Selasa, 05 April 2016

makalah peradaban islam abad pertengahan



PERADABAN ISLAM PADA PERIODE TENGAH
       I.            PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Sejarah peradaban Islam di abad pertengahan melahirkan banyak dinasti kecil seperti dinasti Mamluk Mesir, dinasti kesultanan Delhi, dan tiga kerajaan besar yang lahir pada abad ini yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki, Kerajaan Shafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Di masa kemajuan ketiga kerajaan tersebut mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur dan arsitektur. Masjid dan gedung indah yang didirikan pada zaman ini masih dapat dilihat sampai saat ini.
Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan warisan kemajuan periode klasik, dan perhatian pada ilmu pengetahuan masih kurang bila dibandingkan dengan masa sebelumnya, namun kemajuan umat Islam pada abad ini menarik untuk dikaji, karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah Dunia Islam mengalami kemunduran. Untuk mengetahui tentang peradaban Islam pada periode tengah, akan dijelaskan lebih lanjut dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana peradaban Islam pada masa dinasti Mamluk Mesir?
2)      Bagaimana peradaban Islam pada masa kerajaan Turki Usmani?
3)      Bagaimana peradaban Islam pada masa kerajaan Shafawi?
4)      Bagaimana peradaban Islam pada masa dinasti Kesultanan Delhi?
5)      Bagaimana peradaban Islam pada masa  kerajaan Mughal?




    II.            PEMBAHASAN
A.    Dinasti Mamluk Mesir
1.       Proses Berdirinya Dinasti Mamluk Mesir
Hampir setengah abad (1250-1517 M) Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir. Sebelum Dinasti Mamluk di Mesir ini berdiri, telah berdiri dinasti Mamluk yang lain di India pada tahun 1206 M, dan berakhir di tahun 1280 M. Kebangkitan Dinasti Mamluk di Mesir berbarengan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Baghdad dan mundurnya Islam di Spanyol. Hal ini menjadi catatan yang akan selalu terukir oleh tinta sejarah. Nama lain dari Dinasti ini adalah Daulat al-Atrak yang selanjutnya berekembang meliputi wilayah kekuasaan Mesir dan Syria.[1]
Terbentuknya dinasti Mamluk di Mesir tidak dapat dipisahkan dari dinasti Ayyubiyah ketika terjadi perebutan kekuasaan antara al-Malik as-Shalih dan al-Malik al-Kamil. Dalam perebutan kekuasaan ini, para tentara yang berasal dari suku kurdi memihak kepada al-Malik al-Kamil, sementara para budak yang tergabung dalam Mamluk Bahri mendukung al-Malik as-Shalih. Dalam perebutan kekuasaan ini, al-Malik as-Shalih mampu mengalahkan al-Malik al-Kamil. Sejak saat itulah kaum Mamluk mempunyai pengaruh besar dalam kemiliteran dan pemerintahan. Perhatian al-Malik as-Shalih begitu besar terhadap kaum Mamluk sehingga banyak di antara mereka ditempatkan pada kelompok-kelompok elit yang terpisah dari masyarakat atau kelompok militer lainnya.
Al-Malik as-Shalih meninggal pada tahun 1429 M setelah menderita sakit dan timbul kekacauan-kekacauan di berbagai daerah. Kematian as-Shalih dirahasiakan isterinya (Syajarat al-Dur), kemudian putera mahkota as-Shalih yang bernama Turansyah memegang tampuk kekuasaan. Namun, kaum Mamluk Bahri menganggap bahwa Turansyah bukan orang yang dekat dengan mereka. Selain itu Turansyah juga menguasai seluk beluk Mesir secara keseluruhan. Setelah itu diangkatlah Syajarat al-Dur sebagai sultan mereka, dan sinilah awal terbentuknya dinasti Mamluk di Mesir yang dipimpin oleh seorang budak dan berakhirlah dinasi Ayubiyyah menguasai mesir.[2]
2.      Kemajuan Dinasti Mamluk Mesir
a. Bidang Politik dan pemerintah
Baybar melakukan konsolidasi di bidang kemiliteran dan pemerintahan secara intensif. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menangkis ancaman dari dalam dan luar negeri. Kaum elit militer ditempatkan pada kelompok elit politik dan jabatan-jabatan penting dipegang oleh angggota militer yang berprestasi. Ia memahami bahwa mayoritas masyarakatnya adalah Sunni. Mereka menginginkan kesultanannya mendapat pengesahan dari khalifah. Menyikapi hal itu, ia melakukan bai’at terhadap Al-Mustansir, yaitu seorang khalifah dari keturunan Abbasyah yang berhasil meloloskan diri ke Syria ketika Khulagu Khan meghancurkan Baghdad. Bai’at Baybar terhadap khalifah ternyata mendapat simpati penguasa Islam lainnya. Selain itu, Baybar juga mengikuti jejak Dinasti Ayyubiyah yaitu dengan cara menghidupkan madzhab Sunni dan dengan sendirinya ia mendapat simpati masyarakat Mesir yang mayoritas  Sunni.
