PERADABAN ISLAM PADA PERIODE TENGAH
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejarah peradaban Islam di abad
pertengahan melahirkan banyak dinasti kecil seperti
dinasti Mamluk Mesir, dinasti kesultanan Delhi, dan tiga kerajaan besar yang lahir pada abad ini yaitu: Kerajaan
Turki Usmani di Turki, Kerajaan Shafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di
India. Di masa
kemajuan ketiga kerajaan tersebut mempunyai kejayaan masing-masing terutama
dalam bentuk literatur dan arsitektur. Masjid dan
gedung indah yang didirikan pada zaman ini masih dapat dilihat sampai saat ini.
Kemajuan umat Islam di
zaman ini lebih banyak merupakan warisan kemajuan periode klasik, dan perhatian
pada ilmu pengetahuan masih kurang bila dibandingkan dengan masa sebelumnya,
namun kemajuan umat Islam pada
abad ini menarik untuk dikaji, karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah
Dunia Islam mengalami kemunduran. Untuk
mengetahui tentang peradaban Islam
pada periode tengah, akan dijelaskan lebih lanjut
dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang
dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1)
Bagaimana peradaban Islam pada
masa dinasti Mamluk Mesir?
2)
Bagaimana peradaban Islam pada
masa kerajaan Turki Usmani?
3)
Bagaimana peradaban Islam pada
masa kerajaan Shafawi?
4)
Bagaimana peradaban Islam pada
masa dinasti Kesultanan Delhi?
5)
Bagaimana peradaban Islam pada
masa kerajaan Mughal?
II.
PEMBAHASAN
A.
Dinasti Mamluk Mesir
1.
Proses Berdirinya Dinasti Mamluk Mesir
Hampir setengah abad (1250-1517 M) Dinasti Mamluk
berkuasa di Mesir. Sebelum Dinasti Mamluk di Mesir ini berdiri, telah berdiri
dinasti Mamluk yang lain di India pada tahun 1206 M, dan berakhir di tahun 1280
M. Kebangkitan Dinasti Mamluk di Mesir berbarengan dengan runtuhnya kekuasaan
Islam di Baghdad dan mundurnya Islam di Spanyol. Hal ini menjadi
catatan yang akan selalu terukir oleh tinta sejarah. Nama lain dari Dinasti ini adalah
Daulat al-Atrak yang selanjutnya berekembang meliputi wilayah
kekuasaan Mesir dan Syria.[1]
Terbentuknya
dinasti Mamluk di Mesir tidak dapat dipisahkan dari dinasti
Ayyubiyah ketika terjadi perebutan kekuasaan antara al-Malik as-Shalih dan
al-Malik al-Kamil. Dalam
perebutan kekuasaan ini, para tentara yang berasal dari suku kurdi memihak
kepada al-Malik al-Kamil, sementara para budak yang tergabung dalam Mamluk
Bahri mendukung al-Malik as-Shalih. Dalam
perebutan kekuasaan ini, al-Malik as-Shalih mampu mengalahkan al-Malik
al-Kamil. Sejak saat
itulah kaum Mamluk mempunyai pengaruh besar dalam kemiliteran dan pemerintahan. Perhatian al-Malik as-Shalih begitu besar terhadap
kaum Mamluk sehingga banyak di antara mereka ditempatkan pada kelompok-kelompok
elit yang terpisah dari masyarakat
atau kelompok militer lainnya.
Al-Malik
as-Shalih meninggal pada tahun 1429 M setelah menderita sakit dan timbul
kekacauan-kekacauan di berbagai daerah. Kematian as-Shalih dirahasiakan isterinya (Syajarat
al-Dur), kemudian putera mahkota as-Shalih yang bernama Turansyah memegang
tampuk kekuasaan. Namun, kaum
Mamluk Bahri menganggap bahwa Turansyah bukan orang yang dekat dengan mereka. Selain itu Turansyah juga menguasai seluk beluk Mesir secara keseluruhan. Setelah itu diangkatlah
Syajarat al-Dur sebagai sultan mereka, dan sinilah awal terbentuknya dinasti
Mamluk di Mesir yang dipimpin oleh seorang budak dan berakhirlah dinasi
Ayubiyyah menguasai mesir.[2]
2.
Kemajuan Dinasti Mamluk Mesir
a. Bidang Politik dan pemerintah
Baybar melakukan
konsolidasi di bidang kemiliteran dan pemerintahan secara intensif. Hal ini
dilakukan bertujuan untuk menangkis ancaman dari dalam dan luar negeri. Kaum
elit militer ditempatkan pada kelompok elit politik dan jabatan-jabatan penting
dipegang oleh angggota militer yang berprestasi. Ia memahami bahwa mayoritas
masyarakatnya adalah Sunni. Mereka menginginkan kesultanannya mendapat pengesahan
dari khalifah. Menyikapi hal itu, ia melakukan bai’at terhadap Al-Mustansir,
yaitu seorang khalifah dari keturunan Abbasyah yang berhasil meloloskan diri ke
Syria ketika Khulagu Khan meghancurkan Baghdad. Bai’at Baybar terhadap khalifah ternyata mendapat simpati
penguasa Islam lainnya. Selain itu, Baybar juga mengikuti jejak Dinasti
Ayyubiyah yaitu dengan cara menghidupkan madzhab Sunni dan dengan sendirinya ia
mendapat simpati masyarakat Mesir yang mayoritas Sunni.
b.
Bidang Ekonomi
Kemajuan
dalam bidang ekonomi yang berhasil dicapai oleh Dinasti Mamluk lebih besar
diperoleh di sektor perdagangan dan pertanian. Di sektor perdagangan, pemerintahan Dinasti Mamluk memperluas
hubungan dagang dengan Italia dan Prancis. Dalam sektor pertanian,
pemerintahan Mamluk mengambil
kebijaksanaan pasar bebas kepada petani. Artinya, petani diberi kebebasan untuk memasarkan sendiri hasil
pertaniannya.[3]
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu
pengetahuan yang berkembang pada Dinasti ini antara lain, muncul Ibnu Khalikan
yang ahli dibidang sejarah, Nasir Ad-Diin Al-Tusi dalam bidang astronomi, Abu
Al-Fraz Al-Gibri dalam bidang metematika, Dalam ilmu kedoteran bernama Ibnu Al-Nafis dan yang
sangat terkenal adalah Ibnu Taimiyah yang ahli dibidang agama dengan berbagai
pemikiranya dalam islam.
d. Bidang Arsitektur
Dengan pemerintahannya semakin
kedepan, sultan-sultan Mamluk senantiasa menghiasi bangunannya dengan batu-batu benteng, batu kapur dan batu api
yang diambil dari dataran tinggi mesir, salah satunya adalah Masjid As-Sultan
di Mesir.
3. Kemunduran Dinasti
Mamluk Mesir
Faktor yang menyebabkan dinasti ini mengalami
kemunduran dan kehancuran diantaranya adalah sebagai berikut:
a.
Terjadinya perebutan kekuasaan diantara para
keluarga kerajaan.
b.
Adanya kemewahan dan korupsi dari para sultan yang berkuasa.
c.
Merosotnya perekonomian yang menyebabkan krisis di pemerintahan.
d.
Serangan dari kerajaan Turki Usmani.
B. Kerajaan Turki Usmani
1. Proses Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami
daerah mongol dan daerah utara negeri China. Dalam jangka waktu kira-kira 3
abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam
sekitar abad ke 9/10 M. Ketika mereka menetap di Asia tengah pada abad ke-13 M,
mereka mendapat serangan dan tekanan dari Mongol, akhirnya mereka melarikan
diri ke Barat dan mencari tempat perlindungan di tengah-tengah
saudara-saudaranya yaitu orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia
kecil. Dibawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan
Alaudin II yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan
mereka inilah, Bizantium dapat dikalahkan dan sultan Alaudin mendapat kemenangan. Sultan
Alaudin memberi imbalan tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium.
Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud
sebagai ibukota.
Ertoghrul meninggal
dunia tahun 1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, yaitu Usman. Usman
memerintah antara tahun 1290 – 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa
kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng
Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol
menyerang kerajaan Seljuk dan sultan Alaudin II terbunuh, dan akibatnya dinasti
ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil. Dalam kondisi kehancuran
Seljuk inilah Usman mengklaim kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang
didudukinya sekaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani.
Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut Usman I.[4]
2. Kemajuan Kerajaan Turki
Usmani
a.
Bidang Politik
Kesuksesan diantara sultan-sultan
budak dalam memerintah di sekitar India, bukan hanya menghasilkan kontrol
politik, tetapi juga sangat mewarnai dalam proses islamisasi. Salah satu cara
yang dilakukan para penguasa untuk mengenalkan islam pada mereka adalah
menterjemahakan teks-teks ke-islaman dengan jumlah kurang lebih 1500 buah dari
bahasa Arab dan Persia ke dalam berbagai bahasa lokal India.
b. Bidang Militer
Kerajaan Usmani dikenal mempunyai strategi politik
yang jitu. Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer tidak hanya dalam bentuk
mutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan keanggotaan.
Bangsa-Bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen
yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan
prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer
baru yang disebut pasukan jenissari atau inkisyariah. Pasukan inilah yang mampu
mengubah Negara Usmani menjadi mesin perang
yang sangat kuat. Kerajaan Turki Usmani pada masanya telah jauh meninggalkan
negara-negara Eropa di bidang militer.
c.
Bidang Kebudayaan
Kebudayaan Turki Usmani
merupakan perpaduan antara kebudayaan Bizantium, Persia dan Arab. Karena bangsa
Turki sangat mudah berasimilasi dengan budaya asing. Bahkan bahasa arab banyak
dipakai di Asia Kecil yang mayoritas daerahnya dikuasai Turki. Seperti seni
arsitektur, Turki Usmani banyak meninggalkan karya-karya agung berupa bangunan
yang indah, seperti Mesjid Jami’ Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman dan
Masjid Abu Ayyub al- Anshary dan masjid Aya Sophia yang dulu asalnya dari
gereja St. Sophia, merupakan peninggalan arsitektur yang dikagumi sampai saat
ini.
3.
Kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kemunduran kerajaan Turki utsmani ada dua bagian faktor internal
dan faktor eksternal yaitu:
· Faktor internal
1. Luasnya wilayah
kekuasaan dan semakin buruknya sistem pemerintahan
2.
Heterogenitas penduduk dan agama
3. Kehidupan Sultan dan pemerintah yang bermegahan
4. Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang terus-menerus.
· Faktor Eksternal
1. Timbulnya gerakan
nasionalisme dari berbagai negara yang telah dikuasai
C. Kerajaan Shafawi
1. Proses Berdirinya Kerajaan Shafawi
Kerajaan safawi berasal
dari satu kelompok gerakan tarikat dikota Ardabil Azerbaijan. Tarikat ini
diberi nama Safawiyah sesuai dengan nama pendirinya Shafi Ad-Din Ishak
Al-Ardabily (1252-1334M). Ia adalah keutrunan Musa Al Kidzim Imam syiah keenam.
Tarekat yang dipimpin
oleh Shafi Ad-Din beralih dari gerakan murni menjadi gerakan politik yang
berpengaruh di Persia, Syiria dan Anatolia. Dan beliau menempatkan wakilnya di
daerah-daerah dengan nama khalifah. Gerakan tersebut menjadi sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh Juned tahun
(1447-1460M). Perluasan negaranya dengan menambah kegiatan politik dengan
mengatas namakan kegiatan keagamaan yang beraliran Syiah.
3. Kemajuan Kerajaan Shafawi
a. Bidang Politik
Terwujudnya integritas wilayah negara yang luas yang
dikawal oleh suatu angkatan
bersenjata tangguh dan diatur oleh pemerintahan yang kuat, serta mampu
memainkan ditingkat internasional.
b. Bidang Ekonomi
Dikuasainya kepulauan Hurmuz dan pelabuhan
Gumrun yang di ubah menjadi bandar Abbas dan berjasa
mengembangkan usaha perdagangan antara Eropa dan Timur, dan pertanian yang
sangat maju.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan
Pada masa kerajaan Shafawi filsafat dan sains bangkit
di dunia islam. Khususnya di kalangan orang-orang Persia yang berminat tinggi
pada kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Beberapa ilmuan yang hidup pada
masa ini antara lain: lahir Bahal Al Din Syaerozi dan Sadar Ad Din bin Syerozi
seorang fisafat.
d. Bidang Kesenian
Kota Isfahan
menjadi kota yang indah. Ibu kota tersebut
berdiri bangunan-bangunan seperti jembatan raksasa diatas Zenda Fud dan Istana
Chihil Sutern dan sebagainya.
e.
Bidang Keagamaan dan Perkembangan Islam
Kerajaan
Shafawi giat menyebarkan aliran Syiah. Sehingga kerajaan ini adalah dasar dari
aliran Syiah Republik Islam Iran sampai sekarang ini.
4. Kemunduran
Kerajaan Shafawi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemunduran kerajaan Shafawi:
a. Ketegangan dan konflik dengan pemerintahan Turki
Usmani.
b. Keadaan para sultan yang lemah dan tidak efektif
dalam memimpin.
c. Melemahnya semangat pasukan budak-budak yang pernah
direkrut oleh Sultan Abbas
I
d. Kemrosotan moral dalam lingkungan istana/kerajaan.
D.
Dinasti Kesultanan Delhi
1. Proses berdirinya Dinasti Kesultanan Delhi
Jatuhnya Ghaznawiyah oleh salah satu
kelompok penguasa pusat Abbasiyah, Saljuk, memberikan kesempatan pada
salah seorang Jendral Ghaznawi untuk tampil menyelamatkan wilayah-wilayah
yang telah diwariskan kepadanya. Dia adalah Ghiyatsudin Muhammad dan Muizuddin
Muhammad (dua bersaudara). Pada tahun 1192 M Muizuddin menggunakan budak-budak
dari daerah Ghuri untuk melebarkan pengaruhnya dan masuk kota-kota Delhi dan
Ajmar, dan sebab itulah ia dikenal sebagai panglima para Budak (Muhammad
Ghuri).
Penaklukan-penaklukan yang dilakukan
Muhammad Ghuri ke daerah-daerah Utara, tidak seperti tuannya, Muhammad
Ghazna. Ia menempatkan militer di sana (Delhi) sebagai bangunan politik.
Periode pemerintahan ini, tujuh panglima budak (sultan-sultan lokal)
memimpin daerah-daerah kekuasaannya silih berganti, bahkan tidak jarang untuk
bertikai. Diantara sultan-sultan itu terdapat Alaudin Khalji (1296-1316 M),
yang mengontrol secara luas daerah-daerah pusat dan Selatan India, Muhammad bin
Tughluq (1325-1351 M) melanjutkan penaklukan ke daerah-daerah bagian pedalaman
di Selatan India bergerak terus ke Devagilir.
2. Kemajuan Dinasti Kesultanan Delhi
a. Bidang Politik dan Ilmu Pengetahuan
Kesuksesan diantara sultan-sultan budak dalam memerintah di sekitar India,
bukan hanya menghasilkan kontrol politik, tetapi juga sangat mewarnai dalam
proses islamisasi. Salah satu cara yang dilakukan para penguasa untuk
mengenalkan islam pada mereka adalah menterjemahakan teks-teks ke-islaman
dengan jumlah kurang lebih 1500 buah dari bahasa Arab dan Persia ke dalam
berbagai bahasa lokal India.
b. Bidang Sosial dan Kemiliteran
Dalam hal tradisi militer, mereka
membawa dasar-dasar karakter turki yaitu selalu mempertahankan kekuasaan
(jabatan) yang mereka miliki dari serangan non Turki, baik penetap
atau yang migrasi ke India, atau disebut juga gerakan “ Islam Politik Turki”.
Sedangkan aspek administrasi politik dan bahasa komunikasi
pemerintahan bahasa Persia, dan menjadikannya sebagai bahasa resmi di seluruh
wilayah yang berada di bawah pemerintahan mereka.
3. Kemunduran Dinasti Kesultanan Delhi
Setelah periode Khalji dan Tughluq, kemudian dilanjutkan oleh keluarga
Sayyid (1414-1451 M ) dan keluarga Lodi (1451-1512 M) kondisi kekuasaan islam
di India mengalami kemunduran dan menunjukkan hal-hal yang sangat rumit,
sekalipun sebelumnya memang rumit yakni bangkitnya pikiran lama yang percaya bahwa
setiap kerajaan yang mereka ikuti adalah Khalifah di tengah-tengah lingkungannya
sendiri. Bahkan Ibrahim Lodi (1517-1526 M) dari keluarga besar Lodi, pewaris
kesultanan budak (Delhi) yang terakhir mengalami berbagai kesulitan menegakkan
kembali kewibawaan politiknya.
Atas dasar itu, Alam Khan dari keluarga Lodi yang lain mencoba
menggulingkan dengan meminta bantuan Zahiruddin Babur (1482-1530 M) salah
seorang cucu Timur Lenk dan penguasa Ferghana. Pemerintahan itu langsung
diterima dan bersama pasukannya menyerang Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M terjadilah
pertempuran yang sangat dahsyat di Panipat. Ibrahim Lodi beserta ribuan pasukannya terbunuh,
dan Zahruddin Babur langsung mengikrarkan kemenangannya dan kemudian menegakkan
dan kemudian menegakkan pemerintahannya. Dengan demikian, berdirilah kerajaan
Mughal di India dan mengakhiri kesultanan Delhi.[6]
E. Kerajaan
Mughal
1. Proses Berdirinya Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya Kerajaan Safawi.
Jadi, di antara tiga keajaan besar Islam tersebut kerajaan inilah yang termuda.
Kerjaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak Benua India. Awal
kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al- Walid, dari
dinasti Bani Umayah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayah
di bawah pimpinan Muhammad ibn Qosim.
Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibukota didirikan oleh
Zaharuddin Babur (1482- 1530 M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya
bernama Umar Mirza penguasa Ferghana. Babur mewarisi Ferghana dari ayahnya
ketika berumur 11 Tahun. Pada tahun 1494 M, dia berhasil menduduki Samarkand
yang menjadi kota penting di Asia Tengah dengan bantuan dari Raja Safawi,
Ismail I. Kemudian di tahun 1504 M, Kota Kabul di Afghanistan berhasil
diduduki.
Setelah Kabul berhasil ditaklukkan, Raja Babur melanjutkan ekspansinya ke
India untuk melawan raja Ibrahim Lodi sebagai penguasa India. Karena terjadi
krisis pemerintahan di India, hal ini menguntungkan pihak Babur. Dengan
mengerahkan militernya akhirnya pada tahun 1525 M, berhasil menaklukkan Punjab
dengan ibukotanya Lahore, dan di tahun 1526 M terjadilah pertempuran yang
dahsyat antara pasukan Ibrahim dengan Babur di Panipat, Babur berhasil memasuki
kota Delhi pada tanggal 21 April 1526, sebagai pemenang dan menegakkan
pemerintahan dengan mendirikan kerajaan Mughal di Delhi.
2. Kemajuan Kerajaan Mughal
a. Bidang Politik dan
Sosial
Puncak
kejayaan kerajaan Mughal terjadi pada masa pemerintahan Putra Humayun, Akbar
Khan (1556-1605 M). Sistem Pemerintahan Akbar adalah militeristik. Akbar berhasil
memperluas wilayah sampai Kashmir dan Gujarat. Pejabatnya diwajibkan mengikuti
latihan militer. Politik Akbar yang sangat terkenal dan berhasil menyatukan
rakyatnya adalah Sulakhul atau toleransi universal. Dengan politik ini
semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan etnis dan agamanya.
Sehingga di masa Akbar, kerajaan tidak dijalankan dengan kekerasan, ia banyak
menyatu dengan rakyat, bahkan rakyat dari berbagai agama tidak dipandangnya
sebagai orang lain. Amir-amir dan sultan-sultan Islam yang selama ini berkuasa
di daerahnya sendiri dengan cara kesewenang-wenangan bersama dengan para
maharaja beragama Brahmana, berkat Akbar semuanya telah menjadi tiang-tiang
bagi sebuah imperium Islam yang besar di Benua India.
Di samping itu, pemerintahan tidak dipegangnya
sendiri, tetapi diadakannya menteri-menteri. Kepada pemungut pajak
diperintahkan dengan keras agar tidak memungut pajak dengan memaksa dan
memeras. Di dalam persoalan agama, beliau sangat toleran dan bagi orang yang
beragam Hindu dihormati oleh Akbar dan tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam.
Dengan demikian, Akbar adalah seorang reformis Kerajaan Mughal yang telah
menata pemerintahan dengan sistem yang lebih baik dibanding dengan
kerajaan-kerajaan sebelumnya. Di bidang agama, ia adalah sebagai tokoh moderat
yang memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk melaksanakan ibadah sesuai
dengan keyakinannya masing-masing. Dengan adanya kebijakan seperti di atas,
rakyat India sangat simpati kepadanya dan kehidupan sosial masyarakat saling
hormat-menghormati serta senantiasa menjunjung tinggi toleransi.
b. Bidang
Ekonomi
Kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian,
pertambangan, dan perdagangan. Di sektor pertanian, komunikasi antara
pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil pertanian yang terpenting
adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau,
kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
b. Bidang Seni
ØKarya seni yang menonjol adalah
karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India.
Penyair yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi.
ØKarya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan
antara lain:
- Istana Fatpur Sikri di Sikri, vila,
dan Masjid-masjid yang indah.
- Pada masa
Syah Jehan, di bangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra,
Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore.[7]
3. Kemunduran
Kerajaan Mughal
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan
kekuasaan dinasti mughal itu mundur dan
membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M adalah:
1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer
sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera
dipantau oleh kekuatan maritime Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat.
Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan Mughal
sendiri.
2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit
politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam
melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik
antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir
adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[8]
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka
dapat dipahami bahwa dinasti atau kerajaan yang lahir pada abad pertengahan adalah kerajaan yang sangat besar
pengaruhnya terhadap peradaban dan perkembangan dunia islam , karena kemajuan
pada masa ini terwujud setelah Dunia Islam mengalami kemunduran, tetapi dengan
lahirnya berbagai dinasti dan kerajaan ini mampu
mengubah sejarah peradaban islam yang luar biasa dalam berbagai bidang terutama dalam bidang kebudayaan dan
seni arsitektur dengan bangunannya yang sangat indah yang bisa kita lihat dan
kita nikmati sampai sekarang ini.
Dari berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang
kemajuan dan lahirnya kerajaan besar dunia islam di abad pertengahan
tersebut, maka sudah semestinya kita sebagai umat islam
menjadikan hal tersebut sebagai motivasi bagi diri kita, karena sebagaimana kita ketahui bahwa dalam
mendirikan dan mempertahankan serta membuat kemajuan di berbagai bidang dalam
sebuah kerajaan memerlukan perjuangan yang sangat luar biasa.
B.
Saran
Penulis menyadari banyak terdapat
kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan saran dari
para pembaca demi kesempurnaan pada penulisan makalah-makalah kami
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Http://brian-ripman.blogspot.co.id/2012/10/dinasti-mamluk-mesir-kerajaan-turki_16.html di akses tanggal 02/12/15
Http://wardahcheche.blogspot.co.id/2013/05/tiga-kerajaan-islam.html di akses tanggal 02/12/15
Thahir, Ajid. Pekembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004.
Yatim, Badri. Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 2004.
[1] http://jhonisamual.blogspot.co.id/2015/04/makalah-peradaban-islam-pada-masa.html di akses tanggal 02/12/15
[3] Ajid Thahir, Pekembangan Peradaban Di Kawasan Dunia
Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 129.
[5] http://brian-ripman.blogspot.co.id/2012/10/dinasti-mamluk-mesir-kerajaan-turki_16.html di akses tanggal 02/12/15
[6] http://brian-ripman.blogspot.co.id/2012/10/dinasti-mamluk-mesir-kerajaan-turki_16.html di akses tanggal 02/12/15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar