Rabu, 19 Juli 2017

HADITS TENTANG MATERI PENDIDIKAN

HADITS TENTANG MATERI PENDIDIKAN
I.     PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Al Qur’an dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama karena memiliki nilai absolut yang diturunkan oleh Tuhan. Allah menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia, sehingga kandungan mengenai pendidikan telah termaktub dalam wahyu-Nya. Nilai esensi dalam Al Qur’an selalu relevan dengan perkembangan zaman, sehingga Pendidikan Islam yang ideal harus sepenuhnya mengacu nilai dasar Al Qur’an
Hadist adalah segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat-sifat dan keadaannya. Dan hadist berfungsi sebagai penjelas dari petunjuk-petunjuk Allah yang terdapat dalam Al Qur’an, termasuk masalah pendidikan. Nabi Muhammad adalah seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan. Untuk mengetahui materi pendidikan yang telah diaplikasikan oleh Rasullah, kita perlu mengkaji hadist-hadist pendidikan guna dijadikan sebagai pedoman. Secara garis besar materi pendidikan Islam meliputi aqidah, ibadah, akhlak, hati, jasmani, sosial, intelek, dan seks. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih jelas mengenai hadist tentang materi pendidikan.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)    Apa pengertian materi pendidikan.
2)   Bagaimana kandungan hadist yang membahas tentang materi pendidikan.
C.  Tujuan
1)    Mengetahui pengertian materi pendidikan.
2)   Mengetahui dan memahami kandungan hadist-hadist yang membahas tentang materi pendidikan.

  II.     PEMBAHASAN
A.      Pengertian Materi Pendidikan
Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya
materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar ,serta tercapainya indikator.[1]
Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut.
B.       Hadist yang Membahas Tentang Materi Pendidikan
1.         Pendidikan Aqidah dan Pendidikan Ibadah
Pendidikan Aqidah ialah proses pembinaan dan pemantapan  kepercayaan dalam diri seseorang sehingga menjadi yang kuat dan benar.[2] Proses tersebut dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran, bimbingan dan latihan. Dalam penerapannya pendidik dapat menerapkan dengan berbagai metode yang relavan dengan tujuan yang ingin dicapai. Islam menempatkan pendidikan aqidah pada posisi yang mendasar, yakni sebagai rukun Islam yang pertama.
Pendidikan ibadah adalah proses pengajaran, pelatihan dan bimbingan dalam pengamalan ibadah khusus. Materi pendidikan ibadah meliputi puasa, zakat, dan haji.[3] Pendidikan ibadah harus mulai diberikan sejak dini sehingga ketika usia baligh maka mereka dapat mengamalkannya.
Berkaitan dengan hal ini, ditemukan hadist sebagai berikut:
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib, dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Waki’, Abu Bakar berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Zakariya bin Ishaq dia berkata, telah menceritakan kepadaku yahya bin Abdullah bin shaifi dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas dari Mu’adz bin Jabal, Abu Bakar berkata, “barangkali”, “waki’” berkata, dari Ibnu Abbas, bahwa Mu’adz berkata, “Rasullah SAW mengutusku. Beliau bersabda:”sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaati untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaati untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir diantara mereka. Jika mereka mentaati untuk hal tersebut, maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terdzalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah”.[4]
Ø  Analisa Kependidikan
Pendidikan aqidah adalah hal yang paling mendasar dari Islam, yaitu menyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah. Karna itu sebagai syarat masuk Islam dan harus diajarkan mulai dari kecil tentang aqidah untuk bekal besok dihari nanti. Dan juga tentang ibadah bahwa kita telah diwajibkan melaksanakan ibadah sebagai bentuk hamba Allah yang menyembah dan mengimani-Nya.
2.         Pendidikan Akhlak
Pendidikan akhlak adalah proses pembinaan budi pekerti anak sehingga menjadi budi pekerti yang mulia. Proses tersebut tidak terlepas dari pembinaan kehidupan beragama peserta didik secara total.[5] Pendidikan akhlak mengutamakan nilai-nilai universal dan fitrah yang dapat diterima oleh semua pihak. Beberapa akhlak yang dicontohkan Nabi diantaranya adalah menyenangi kelembutan, kasih sayang, tidak kikir, tidak berkeluh kesah, tidak hasud, dan lain sebagainya. Orangtua mempunyai kewajiban untuk menanamkan akhlak karimah pada anaknya, karena sangat penting dan dapat membahagiakan hidup, baik di dunia dan di akhirat. Sehubungan dengan ini, ditemukan hadist berikut.
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami  Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin sulaiman dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya. “Abu Isa berkata; “Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas. “Dia menambahkan; “Hadits abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih”.[6]
Ø  Analisa Kependidikan
Akhlak adalah ukuran iman seseorang, sehingga jika akhlaknya baik maka semakin meningkat derajat seseorang, sebaliknya semakin buruk akhlak seseorang semakin rendah derajat seseorang.
3.         Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, ental, sosial, serta emosional bagi masyarakat dengan wahana aktivitas jasmani.[7] Diantara tujuan pendidikan jasmani adalah menjaga dan memelihara kesehatan badan termasuk organ-organ pernapasan, peredaran darah, pencernaan, melatih otot-otot dan urat saraf, serta melatih kecekatan dan ketangkasan. Sehubungan dengan ini, ditemukan hadist berikut.
1.    Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idris dari Rabi’ah bin “utsman dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Al-A’raj dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; seandainya saya tadi berbuat begini dan begitu. Tetapi katakanlah; Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata “law” (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan”.[8]
Ø  Analisa Kependidikan
Mukmin yang kuat tentu akan dapat melaksanakan segala aktivitas ibadah dengan baik dan sempurna tanpa ada hambatan yang menghalanginya untuk berbuat kebaikan, sedang mukmin yang lemah dan tidak kuasa untuk beraktivitas. Ibadah tidak dilakukan dengan semata niat tetapi perlu direalisasikan dalam bentuk gerakan badan seperti shalat, puasa dan haji karena kesehatan juga merupakan hal yang urgen dalam beribadah.
2.    Menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga
a)      Berkuda
 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَّامٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالرَّامِيَ بِهِ وَمُنْبِلَهُ وَارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا لَيْسَ مِنْ اللَّهْوِ إِلَّا ثَلَاثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَهَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami sa’id bin Mansur, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak, telah menceritakaan kepadaku Abdurrahaman bin Yazid bin Jabir,telah menceritakan kepadaku Abu Sallam. Dari Khalid bin Zaid dari ‘Uqbah, ia  berkata; Saya mendengar Rasulullah shallaallahu alaihi wassalam berkata; “Sesungguhnya Allah memasukkan tiga orang kedalam surga karena satu anak panah. Pembuatnya yang menginginkan kebaikan kedalam membuatnya, orang yang memanah dengannya, serta orang yang mengambilkan anak panah untuknya. Panah dan naiklah kuda, kalian memanah adalah lebih aku sukai dari pada kalian menaiki kudabukan termasud hiburan (yang disunahkan) kecuali tiga perkara: seseorang melatih kudanya, bercanda dengan istrinya, dan memanah dengan menggunakan busurnya serta anak panah nya. Dan barang siapa yang meninggalkan memanah setelah ia mengetahui nya karena tidak senang kepadanya maka sesungguhnya hal tersebut adalah kenikmatan yang ia tinggalkan atau ia berkata:yang ia ingkar.[9]
Ø  Analisa Kependidikan
Berkuda dan memanah termasuk olahraga yang disukai oleh Rasulullah SAW. Kemampuan berkuda dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan termasuk berdagang dan berperang. Dalam konteks zaman sekarang, anjuran mengendrai kuda dapat pula diterjemahkan sebagai anjuran penggunaan teknologi transportasi.
b)     Memanah
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ ثُمَامَةَ بْنِ شُفَيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُاسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru bin Al Harits dari Abu Ali Tsumamah bin Syufayi bahwa dia mendengar 'Uqbah bin 'Amir berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan ketika beliau di atas mimbar: '(Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi) ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar.[10]
Ø  Analisa kependidikan
Rasulullah SAW pernah memberikan motivasi kepada para sahabat agar mereka bergairah memanah. Memanah pada dasarnya adalah menggunakan senjata. Senjata dapat berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Karena pada saat ini senjata sudah beraneka ragam, maka anjuran memanah itu dapat pula berarti anjuran menggunakan senjata yang modern.
c)      Menjaga pola makan
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَلَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Waqid bin Muhammad dari Nafi’ ia berkata; Biasanya Ibnu Umar tidak makan hingga datang kepadanya seorang miskin lalu makan bersamanya. Maka aku pun memasukkan seorang laki-laki untuk makan bersamanya, lalu laki-laki itu makan banyak, maka ia pun berkata, “Wahai Nafi’, jangan kamu masukkan orang ini. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Sahallahu “Alaihi wa Sallam bersabda: Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.”[11]
4.         Pendidikan Sosial
Pendidikan sosial adalah proses pembinaan kesadaran sosial, sikap sosial, dan keterampilan sosial agar anak dapat hidup dengan baik serta wajar di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.[12]
Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak mampu hidup sendiri. Ia tidak boleh mementingkan diri sendiri, untuk itu Rasullah mendidik umatnya agar menjadi makhluk sosial dengan motivasi yang besar. Sehubungan dengan ini, ditemukan hadist berikut.
1.      Menjaga tali silaturrahmi dengan sesama muslim
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ
Artinya: Diceritakan kepada kami abdullah bin yusuf telah menghabarkan kepada kami malik dari ibnu sihab dari annas bin malik bahwa sanya rasulullah saw bersabda janganlah saling bermusuh musuhan, dan saling mendengki, dan janganlah saling mengadu domda, dan jadilah kalian hamba allah yang bersaudarah dan tidak halal bagi seorang muslim, memusuhi atau mendiamkan saudaranya, lebih dari 3 malam.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْكِرْمَانِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ حَدَّثَنَا يُونُسُ قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ الزُّهْرِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Ya'qub AL Karmaniy telah menceritakan kepada kami Hassan telah menceritakan kepada kami Yunus berkata, Muhammad, dia adalah Az Zuhriy dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang ingin diluaskan rezeqinya atau meninggalkan nama sebagai orang baik setelah kematiannya hendaklah dia menyambung silaturrahim.[13]
Ø  Analisa kependidikan
Sesama muslim itu adalah bersaudara, jadi kita harus saling menjaga tali silaturrahmi dengan saudara kita sesama muslim.[14] Karena kita sesama muslim diibaratkan seperti suatu bangunan yang saling mengikat, bangunan yang satu memperkuat bangunan yang lain. Jadi agar bangunan tetap kokoh maka muslim harus tetap satu dan tidak memutuskan tali silaturrahmi. Seorang pendidik harus menjaga tali silaturrahmi yang baik dengan sesama pendidik, peserta didik, orangtua, dan masyarakat sekitar, dengan demikian peserta didik bisa meneladani sikap guru tersebut.
2.    Saling membantu sesama muslim
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ .حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَاه نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَخَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ غَيْرَ أَنَّ حَدِيثَ أَبِي أُسَامَةَ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ التَّيْسِيرِ عَلَى الْمُعْسِرِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi dan Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Al 'Ala Al Hamdani dan lafadh ini milik Yahya dia berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan berkata yang lainnya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.' Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakannya kepada kami Nashr bin 'Ali Al Jahdhami telah menceritakan kepada kami Abu Usamah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Abu Shalih. Sebagaimana di dalam hadits Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata dengan lantang, sebagaimana Hadits Abu Mu'awiyah, hanya saja di dalam Hadits Abu Usamah tidak disebutkan; memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan.[15]
Ø Analisa kependidikan
Nilai-nilai kependidikan yang terkandung dalam hadits diatas adalah:
1) Melepaskan berbagai kesulitan orang mukmin
.
2) Melonggarkan kesusahan orang lain.
3) Menutup aib seorang mukmin serta menjaga orang lain dari berbuat dosa.
4) Allah SWT menolong hambanya selagi hamba menolong saudaranya.
5.         Pendidikan Intelek
Pendidikan akal adalah proses meningkatkan kemampuan intelektual dalam bidang ilmu alam, teknologi, dan sains modern sehingga anak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh-Nya.[16] Sehubungan dengan ini, ditemukan hadist berikut.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya: "Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.[17]
Ø  Analisa kependidikan
Pendidikan akal adalah proses peningkatan kemampuan intelektual anak, ilmu alam, teknologi, dan sains modren sehingga anak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmun pengetahuan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan Khaalifanya guna me,bangun dunia sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan .Rasulullah SAW menganjurkan pada umatnya agar menggunakan akalnya dan dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan serta melarang umatnya untuk mengikuti orang lain tanpa berusaha menemukan kebenaran.
6.         Pendidikan Seks
Dorongan seksual yang telah diciptakan oleh Allah dalam diri manusia menjadi sebab kelangsungan seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Agar dorongan seksual pada diri anak dapat berjalan dengan normal tanpa ada pembangkit dari luar yang menyebabkannya menyimpang dari perilaku yang lurus, islam telah menuntunnya dengan berbagai perintah dan larangan. Adapun pilar-pilar yang telah digariskan oleh Rasullah antara lain memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan, posisi tidur miring ke kanan, tidak menelungkap, membiasakan anak menundukkan pandangan, dan memelihara aurat.[18] Sehubungan dengan ini, ditemukan hadist berikut.
1.         Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ .حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ سَوَّارٍ الْمُزَنِيُّ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ وَزَادَ وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ عَبْدَهُ أَوْ أَجِيرَهُ فَلَا يَنْظُرْ إِلَى مَا دُونَ السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَةِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهِمَ وَكِيعٌ فِي اسْمِهِ وَرَوَى عَنْهُ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ حَدَّثَنَا أَبُو حَمْزَةَ سَوَّارٌ الصَّيْرَفِيُّ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal bin Hisyam Al-Yasykuri telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Sawwar Abu Hamzah berkata Abu Dawud; Dia adalah Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi dari Amru bin Syu'aib dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya." Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepadaku Dawud bin Sawwar Al-Muzani dengan isnadnya dan maknanya dan dia menambahkan; (sabda beliau): "Dan apabila salah seorang di antara kalian menikahkan sahaya perempuannya dengan sahaya laki-lakinya atau pembantunya, maka janganlah dia melihat apa yang berada di bawah pusar dan di atas paha." Abu Dawud berkata; Waki' wahm dalam hal nama Sawwar bin Dawud. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah Sawwar Ash-Shairafi.[19]
Ø  Analisa kependidikan
Pada masa remaja awal terjadi perubahan jasmani yang cepat, yaitu dengan mulai tumbuhnya ciri-ciri keremajaan yang terkait dengan matangnya organ seks. Sehingga pertumbuhan fisik yang terkait dengan seksual ini mengakibatkan terjadinya goncangan emosi, kecemasan dan kekawatiran pada remaja, bahkan dengan kondisi ini juga akan dpat mempengaruhi kesadaran beragamanya, apalagi remaja itu kurang mendapatkan pengalaman atau pendidikan tentang agama. Sebagai pendidik yang pertama dan utama, pendidikan keluarga dapat mencetak anak agar mempunyai kepribadian yang kemudian dapat dikembangkan dalam lembaga yang berikutnya, dan dapat mengkombinasikan antara pendidikan yang diperoleh di keluarga dengan pendidikan lembaga  tersebut, sehingga pondok pesantren dan sekolah merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga.[20]
Pemisahan tersebut untuk menjaga masalah-masalah yang berhubungan dengan seksual. Anak-anak laki dan perempuan tidak mengetahui apa yang mungkin terjadi antara keduanya akibat dari sentuhan, pelukan, atau percampuran. Untuk menjaga peluang terjadinya hal tersebut, hendaklah dilakukan tindakan yang penuh kehati-hatian.
Di antara langkah-langkah yang harus dilakukan ialah mengkhususkan satu kamar laki-laki dan satu kamar lagi untuk wanita, juga ranjang dan selimutnya dibuat terpisah untuk masing-masing anak. Kalau itu sulit dilakukan, boleh tidur pada satu ranjang dengan syarat masing-masing memiliki selimut sendiri-sendiri. Oleh karenanya, orang tua harus waspada terhadap anak-anak berusia lebih dari satu tahun untuk tidak tidur di kamar orang tuanya, karena dikhawatirkan melihat sesuatu yang tidak diinginkan, yakni hubungan alami antara laki-laki dan wanita.
2.         Posisi Tidur Miring Kekanan, Tidak Menelungkup
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ قَالَ فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا بَلَغْتُ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ قُلْتُ وَرَسُولِك قَالَ لَا وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
 Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Sa'ad bin 'Ubaidah dari Al Bara' bin 'Azib berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudlulah seperti wudlu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu dan ucapkanlah: (Ya Allah, aku pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan perasaan senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus) '. Jika kamu meninggal pada malammu itu, maka kamu dalam keadaan fitrah dan jadikanlah do'a ini sebagai akhir kalimat yang kamu ucapkan." Al Bara' bin 'Azib berkata, "Maka aku ulang-ulang do'a tersebut di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga sampai pada kalimat: (Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan), aku ucapkan: (dan rasul-Mu), beliau bersabda: "Jangan, tetapi (dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus).[21]
Ø  Analisa kependidikan
Muhammad Suwaid menjelaskan bahwa meneladani sunnah Rasulullah dalam tidur dengan cara berbaring pada sisi kanan akan menjauhkan anak dari sekian banyak gelombang seksual anak ketika tidur. Nabi menganggap tidur telungkup sebagai tidurnya syetan. Tidur telungkup mengakibatkan banyaknya gesekan alat kelamin anak, yang akan membangkitkan syahwatnya.
Tidur tengkurap atau menelungkup tidak praktis untuk pernapasan atau bisa sesak dalam bernafas. Banyak tidur pada sisi kiri badan (menghadap ke kiri) bisa mengganggu kesehatan kita, karena menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak. Jika ini terjadi kita akan mengalami mimpi-mimpi sedih memilukan, mimpi buruk/seram (nightmares), bahkan berjalan dalam keadaan tidur (somnabulisme). Posisi tidur terbaik menurut sains adalah pada sisi kanan tubuh (menghadap ke kanan). Fakta ini telah diuji melalui riset medis modern yang panjang untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yang berkualitas wahyu, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan kepada para pengikut beliau untuk tidur berbaring pada sisi badan bagian kanan.
Salah satu adab tidur adalah di anjurkan untuk miring ke kanan, dan di balik sunnah Nabi ini ternyata banyak sekali hikmah dan manfaat yang bisa kita ambil dari sisi kesehatan. Berikut Manfaat Tidur Menghadap Ke Sebelah Kanan menurut Penjelasan Medis
1)      Mengistirahatkan otak sebelah kiri
2)      Mengurangi beban jantung.
3)      Mengistirahatkan lambung.
4)      Meningkatkan pengosongan kandung empedu, pancreas.
5)      Meningkatkan waktu penyerapan zat gizi.
6)      Merangsang buang air besar (BAB)
7)      Mengisitirahatkan kaki kiri
8)      Menjaga kesehatan paru-paru
9)      Menjaga saluran pernafasan
3.    Menundukkan Pandangan Dan Memelihara Syahwat

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍعَنْعَبْدِاللَّهِبْنِعَبَّاسٍأَنَّهُقَالكَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata; Fadl bin Abbas pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba seorang wanita dari Khats'am meminta fatwa kepada beliau. Fadll menengok kepada perempuan itu dan perempuan itu pun menengok Fadll. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memalingkan wajah Fadll ke arah lain. Perempuan itu berkata, "Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?" beliau menjawab: "Boleh." Dan hal itu terjadi pada saat haji wada'.[22]
Ø  Analisa Kependidikan
Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks pada peserta didik khususnya. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW memalaingkan wajah al Fadhl Ibn Abbas yang sedang saling melihat dengan seorang wanita, beliau melakukan hal ini karena dikhawatirkan akan dipengaruhi oleh syetan dan menimbulkan nafsu syahwatnya. Pandangan merupakan jendela bagi anak untuk melihat dunia luar. Apa saja yang dilihat oleh kedua mata akan tertanam dalam benak, jiwa dan ingatan dengan cepat jika hal ini dibiasakan maka anak akan bisa menjaga pandangan dari aurat dan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga melahirkan kemanisan iman, orang tua dan guru mempunyai peran yang penting dalam mengingatkan kepada anak agar mereka senantiasa menjaga pandangan mata terhadap aurat yang bukan muhrim.


















III.        PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa:
1Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
2.  Hadist-hadist dari nabi Muhammad diatas telah memberikan kita pembelajaran dalam hal materi pelajaran yang meliputi pendidikan aqidah, ibadah, akhlak, jasmani, sosial, intelek dan seks. maka sebagai hamba kita wajib belajar untuk menyeimbangkan berbagai kebutuhan dalam pendidikan sesuai dengan hadits yang di contohkan rasulullah dan juga harus kita ajarkan mulai dasar terhadap anak  didik kita. Sehingga kita dapat menjadi hamba yang sesuai dengn syariat dan selalu mencontoh perbuatan nabi Muhammad SAW.

B.       Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.













DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, dan Abdul Rozak, Hadits-Hadits tentang Tuntunan Hidup, Jakarta: Mitra Media, 2010.
Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2006.
Suryani, Hadis Tarbawi, Yogyakarta: Teras, 2012.
Umar, Bukhari, Hadis Tarbawi, Jakarta: Amzah, 2012.



[2] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 38.
[3] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 41.
[4] Suryani, Hadis Tarbawi (Yogyakarta: Teras, 2012) hal. 63.
[5] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 42.
[6] Suryani, Hadis Tarbawi (Yogyakarta: Teras, 2012) hal. 65.
[7] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 49.
[12] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 55.
[14] Aminuddin dan Abdul Rozak, Hadits-Hadits tentang Tuntunan Hidup (Jakarta: Mitra Media, 2010) hal. 55.
[16] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 57.
[18] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Jakarta: Amzah, 2012) hal. 62.
[20] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2006) hal. 58.

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...