            b. Bidang Ekonomi
     Kemajuan dalam bidang ekonomi yang berhasil dicapai oleh Dinasti Mamluk lebih besar diperoleh di sektor perdagangan dan pertanian. Di sektor perdagangan, pemerintahan Dinasti Mamluk memperluas hubungan dagang dengan Italia dan Prancis. Dalam sektor pertanian, pemerintahan Mamluk mengambil kebijaksanaan pasar bebas kepada petani. Artinya, petani diberi kebebasan untuk memasarkan sendiri hasil pertaniannya.[3]
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang berkembang pada Dinasti ini antara lain, muncul Ibnu Khalikan yang ahli dibidang sejarah, Nasir Ad-Diin Al-Tusi dalam bidang astronomi, Abu Al-Fraz Al-Gibri dalam bidang metematika, Dalam ilmu kedoteran bernama Ibnu Al-Nafis dan yang sangat terkenal adalah Ibnu Taimiyah yang ahli dibidang agama dengan berbagai pemikiranya dalam islam.
d. Bidang Arsitektur
Dengan pemerintahannya semakin kedepan, sultan-sultan Mamluk senantiasa menghiasi bangunannya dengan batu-batu benteng, batu kapur dan batu api yang diambil dari dataran tinggi mesir, salah satunya adalah Masjid As-Sultan di Mesir.
            3. Kemunduran Dinasti Mamluk Mesir
Faktor yang menyebabkan dinasti ini mengalami kemunduran dan kehancuran diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Terjadinya perebutan kekuasaan diantara para keluarga kerajaan.
b.      Adanya kemewahan dan korupsi dari para sultan yang berkuasa.
c.       Merosotnya perekonomian yang menyebabkan krisis di pemerintahan.
d.      Serangan dari kerajaan Turki Usmani.
B. Kerajaan Turki Usmani
1. Proses Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah mongol dan daerah utara negeri China. Dalam jangka waktu kira-kira 3 abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke 9/10 M. Ketika mereka menetap di Asia tengah pada abad ke-13 M, mereka mendapat serangan dan tekanan dari Mongol, akhirnya mereka melarikan diri ke Barat dan mencari tempat perlindungan di tengah-tengah saudara-saudaranya yaitu orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia kecil. Dibawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah, Bizantium dapat dikalahkan dan sultan Alaudin mendapat kemenangan. Sultan Alaudin memberi imbalan tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan  memilih kota Syukud sebagai ibukota.
Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, yaitu Usman. Usman memerintah antara tahun 1290 – 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan sultan Alaudin II terbunuh, dan akibatnya dinasti ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil. Dalam kondisi kehancuran Seljuk inilah Usman mengklaim kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut Usman I.[4]
            2. Kemajuan Kerajaan Turki Usmani
                  a.       Bidang Politik
Kesuksesan diantara sultan-sultan budak dalam memerintah di sekitar India, bukan hanya menghasilkan kontrol politik, tetapi juga sangat mewarnai dalam proses islamisasi. Salah satu cara yang dilakukan para penguasa untuk mengenalkan islam pada mereka adalah menterjemahakan teks-teks ke-islaman dengan jumlah kurang lebih 1500 buah dari bahasa Arab dan Persia ke dalam berbagai  bahasa lokal India.
b. Bidang Militer
Kerajaan Usmani dikenal mempunyai strategi politik yang jitu. Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer tidak hanya dalam bentuk mutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan keanggotaan. Bangsa-Bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan jenissari atau inkisyariah. Pasukan inilah yang mampu mengubah  Negara Usmani menjadi mesin perang yang sangat kuat. Kerajaan Turki Usmani pada masanya telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer.
c. Bidang Kebudayaan
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan antara kebudayaan Bizantium, Persia dan Arab. Karena bangsa Turki sangat mudah berasimilasi dengan budaya asing. Bahkan bahasa arab banyak dipakai di Asia Kecil yang mayoritas daerahnya dikuasai Turki. Seperti seni arsitektur, Turki Usmani banyak meninggalkan karya-karya agung berupa bangunan yang indah, seperti Mesjid Jami’ Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman dan Masjid Abu Ayyub al- Anshary dan masjid Aya Sophia yang dulu asalnya dari gereja St. Sophia, merupakan peninggalan arsitektur yang dikagumi sampai saat ini.
3. Kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemunduran kerajaan Turki utsmani ada dua bagian faktor internal dan faktor eksternal yaitu:
· Faktor internal
1. Luasnya wilayah kekuasaan dan semakin buruknya sistem pemerintahan
2. Heterogenitas penduduk dan agama
3. Kehidupan Sultan dan pemerintah yang bermegahan
4. Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang terus-menerus.
· Faktor Eksternal
1. Timbulnya gerakan nasionalisme dari berbagai negara yang telah dikuasai
2. Terjadinya kemajuan teknologi barat terutama dibidang persenjataan.[5]
C. Kerajaan Shafawi
1. Proses Berdirinya Kerajaan Shafawi
Kerajaan safawi berasal dari satu kelompok gerakan tarikat dikota Ardabil Azerbaijan. Tarikat ini diberi nama Safawiyah sesuai dengan nama pendirinya Shafi Ad-Din Ishak Al-Ardabily (1252-1334M). Ia adalah keutrunan Musa Al Kidzim Imam syiah keenam.
Tarekat yang dipimpin oleh Shafi Ad-Din beralih dari gerakan murni menjadi gerakan politik yang berpengaruh di Persia, Syiria dan Anatolia. Dan beliau menempatkan wakilnya di daerah-daerah dengan nama khalifah. Gerakan tersebut menjadi sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh Juned tahun (1447-1460M). Perluasan negaranya dengan menambah kegiatan politik dengan mengatas namakan kegiatan keagamaan yang beraliran Syiah.
            3. Kemajuan Kerajaan Shafawi
a. Bidang Politik
Terwujudnya integritas wilayah negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata tangguh dan diatur oleh pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan ditingkat internasional.
b. Bidang Ekonomi
Dikuasainya kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang di ubah menjadi bandar Abbas dan berjasa mengembangkan usaha perdagangan antara Eropa dan Timur, dan pertanian yang sangat maju.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa kerajaan Shafawi filsafat dan sains bangkit di dunia islam. Khususnya di kalangan orang-orang Persia yang berminat tinggi pada kebudayaan dan ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuan yang hidup pada masa ini antara lain: lahir Bahal Al Din Syaerozi dan Sadar Ad Din bin Syerozi seorang fisafat.
d. Bidang  Kesenian
Kota Isfahan menjadi kota yang indah. Ibu kota tersebut berdiri bangunan-bangunan seperti jembatan raksasa diatas Zenda Fud dan Istana Chihil Sutern dan sebagainya.
e.    Bidang Keagamaan dan Perkembangan Islam
Kerajaan Shafawi giat menyebarkan aliran Syiah. Sehingga kerajaan ini adalah dasar dari aliran Syiah Republik Islam Iran sampai sekarang ini.
4. Kemunduran Kerajaan Shafawi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemunduran kerajaan Shafawi:
a. Ketegangan dan konflik dengan pemerintahan Turki Usmani.
b. Keadaan para sultan yang lemah dan tidak efektif dalam memimpin.
c. Melemahnya semangat pasukan budak-budak yang pernah direkrut oleh Sultan Abbas I                    
d. Kemrosotan moral dalam lingkungan istana/kerajaan.
D. Dinasti Kesultanan Delhi
1. Proses berdirinya Dinasti Kesultanan Delhi
Jatuhnya Ghaznawiyah oleh salah satu kelompok penguasa pusat Abbasiyah, Saljuk, memberikan kesempatan pada salah  seorang Jendral Ghaznawi untuk tampil menyelamatkan wilayah-wilayah yang telah diwariskan kepadanya. Dia adalah Ghiyatsudin Muhammad dan Muizuddin Muhammad (dua bersaudara). Pada tahun 1192 M Muizuddin menggunakan budak-budak dari daerah Ghuri untuk melebarkan pengaruhnya dan masuk kota-kota Delhi dan Ajmar, dan sebab itulah ia dikenal sebagai panglima para Budak (Muhammad Ghuri).
Penaklukan-penaklukan yang dilakukan Muhammad Ghuri ke daerah-daerah Utara, tidak seperti tuannya, Muhammad Ghazna. Ia menempatkan militer di sana (Delhi) sebagai bangunan politik. Periode pemerintahan ini, tujuh panglima budak (sultan-sultan lokal)  memimpin daerah-daerah kekuasaannya silih berganti, bahkan tidak jarang untuk bertikai. Diantara sultan-sultan itu terdapat Alaudin Khalji (1296-1316 M), yang mengontrol secara luas daerah-daerah pusat dan Selatan India, Muhammad bin Tughluq (1325-1351 M) melanjutkan penaklukan ke daerah-daerah bagian pedalaman di Selatan India bergerak terus ke Devagilir.
2. Kemajuan Dinasti Kesultanan Delhi
a. Bidang Politik dan Ilmu Pengetahuan
Kesuksesan diantara sultan-sultan budak dalam memerintah di sekitar India, bukan hanya menghasilkan kontrol politik, tetapi juga sangat mewarnai dalam proses islamisasi. Salah satu cara yang dilakukan para penguasa untuk mengenalkan islam pada mereka adalah menterjemahakan teks-teks ke-islaman dengan jumlah kurang lebih 1500 buah dari bahasa Arab dan Persia ke dalam berbagai  bahasa lokal India.
b. Bidang Sosial dan Kemiliteran
Dalam hal tradisi militer, mereka membawa dasar-dasar karakter turki yaitu selalu mempertahankan kekuasaan (jabatan)  yang  mereka miliki dari serangan non Turki, baik penetap atau yang migrasi ke India, atau disebut juga gerakan “ Islam Politik Turki”. Sedangkan aspek administrasi politik dan bahasa komunikasi pemerintahan bahasa Persia, dan menjadikannya sebagai bahasa resmi di seluruh wilayah yang berada di bawah pemerintahan mereka.
3. Kemunduran Dinasti Kesultanan Delhi
Setelah periode Khalji dan Tughluq, kemudian dilanjutkan oleh keluarga Sayyid (1414-1451 M ) dan keluarga Lodi (1451-1512 M) kondisi kekuasaan islam di India mengalami kemunduran dan menunjukkan hal-hal yang sangat rumit, sekalipun sebelumnya memang rumit yakni bangkitnya pikiran lama yang percaya bahwa setiap kerajaan yang mereka ikuti adalah Khalifah di tengah-tengah  lingkungannya sendiri. Bahkan Ibrahim Lodi (1517-1526 M) dari keluarga besar Lodi, pewaris kesultanan budak (Delhi) yang terakhir mengalami berbagai kesulitan menegakkan kembali kewibawaan politiknya.
Atas dasar itu, Alam Khan dari keluarga Lodi yang lain mencoba menggulingkan dengan meminta bantuan Zahiruddin Babur (1482-1530 M) salah seorang cucu Timur Lenk dan penguasa Ferghana. Pemerintahan itu langsung diterima dan bersama pasukannya menyerang Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat di Panipat. Ibrahim Lodi beserta ribuan pasukannya terbunuh, dan Zahruddin Babur langsung mengikrarkan kemenangannya dan kemudian menegakkan dan kemudian menegakkan pemerintahannya. Dengan demikian, berdirilah kerajaan Mughal di India dan mengakhiri kesultanan Delhi.[6]
E. Kerajaan Mughal
1. Proses Berdirinya Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Kerajaan Safawi. Jadi, di antara tiga keajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda. Kerjaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al- Walid, dari dinasti Bani Umayah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qosim.
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibukota didirikan oleh Zaharuddin Babur (1482- 1530 M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza penguasa Ferghana. Babur mewarisi Ferghana dari ayahnya ketika berumur 11 Tahun. Pada tahun 1494 M, dia berhasil menduduki Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah dengan bantuan dari Raja Safawi, Ismail I. Kemudian di tahun 1504 M, Kota Kabul di Afghanistan berhasil diduduki.
Setelah Kabul berhasil ditaklukkan, Raja Babur melanjutkan ekspansinya ke India untuk melawan raja Ibrahim Lodi sebagai penguasa India. Karena terjadi krisis pemerintahan di India, hal ini menguntungkan pihak Babur. Dengan mengerahkan militernya akhirnya pada tahun 1525 M, berhasil menaklukkan Punjab dengan ibukotanya Lahore, dan di tahun 1526 M terjadilah pertempuran yang dahsyat antara pasukan Ibrahim dengan Babur di Panipat, Babur berhasil memasuki kota Delhi pada tanggal 21 April 1526, sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahan dengan mendirikan kerajaan Mughal di Delhi.
            2. Kemajuan Kerajaan Mughal
a. Bidang Politik dan Sosial
Puncak kejayaan kerajaan Mughal terjadi pada masa pemerintahan Putra Humayun, Akbar Khan (1556-1605 M). Sistem Pemerintahan Akbar adalah militeristik. Akbar berhasil memperluas wilayah sampai Kashmir dan Gujarat. Pejabatnya diwajibkan mengikuti latihan militer. Politik Akbar yang sangat terkenal dan berhasil menyatukan rakyatnya adalah Sulakhul atau toleransi universal. Dengan politik ini semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan etnis dan agamanya. Sehingga di masa Akbar, kerajaan tidak dijalankan dengan kekerasan, ia banyak menyatu dengan rakyat, bahkan rakyat dari berbagai agama tidak dipandangnya sebagai orang lain. Amir-amir dan sultan-sultan Islam yang selama ini berkuasa di daerahnya sendiri dengan cara kesewenang-wenangan bersama dengan para maharaja beragama Brahmana, berkat Akbar semuanya telah menjadi tiang-tiang bagi sebuah imperium Islam yang besar di Benua India.
 Di samping itu, pemerintahan tidak dipegangnya sendiri, tetapi diadakannya menteri-menteri. Kepada pemungut pajak diperintahkan dengan keras agar tidak memungut pajak dengan memaksa dan memeras. Di dalam persoalan agama, beliau sangat toleran dan bagi orang yang beragam Hindu dihormati oleh Akbar dan tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam. Dengan demikian, Akbar adalah seorang reformis Kerajaan Mughal yang telah menata pemerintahan dengan sistem yang lebih baik dibanding dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya. Di bidang agama, ia adalah sebagai tokoh moderat yang memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dengan adanya kebijakan seperti di atas, rakyat India sangat simpati kepadanya dan kehidupan sosial masyarakat saling hormat-menghormati serta senantiasa menjunjung tinggi toleransi.
      b. Bidang Ekonomi
Kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Di sektor pertanian, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil pertanian yang terpenting adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
b. Bidang Seni
ØKarya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India. Penyair yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi.
  ØKarya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan antara lain:
-  Istana Fatpur Sikri di Sikri, vila, dan Masjid-masjid yang indah.
- Pada masa Syah Jehan, di bangun masjid berlapiskan mutiara dan  Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore.[7]
3. Kemunduran Kerajaan Mughal
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal itu mundur dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M adalah:
1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan Mughal sendiri.
2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[8]

 III.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa dinasti atau kerajaan yang lahir pada abad pertengahan adalah kerajaan yang sangat besar pengaruhnya terhadap peradaban dan perkembangan dunia islam , karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah Dunia Islam mengalami kemunduran, tetapi dengan lahirnya berbagai dinasti dan kerajaan ini mampu mengubah sejarah peradaban islam yang luar biasa  dalam berbagai bidang terutama dalam bidang kebudayaan dan seni arsitektur dengan bangunannya yang sangat indah yang bisa kita lihat dan kita nikmati sampai sekarang ini.
Dari berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang kemajuan dan lahirnya kerajaan besar dunia islam di abad pertengahan  tersebut, maka sudah semestinya kita sebagai umat islam menjadikan hal tersebut sebagai motivasi bagi diri kita, karena sebagaimana kita ketahui bahwa dalam mendirikan dan mempertahankan serta membuat kemajuan di berbagai bidang dalam sebuah kerajaan memerlukan perjuangan yang sangat luar biasa.


B.     Saran
Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari para pembaca  demi kesempurnaan  pada penulisan makalah-makalah kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA
Thahir, Ajid. Pekembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2004.






[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 124.
[3] Ajid Thahir, Pekembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 129.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Isla,. (Jakarta: PT  Raja Grafindo Persada, 2004), hal.130.


[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2004), hal. 151.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

RIBA : BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH I.      PENDAHULUAN A.          Latar Belakan g Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia ...