwah.
Walisongo berarti sembilan orang wali, mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria serta sunan Gunung
Jati. 
Keberhasilan Islamisasi jawa merupakan hasil perjuangan dan kerja keras Walisongo. Proses islamisasi ini sebagian besar berjalan secara damai, nyaris tanpa konflik, baik polotik maupun kultural, meskipun terdapat konflik, skalanya sangat kecil, sehingga tidak mengesankan sebagai perang, kekerasan ataupun pemaksaan budaya. Penduduk jawa menganut dengan suka rela. Walisongo menerapkan metode dakwah yang akomodatif, dan lentur, sehingga kehadiran mereka bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Kehadiran para wali ditengah-tengah masyarakat jawa tidak dipandang sebagai ancaman. Dengan kepiwaianya para wali menggunakan unsur-unsur bedaya lama (Hindu atau Budha) sebgai media dakwah mereka. Sedikit demi sedikit mereka memasukan nilai-nilai ajaran Islam kedalam unsur-unsur lama itu. Metode ini sering disebut metode sinkretisme. 
Periode walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu Budha dalam budaya nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia khusunya dijawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan sangat besar yang mereka mainkan tidak hanya dalam kontek sejarah pendirian kerajaan islam dijawa, juga pengaruhnya yang begitu besar dalam kehidupan dan pembentukan kebudayaan masyarakat. Pemikiran dan gerakan yang dilakuka para wali ini dalam pengembangan dakwah Islam secara langsung, membuat ”sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding dengan yang lain. Dalam kata lain, masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai ”Tabib” bagi kerajaan Hindu majapahit, Sunan Giri yang disebut para Kolonialis sebagai ”Paus dari timur” hingga sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat jawa yakni nuansa hindu dan Budha.[1]
B.  Peran Walisongo dalam Penyebaran Islam di Indonesia
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran dakwah Islamiyah di tanah jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas. Dengan itu agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Berikut peran walisongo dalam penyebaran Islam.
1.    Peranan Perdagangan dalam Proses Penyebaran Islam
Islam masuk ke Indonesia dibawa pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Adapun kota pelabuhan dagang yang berperan besar dibidang penyebaran agama Islam diabad ke-16 adalah Malaka. Saat para pedagang muslim menunggu perubahannya arah angin untuk menuju tempat tertentu dalam berlayar, mereka memanfaatkan waktu luangnya untuk menyebarkan Islam kepada para pedagang dari daerah lain, termasuk pedagang Indonesia.[2]
2.    Peranan Perkawinan dalam Proses Penyebaran Islam
Perkawinan juga memegang penting dalam penyebaran agama Islam. Banyak pedagang Arab, Persia dan Gujarat menikah dengan wanita Indonesia, terutama putri bangsawan atau raja. Misalnya Syeh Maulana Ishak menikahi Dewi Sekardadu, putri raja Blambangan yang menurunkan Sunan Giri. Sunan Ampel menikahi Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban, menurunkan Sunan Bonang dan Sunan Drajat.[3] Dengan cara ini, banyak yang ikut memeluk Islam.
3.    Peranan Pendidikan dalam Proses Penyebaran Islam
Proses penyebaran agama Islam melalui pendidikan berupa pendidikan di pondok-pondok pesantren. Para santri yang telah lulus merupakan ujung tombak penyebaran Islam didaerahnya masing-masing.
C.  Metode Pendidikan Islam Masa Walisongo
Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan “teman akrab” dan media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam nash syariat. Secara rinci, metode yang dilakukan walisongo adalah:
1.      Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa, dianggap sebagai ayah dari walisongo. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis.
Di Gresik, beliau juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat gresik semakin meningkat. Beliau memiliki gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi sawah dan ladang. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik, pada tahun 1419.[4]
2.      Sunan Ampel (Raden Rahmad)
Sunan Ampel adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim yang tertua, ia membangun mengembangkan pondok pesantren di daerah Ampel Denta yang berawa-rawa. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15 M, pesantren tersebut menjadi sentral pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara.[5] Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi, namun pada para santrinya, beliau hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum-minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika, dan tidak berzina.
3.      Sunan bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim)
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’. Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
 Sunan Bonang menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang.[6] Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.  Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam.
4.      Sunan Drajat (Raden Qasim)
Belau menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Beliau mendirikan pesantren yang bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta, beri makan pada yang lapar, beri pakaian pada yang telanjang”.Gamelan Singomengkok adalah salah satu peninggalannya yang terdapat di Musium daerah Sunan Drajat, Lamongan.
5.      Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al-‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan gurunya Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus.
Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:
·      Strategi pendekatan kepada masa dengan jalan
1)      Membiarkan adat istiadat lama yang sulit diubah.
2)      Menghindarkan konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama islam.
3)      Tut Wuri Handayani.
4)      Bagian adat istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.
·         Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
·         Merangkul masyarakat Budha.
Selain masjid, Sunan Kudus juga mendirikan padasan tempat wudlu dengan pancuran yang berjumlah delapan, diatas pancuran diberi arca kepala Kebo Gumarang diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha.
·      Selamatan Mitoni
Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan sejarah Nabi.
6.      Sunan Giri (Ainul Yaqi Atau Raden Paku)
Beliau mendirikan pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
7.      Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Ia memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia itdak pernah meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disispkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.
Beliau sangat toleran pada budaya lokal, ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Sunan Kalijaga jugalah yang menciptakan Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid.
8.      Sunan Muria (Raden Umar Said)
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
9.      Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung Jati sebelum meletakkan dasar agama Islam dan bagi perdagangan orang Islam, terlebih dahulu telah menunaikan rukun ke-5 naik haji ke Mekkah sebelum tiba di Kerajaan Sultan Demak. sebagai haji yang shaleh dan sebagai mufasir yang mengenal percaturan dunia ia mendapat sambutan hangat di kerajaan itu. Kemudian setelahitu pindah ke Banten, dan ia berhasil menggaantikan bupati Pasundan di situ, dan mengambil alih pemerintahan atas kota pelabuhan tersebut. Dengan awal langkah inilah ia memenfaatkan tahtanya untuk menyebarkan agama Islam, terutama mengislamkan Jawa Barat.[7]


III.        PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.      Walisongo berarti perkumpulan para wali yang terhimpun dalam suatu lembaga dakwah.
2.      Peran walisongo dalam penyebaran Islam:
·         Peranan Perdagangan dalam Proses Penyebaran Islam.
·         Peranan Perkawinan dalam Proses Penyebaran Islam.
·         Peranan Pendidikan dalam Proses Penyebaran Islam.
3.      Secara garis besar metode pendidikan masa walisongo dalam penyebaran agama islam antara lain:
·      Di bidang politik, sebagai pendukung kerajaan-kerajaan Islam meupun sebagai penasehat raja-raja Islam, atau sebagai raja.
·      Dibidang seni budaya, berperan sebagai pengembang kebudayaan setempat yang disesuikan dengan budaya Islam baik melalui akulturasi maupun asimilasi kebudayaan.
·      Menyebarkan agama Islam dengan menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat jawa.
·      Mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama, seperti tembang jelungan, cublak-cublak suweng, dan lir-ilir, pangkur.
·      Mengembangkan seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat, dan kesusastraan.

B.       Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.




DAFTAR PUSTAKA

Puar, Yusuf Abdullah, Masuknya Islam ke Indonesia, Jakarta: CV. Indradjaya, 1984.
Sulasman dan Suparman, Sejarah Ilam di Asia dan Eropa, Bandung: Pustaka Setia, 2013.






[2] Yusuf Abdullah Puar, Masuknya Islam ke Indonesia (Jakarta: CV. Indradjaya, 1984) hal. 94.
[3] Yusuf Abdullah Puar, Masuknya Islam ke Indonesia (Jakarta: CV. Indradjaya, 1984) hal. 99.
[4] Sulasman dan Suparman, Sejarah Ilam di Asia dan Eropa (Bandung: Pustaka Setia, 2013) hal. 304.
[5] Sulasman dan Suparman, Sejarah Ilam di Asia dan Eropa (Bandung: Pustaka Setia, 2013) hal. 305.
[6] Sulasman dan Suparman, Sejarah Ilam di Asia dan Eropa (Bandung: Pustaka Setia, 2013) hal. 305.

ISLAM UNIVERSAL DAN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN

ISLAM UNIVERSAL DAN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN
A.       Latar Belakang
Islam dikenal sebagai agama universal. Dalam Al Quran, dakwah Islam juga dikenal bersifat universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Di antara dalil Al Quran atas universalitas Islam adalah ayat-ayat yang berbicara kepada umat manusia dengan ungkapan: “Ya Ayyuhannas” (wahai sekalian manusia!), atau “Ya Bani Adam” (wahai anak-anak Adam). Islam satu-satunya agama universal dan memiliki kesempurnaan di segala aspek yang dapat diaplikasikan oleh manusia dalam kehidupannya. Islam satu-satunya ideologi yang dapat menuntun manusia untuk mencari kesempurnaan yang menjadi idamannya. Walaupun agama Islam merupakan agama terakhir tetapi di sinilah letak keutamaan dan kesempurnaan agama ini dibandingkan dengan agama-agama lainnya, baik itu agama samawi yang turun dari Allah maupun agama atau jalan hidup yang lahir dari ide dan pengalaman spiritual seseorang.
Pandangan Islam tentang pendidikan dapat dirumuskan bahwa belajar merupakan perintah utama dari agama Islam, tercermin pada ayat yang pertama kali turun surat al ‘Alaq 1-4. artinya: Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan, yakni telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan nama tuhanmu yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan pena, yakni telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai Islam universal dan lokal dalam proses pendidikan.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)   Apa pengertian Islam universal dan bagaimana proses pendidikan Islam universal.
2)   Apa pengertian Islam lokal dan bagaimana proses pendidikan Islam lokal.


C.      Pembahasan
1.    Islam Universal dan Proses Pendidikan Islam Universal
Universal secara bahasa artinya umum atau menyeluruh. Universalisme (al-’Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi’iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).[1] Ajaran islam bersifat universal dan berlaku setiap zaman. Keabadian dan keaktualan islam telah dibuktikan sepanjang sejarahnya, dimana setiap kurun waktu dan perkembangan peradaban manusia senantiasa dapat dijawab tuntas oleh ajaran islam melalui Al-Quran sebagai landasannya.
Keuniversalan ajaran islam pada hakikatnya terwujud dari hal yang paling mendasar dan pokok dari seluruh konsep islam, yaitu keyakinan akan keesaan Allah dan Tauhidullah.[2] Konsep tauhidullah adalah konsep khas Islam dan menjadi asas yang paling esensial dalam seluruh system islam yang dapat melahirkan jiwa kaum muslimin merdeka dari intervensi, penekanan, dan intimidasi manusia lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Islam Universal yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya. Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya.[3] Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam”.
Menyoroti asal usul pendidikan Islam haruslah disertai dengan pemahaman tentang motivasi awal proses belajar mengajar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah dengan penekanan pada periode awal. Sebagai bukti terdapat kaitan erat antara belajar dan penggerak utamanya.[4] Ketika Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang sangat istimewa. Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman diantara kaum muslim dan mereka yang berilmu.
Penggerak utama dari wahyu inilah yang sangat memotifasi muslim dalam belajar. Selain itu mereka belajar juga dalam rangka mengembangkan fitrah mereka. Ini berpedoman bahwa pendidikan Islam secara universal yaitu bahwa manusia dilahirkan secara fitrah (HR. Muslim), karena itu pengembangan fitrah-fitrah harus dilakukan dengan ajaran agama Islam (wahyu) sebagaimana dalam QS: an-Nahl: 89. Proses perkembangan pendidikan islam secara universal pada masa Islam klasik abad pertengahan memperlihatkan adanya transformasi dari masjid ke madrasah.[5]
Proses pendidikan Islam universal bisa kita lihat dari ajaran-ajaran islam yang ada di sekolah ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini. Ajarannya menyeluruh untuk semua umat dimanapun mereka berada tanpa terikat dengan keadaan adat istiadat setempat, contohnya seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Walaupun berbeda suku, ras, dan bangsa, pelaksannan ajaran Islam tetap sama sesuai yang termaktub di Al Qur’an dan hadits.
Selanjutnya setelah masa kejumudan pada abad ke-19 banyak negara Islam melakukan modernisasi sebagai akibat dari pengaruh Barat. Pembaharuan dan modernisasi pendidikan Islam dimulai di Turki. Semangat yang ada di Turki ini kemudian menular pada beberapa kawasan lainnya, terutama seluruh wilayah kekuasaan Turki Ustmani di Timur Tengah. Ada dua kebijakan fundamental yang dilakukakn terkait dengan pengelolaan kelembagaan pendidikan, yaitu pembentukan sekolah-sekolah baru sesuai dengan sistem pendidikan Eropa dan penghapusan sistem madrasah dengan mengubahnya menjadi sekolah-sekolah umum. Selain Mustafa Kemal Ataruk, di Mesir Muhammad Ali Pasya juga melakukan pembaharuan. Pembaharuan Ali Pasya ini berlanjut hingga ke Gamal Abdul Naser yang menghapuskan sistem madrasah dan kuttab.
2.    Islam Lokal dan Proses Pendidikan Islam Lokal
Lokal adalah suatu hal yang berasal dari daerah sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan masyarakat namun pengartiannya beragam. Sedangkan Islam lokal secara sederhana dapat diartikan Islam yang bercampur kebudayaan lokal. Jadi yang dimaksud islam lokal di sini adalah Islam yang menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak universal. Dalam sejarah manusia seluruh dunia dan pada setiap zaman, agama adalah sesuatu yang terus mengalami perubahan. Hal demikian ini dikarenakan agama tidaklah lahir dari sebuah realitas yang hampa, tetapi ia (agama) hadir dalam masyarakat yang telah mempunyai nilai-nilai. Pertemuan antara Islam dan budaya Indonesia yang notabene mempuyai budaya dan kultur yang berlainan antar suku bangsa, misalnya telah menjadikan Islam Indonesia mempunyai banyak wajah.[6]
Determisme historis telah membentuk suatu gerakan demi mewujudkan kembali kejayaan Islam. Hal ini mengacu pada cerita sukses Islam sebagai agama kosmopolit sejak zaman Nabi saw, Dinasti Umayyah, Dinasti Abasiyah, dan Turki Utsmani. Meskipun globalisasi wilayah Islam tidak lagi seperti pada zaman keemasannya, dengan sistem kekhalifahan Islam (nizham al-Islam) dari semenanjung Arab hingga daratan Eropa, kini memori sejarah itu telah memberikan motivasi kuat untuk melakukan perubahan menuju Islam global dalam bentuknya yang paling ekstrem melalui penaklukan doktrinal.[7] Yakni, memberikan justifikasi teologis bahwa model dan cara beragama masyarakat muslim di wilayah non-Arab sebagai tidak asli dan tidak murni.
Tak heran jika Islam selalu didakwahkan dalam terminologi ‘Islam Kafah’ untuk menjustifikasi agenda puritanisme. Sehingga, ketika ditemukan ajaran-ajaran agama lokal dianggap sebagai sinkretis, tidak beradab, antikemajuan, kumuh, dan tidak otentik. Karena itu, yang dilakukan adalah mengganti seluruh ritual lokal menjadi ritual Islam. Tak heran jika praktik seperti ini disebut Islam global.[8]
Proses pendidikan Islam lokal dapat kita amati dari perjuangan para walisongo dalam proses islamisasi nusantara. Pada waktu itu Indonesia masih kental dengan ajaran budhanya sehingga bila para walisongo menyiarkan agama Islam secara frontal akan sulit diterima dan pastinya akan gagal dalam islamisasi nusantara. Oleh karena itu para walisongo mengambil langkah  dengan Islam dipadu padankan dengan adat istiadat dan budaya setempat agar mudah diterima, tetapi masih sesuai dengan Al Qur’an dan hadits. Seperti kisah sunan kalijaga yang pengislaman dengan menggunakan media wayang kulit untuk mengambil simpati dan antusias warga dalam berdakwah. Tidak hanya itu para walisongo juga ada yang menggunakan media tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di isi dengan ajaran islami.
Mencari autentisitas Islam menjadi sangat sulit dan bahkan tidak mungkin mengingat pluralitas pengalaman, tantangan, dan problem yang dihadapi umat manusia di zaman dan tempat yang berbeda. Dalam konteks inilah, Islam sebagai agama telah mengalami historisasi sesuai dengan karakter penganutnya (umat manusia) yang hidup di dalam alam kesejarahan. Sehingga, jargon kembali kepada generasi Salaf (Alquran dan Hadis) mesti ditafsir ulang sesuai dengan konteks zamannya.[9] Dengan demikian, benturan antara Islam sebagai agama global, universal, kosmopolit dan lokalitas, bukan dalam pengertian penaklukan terhadap tradisi keberagamaan masyarakat lokal. Melainkan, melakukan akomodasi positif dalam tiga arah, antara agama pendatang (Islam), moderisasi Barat dan agama lokal.[10] Inilah yang mesti menjadi karakter Islam di Indonesia dalam setiap perubahan zaman, sehingga aspek-aspek lokalitas dan yang pribumi dapat menjadi bagian dari praktik keberagamaan masyarakat di mana pun berada.
Pendidikan Islam yang lokalis, yaitu yang mengakomodir kebijaksanaan budaya lokal serta berwawasan global adalah perlu agar tidak terjerembab puritanisme dan tidak terlalu mengadah pada modernisme. Atau dengan kata lain act locally think globally.[11] Sebagaimana pada masa awal Islam datang ke Indonesia yang bisa dengan mudah diterima masyarakat. Islam di terima di Indonesia karena beberapa faktor terutama karena islam itu tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan. Bahkan untuk masuk Islam cukup dengan kalimat syahadat.













D.      Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1.    Islam universal adalah risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat.
2.    Islam lokal adalah Islam yang telah menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak universal.
3.    Proses pendidikan Islam universal  adalah ajaran islam yang ada di sekolah ataupun madrasah yaitu guru menjelaskan ajaran islam sesuai dengan Al Qur’an dan hadits sehingga ajaran islam tidak berubah sejak dari masa Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, contoh sholat, puasa, zakat, dan haji.
4.    Proses pendidikan Islam lokal dapat kita amati dari perjuangan para walisongo dalam proses islamisasi nusantara. Yaitu dengan media pewayangan, media tembang, perayaan adat dan lain-lain yang semuanya di isi dengan ajaran islami.


E.       Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Muzayyin, Arifin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Salehudin, Ahmad, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal, Yogyakarta: Pilar Media, 2007.
Wahid, Abdurrahman, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989.
Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.



[2] Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011) hal. 68.
[3] Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 13.
[4] Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal. 62.
[5] Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1989) hal. 21.
[6] Jalaluddin, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2011) hal. 73.
[7] Ahmad Salehudin, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal (Yogyakarta: Pilar Media, 2007) hal. 94.
[8] Arifin Muzayyin, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) hal. 55.
[10] Zuhairini, Filsfat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hal. 74.
[11] Arifin Muzayyin, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) hal. 60.

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...